Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 101: Bermain dengan hati



Setelah Daniel dan Ara pergi, Elly dengan gila memesan banyak gelas bir untuk di habiskan malam itu. Tritan yang berada di sampingnya sampai bingung kenapa gadis di sampingnya ini tiba-tiba seperti kesal sepeninggal Ara.


"Bukankah harusnya dia senang bertemu sahabatnya? lalu kenapa dia lebih terlihat emosional?" batin Tritan menatap Elly bingung.


"Tritan! kau bagaimana, kau minta kita merayakan, lalu kenapa kau tak banyak minum? ayo minum yang banyak!" seru Elly sambil menuangkan sebotol bir ke dalam gelas Tritan. Tritan segera merebut botol itu hingga air di dalamnya tumpah. Elly yang sudah setengah mabuk itu segera melotot ke arah Tritan.


"Elly, hentikan! kenapa kau malah jadi seperti ini? bukankah harusnya kau senang bertemu Ara? lalu kenapa kau justru malah terlihat putus asa?" Tritan memandang Elly dengan wajah kesal, Elly di sampingnya justru tersenyum kemudian tiba-tiba menangis dan memeluk Tritan.


"E... Elly, kau sebenarnya kenapa? ada apa dengamu?


" Tritan, aku sebenarnya adalah yang...... huuueeeekkkk" Tritan sudah bersiap-siap dengan serius mendengarkan apa yang akan di katakan Elly, ia pikir ia akan menceritakan rahasianya tapi tak di sangka belum sempat Elly menyelesaikan ucapannya, ia justru sudah mendapatkan "Jackpot" dari Elly. Elly memuntahkan hampir semua isi lambungnya, baju mereka seketika terlihat sangat menjijikkan. Bahkan Tritan hampir di buat ikut muntah menghirup aroma jackpot Elly.


"Elllyyy aaaaagh siall!!" pekik Tritan sangat kesal pada Elly, Elly yang mabuk mendengar ucapan kesal Tritan justru tertawa senang.


"Siapa suruh kau dekat-dekat dengan ku? sekarang rasakan! haha" ujar Elly tertawa kecil.


Dengan cepat, Tritan membopong gadis itu masuk ke dalam mobil dan membawanya ke villa keluarga Hong.


Sesampainya di rumah, paman Zang menyambut Tritan yang masuk membopong seorang gadis cantik yang tengah mabuk.


"Paman, apakah Daniel sudah pulang?" tanya Tritan sambil berjalan menuju kamarnya.


"Belum,Tuan muda "


"Baiklah, siapkan baju ganti untuk nona ini dan antar ke kamarku segera"


"Baik, Tuan muda"


Tritan kemudian dengan cepat masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan Elly di atas ranjang empuk miliknya.


Di antara mereka berdua, yang paling banyak terkena muntahan Elly adalah tentu saja pakaian Tritan. Setelah merebahkan Elly di atas ranjang, Tritan segera membuka kemejanya yang basah karena terkena muntahan Elly dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia keluar mengenakan jubah tidurnya dan terdengar pintu di ketuk dari luar. Tritan segera membuka pintu nya dan melihat paman Zang membawa sebuah kantung berisi baju ganti untuk Elly.


"Hei Elly, apa yang sebenarnya kau sembunyikan itu? apakah ada hubungannya dengan Ara dan 2 tahun lalu? kenapa kau bisa se emosional itu?," Seru Tritan sambil membelai lembut rambut yang menutupi wajah gadis di depannya itu. Saat ini, Tritan seperti sedang melihat wajah Elly saat pertama kali mereka bertemu di TopHill kala itu. Elly sekarang jauh berbeda dengan Elly 2 tahun lalu. Elly yang pertama kali ia lihat di lift kala itu adalah Elly yang masih berpenampilan lugu terlihat sekali ia baru datang dari kota kecil. Sekarang hanya dalam waktu 2 tahun, Elly bisa berubah sangat drastis. Penampilannya, cara bicaranya, semua dari dirinya berubah menjadi lebih berkelas dan elegan, ia berubah menjadi tipe yang di sukai Tritan. Namun sekarang, ia kembali melihat Elly yang lugu sama seperti dia tahun lalu. Ia terlihat seperti memiliki beban ketika ia tidur bak seekor kelinci putih kecil.


Perlahan-lahan, Tritan membuka kancing blouse berwarna pastel yang di kenakan Elly. Tangan Tritan bergetar dan perasaan ragu menyelimuti dirinya saat ini. Seharusnya, ia merasa biasa saja melakukan hal ini, bukankah ia sudah sangat sering bahkan tak terhitung membuka baju gadis-gadis cantik yang biasa temui di bar? lalu kenapa membuka baju Elly tangannya sampai gemetar? Akhirnya Tritan menghentikan gerakan tangannya, ia memutuskan untuk membiarkan Elly tidur dengan baju sepeti itu, toh bajunya hanya sedikit terkena percikan kotoran itu batinnya. ia merasa sepertinya sedikit kurang ajar jika ia harus membuka dan menggantikan baju Elly.


Karena merasa tidak enak hari, Tritan kemudian segera menyingkirkan tangannya dari atas tubuh Elly, namun Elly tiba-tiba menangkap tangan Tritan yang sudah setengah pergi itu. Ia membuka kelopak matanya dan pandangan mereka bertemu. Tritan tertegun.


"Kenapa berhenti? kenapa tak kau lanjutkan?" Tanya Elly, bau alkohol dari mulutnya masih tercium. Elly kemudian bangun dan duduk di samping Tritan yang saat ini sedang tertegun bingung.


"E.. Elly maaf, aku tak bermaksud apapun, aku hanya ingin..... " belum selesai Tritan menyelesaikan ucapannya, bibir manis Elly sudah mendarat sempurna di atas bibir Tritan. Beberapa detik ia tertegun tak bergerak. Tubuhnya tiba-tiba membeku. Tritan melepaskan ciuman Elly kemudian.


"Elly, apa yang kau lakukan?"


"Jangan pura-pura bodoh, aku tahu kita saling menyukai satu sama lain. Kita sudah berada di sini. Kau juga sudah membuka setengah dari bajuku, lalu kenapa berhenti dan tak kau lanjutkan?"


"Tapi aku membuka bajumu bukan untuk melecehkanmu tapi untuk mengganti bajumu yang kotor"


"Kau pikir aku peduli?" Elly kembali mencium bibir Tritan penuh provokasi, tangannya dengan lihai membuka ikatan jubah tidur Tritan.


Untuk Tritan, Elly sebenarnya tak perlu banyak berinisiatif untuk menggodanya. Dengan dirinya sendiri saja Tritan sudah jatuh hati dan tergoda, jika bukan karena Elly berbeda dimata Tritan. Tentu saja beberapa menit yang lalu ia tak pikir panjang untuk membuka baju Elly dan mengambil kesempatan untuk tidur bersamanya. Tapi kali ini berbeda, Tritan memiliki hati untuk Elly sejak pertama mereka bertemu, bukan hal mudah untuk Tritan melakukan permainan yang biasa ia mainkan dengan gadis lain. Tak dinsangka saat ini Elly sedang mengungkapkan isi hatinya, bahkan dengan berani memprovokasinya.


Tritan yang merasa mendapatkan undangan dari Elly pun tentu tak pikir panjang. Ia segera mendorong tubuh ramping Elly dan membuka kancing demi kancing blouse yang tersisa di tubuh gadis itu dan terus menyingkirkan helai demi heli kain penutup di atas tubuh Elly. Tangan dan bibir Tritan bergerak bebas bermain, membuat Elly tak kuasa mendesah merasakan hangatnya sentuhan Tritan.


Mereka menghabiskan malam panjang berdua. Setelah lelah, Elly tertidur di dalam pelukan Tritan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tritan akhirnya merasakan sebuah aliran hangat masuk ke dalam hatinya.


"Apakah seperti ini rasanya bermain dengan hati?" batin Tritan tersenyum sambil menciumi kening gadis yang sekarang ada di bawah dagunya itu.


Puluhan tahun ia hidup untuk bersenang-senang dengan banyak gadis cantik, tapi baru kali ini ia melakukannya menggunakan hati. "Daniel, beginikah rasanya mencintai seorang wanita, huh?!"