
Butuh waktu setidaknya 5 jam perjalanan untuk sampai di pulau Wanalulu. Sesampainya di lobby resort mereka bertemu dengan peserta lomba lainnya. Di saat mereka di bagikan kunci kamar, Daniel menolak dan justru mengganti kamar mereka menjadi kelas suite. Hal itu membuat para panitia lomba kebingungan. Berkali-kali meyakinkan Daniel untuk tetap di kamar yang sudah di sediakan untuk memudahkan namun dengan angkuh Daniel menolak permintaan para panitia lomba itu.
Apartemen Ara saja di robohkan, apalagi hanya menyewa kamar suite di Wanalulu..itu benar-benar mudah untuk Daniel.
"Daniel, jika kau tak mau tinggal di sana maka aku saja yang tidur di sana dengan Brandon! lagipula akan sangat aneh kalau aku tidur denganmu dalam satu kamar" Ujar Ara yang tiba-tiba merasakan perasaan aneh saat mengucapkan kata-kata barusan. Jangankan Ara, Danielpun merasakan hal yang sama
Untuk kedua kalinya ia mendengarkan perkataan yang sama. Sudah 3 tahun lebih akhirnya kata-kata itu ia dengar lagi dari mulut Ara.
"Ara, ayolah.. jangan bercanda! lihat ini apa?" Daniel mengangkat sebuah buku merah di tangannya tepat di depan mata Ara. Itu adalah buku nikah mereka. Ara menghela napas dan menepis buku itu dengan tangannya.
"Buku itu untuk saat ini tak berguna, kita bagaikan orang asing yang terjebak dalam hubungan rumit karena Brandon dan masalah keluarga ku. Untuk sementara ini aku bahkan tak ingat bagaimana bisa mencintaimu dulu" Ujar Ara tanpa memperdulikan ada salah satu panitia acara yang berada di dekat mereka.
"Tuhan benar-benar sedang membuat lelucon aneh padaku, masa aku harus mengulang lagi usahaku bertahun-tahun lalu hanya untuk tidur dengan istri sendiri?rasanya seperti Dejavu" batin Daniel.
"Maaf Pak, berikan saja kuncinya padaku. Aku akan menginap di sana"
"Baiklah, terimakasih Nyonya" Pria itu segera memberikan kunci pada Ara kemudian pergi.
Melihat kelakuan Ara, Daniel pun geram. Dengan cepat ia merebut kunci di tangan Ara. Ara melotot dan berusaha mengambil kunci itu dari tangan Daniel. Sambil tertawa Daniel justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Jika kau bisa ambil maka akan ku biarkan kau dan Brandon tidur di kamar itu" Seru Daniel tertawa senang, mana mungkin Ara bisa mengambil kunci itu darinya, tinggi Daniel dan Ara saja sudah jauh berbeda. Dari kejauhan Liam Gu memperhatikan Daniel, kemudian ia mendekati Daniel dan Ara.
"Tuan Daniel Qin?"
Seketika Daniel dan Ara menoleh pada Liam, Daniel menoleh dengan wajah aneh. Ia merasa tak mengenal pria di depannya ini.
Daniel, "......"
"Aku yakin anda lupa, aku Liam Gu. Aku pemilik Falso butik di kota A, kita pernah bertemu saat kau dan nona Windy membeli beberapa baju dari tokoku" seru Liam dengan sangat enteng seakan mengabaikan Ara yang sedang berdiri di samping Daniel, "Lalu bagaimana kabar nona Windy sekarang, Tuan?" , Cintya melihat ekspresi tidak enak dari Daniel mencoba memegang lengan suaminya.
"Ah Ara, kebetulan sekali ya kita bertemu di sini, apa kau ikut lomba ini juga?" Cintya mencoba mengalihkan pembicaraan dan melirik ke arah suaminya dengan ketus.
Daniel sedikit melirik ke arah Ara, mencoba menebak ekspresinya sekarang.
Ara sedikit banyak mencari tahu tentang berita-berita masa lalu Daniel dengan Windy. Bagaimanapun Windy dan dia tak bisa di samakan. Dari ujung kepala hingga kaki, Windy lebih sempurna di banding dirinya. Sampai sekarang pun ia masih tidak percaya wanita sesempurna itu di tolak oleh Daniel.
"Ya kebetulan sekali ya, benar kami juga ikut lomba ini" seru Ara
"Kalau tidak salah bukankah suami nona Ara adalah seorang dokter, lalu bagaimana bisa mengikuti lomba ini dengan Tuan Daniel?!" sekali lagi Liam mencoba memprovokasi Daniel.
Mendengar ucapan Liam barusan, Cintya rasanya ingin sekali melemparkan suaminya ke tengah laut. Meskipun Cintya tak tahu banyak tentang Daniel, namun ia kenal dengan Ara, Ara adalah bagian dari keluarga Li. Menyinggungnya sama dengan menyinggung keluarga Li dan Meira adalah pelanggan paling Royal di butik miliknya.
"Apakah Falso butik belakangan ini sepi pelanggan Tuan Gu?apakah ingin aku bantu membuatmu tiba-tiba sibuk memikirkan butikmu? " Ujar Daniel sangat dingin sampai membuat Cintya merinding. Kalau sampai terjadi apa-apa pada butik keluarganya maka habislah, namun berbeda dengan Cintya, Liam sepertinya masih tenang-tenang saja, seperti tak menyadari Daniel bisa dengan mudah menghancurkan usaha miliknya. Sama seperti perusahaan Wingsley yang sampai hari ini masih mencoba membangun lagi perusahaannya yang sempat luluh lantah.
"Oke, Deal" jawab Daniel tanpa berpikir. Ara dan Cintya yang berada di sana langsung saling menatap heran.
Ara menoleh seketika pada Daniel dengan menyatukan alisnya, "Daniel, kau gila? 2 milyar itu banyak! bagaimana jika kau kalah?!" Bisik Ara dengan suara rendah. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana dengan mudah pria ini menyetujui tantangan Liam?"
"Jika kalah ya berikan saja uangnya!" Daniel terkekeh ringan, ia merasa senang melihat wajah cemas Ara.
"Kau itu bodoh atau sudah gila Daniel!" Ara melengos benar-benar kesal melihat pria ini, bahkan total hadiah perlombaan ini tak ada seperempat dari nilai taruhan mereka.
"Tuan Gu, aku rasa ini berlebihan, bukankah kita kesini untuk bersenang-senang?" seru Ara mencoba merubah pikiran bodoh mereka.
"Benar.. benar yang di katakan Ara, kita kesini untuk bersenang-senang, untuk apa bertaruh sebanyak itu"
"Kenapa? nyonya Gu terlihat takut? " Daniel tertawa sinis.
"Abaikan istriku Daniel, ini permainan antar pria, sebaiknya para istri tidak perlu ikut campur" ujar Liam kemudian merangkul Daniel seakan mereka dekat.
"Maaf, sepertinya kita tak sedekat itu,Tuan Gu" Daniel menaikan satu alisnya dan menepis tangan Liam dengan dingin. Ada rasa kesal dari wajah Liam setelah Daniel berbicara seperti barusan, rasanya pasti kesal di tolak oleh Daniel.
"Sudah,sudah sebaiknya kita kembali saja ke kamar Oke?" Melihat aura mencekam dari wajah Daniel, Ara berusaha mengalihkan perhatian Daniel.
"Ah, ya benar Ara.. kita sebaiknya kembali ke kamar masing-masing" Cintya menimpali sambil tersenyum pahit pada Ara, memberi kode untuk segera mengakhiri pembicaraan aneh dua orang pria di depan mereka ini.
Dengan cepat, Ara menarik tangan Daniel menjauh dari Liam dan Cintya, sampai kamar. Membuka pintu kamar, Ara sempat tertegun melihat keindahan kamar Suite itu. Kamar Suite yang dipesan Daniel, memiliki 2 kamar utama, kamar dengan 1 single bed yang di tempati Brandon dan King size bed dikamar lainnya. Sebuah kamar mandi mewah menghadap ke pantai dan View balkon dengan tangga turun untuk bisa berenang di laut Wanalulu, View yang di suguhkan juga adalah view utama yang paling indah di pulau itu.
Daniel meninggalkan Ara mengelilingi menikmati kamar mereka dan Daniel merebahkan Brandon ke atas tempat tidur, jagoannya itu tertidur di dalam gendongan Daniel sejak turun dari pesawat. Setelah itu, Daniel mendekati kamar dimana Ara berada, ia terlihat masih menekuk wajahnya sambil merapikan baju untuk diletakkan di lemari.
Perlahan tangannya melingkar di pinggang Ara membuat wanita itu kaget dan mundur beberapa langkah.
"Daniel, apa yang kau lakukan?"
"Melakukan apa? begini?" Daniel mengulangi gerakan tangannya menyeret pinggang Ara masuk ke dalam pelukannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti meter,sangat dekat,"Jangankan memeluk mu seperti ini, melakukan yang lebih dari itu pun sudah sering Ara, kau saja yang tidak ingat" ujar Daniel berusaha menggoda Ara, wajah Ara mendadak semerah tomat.
"Daniel lepaskan! kalau tidak.... "
"Kalau tidak apa??" Daniel menyela ucapan Ara, Ara semakin gugup.
"Kalau tidak.. aku... " belum sempat melanjutkan ucapannya bibir Daniel sudah menempel di bibir Ara untuk beberapa saat. Daniel hampir tak bisa menahan hasratnya, sudah 3 tahun ia merindukan istrinya itu, Namun ketika ciuman Daniel semakin intens dan dalam, Ara dengan cepat mendorong tubuh pria itu untuk melepaskan ciumannya. Ara menatap Daniel dingin,
"2 tahun aku tak ada dan kau sempat hampir bertunangan dengan Windy, apa kau juga begini dengan Windy mu itu?"