Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 132: Sini, biar aku bantu



"Kau sedang apa sayang?" tanya Daniel memeluk Ara tanpa Ara sadari.


"Aku pikir cincin ini sudah kau buang atau kau berikan pada wanita lain"


"Mana mungkin, cincin ini jika tidak melingkar di jarimu tidak akan melingkar di jari wanita lain" ujar Daniel sambil meraih kotak cincin itu dan memakaikan cincin ke jari manis Ara. "Mulai sekarang dan sampai nanti jangan lepaskan lagi cincin ini dan jari ini, tangan ini, wajah ini dan semua yang ada padamu hanya milikku. Jangan pernah pergi lagi apapun yang terjadi, oke?"


"Baiklah" jawab Ara singkat sambil memeluk tubuh Daniel.


Keesokan harinya, Ara bangun lebih pagi dari Daniel. Ini masih pukul 6 pagi, entah kenapa ia sulit tidur hingga sepagi ini ia masih belum benar-benar tidur,dipikirannya ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan perusahaan dan juga Clara. Semakin di tunda semakin mengganggu pikirannya. Ara bangun dari tempat tidur masih menggunakan setelan baju tidur sutranya dan bergegas turun menuju ruang kerja Daniel.


Ia membuka hampir semua laci dan juga dokumen yang ada di rak-rak buku. Tapi sama seperti 3 tahun lalu, ia tak menemukan dokumen keuangan perusahaannya. Akhirnya dengan frustasi ia berjalan menuju dapur kemudian membuka kulkas. Tadinya ia berpikir untuk membuat sarapan tapi di sana tidak ada apapun, ini sedikit mencengangkan mengingat Daniel suka masak tapi kulkasnya kosong.


"Apa karena dia pengangguran dan tidak punya uang?" batin Ara dalam hati. Akhirnya ia masuk ke dalam kamarnya, mengganti baju untuk jogging dengan membawa Paw dan Happy berkeliling. StarLake ada di pinggir kota A, untuk mencapai kota butuh waktu 45 menit namun di tak jauh dari sana, ada sebuah pasar segar tak terlalu besar. Akhirnya Ara memutuskan untuk Jogging sambil berbelanja untuk membuat sarapan, ia tak lupa membuat memo kecil di atas kulkas.


Beberapa jam kemudian Daniel membuka matanya setelah tangannya memeluk hampa ruang kosong di sampingnya.


"Kemana Ara?" tanyanya dalam hati. Ia kemudian bangun dan memeriksa dimanapun sampai kamar Brandon pun tak ada. Rasa khawatir menyergap masuk ke dalam hatinya namun saat ia akan mengambil segelas air mineral dari kulkas ia mendapati sebuah memo.


"Daniel, aku pergi Jogging dan belanja bersama Paw dan Happy, aku akan segera kembali" tulis Ara dalam memo. Daniel kemudian membuka kulkas, benar saja di dalam kulkas tak ada apapun. Daniel kemudian naik ke atas mengganti baju dan bergegas menyusul Ara.


***


Beberapa belas menit Ara berlari kecil, ini seperti hiburan untuk Ara melihat Paw dan Happy terlihat senang ia ajak berlari pagi. Mereka terus menggoyangkan ekornya tanda senang.


Matahari mulai menyingsingkan cahayanya, langit perlahan-lahan mulai terang dan ternyata sepanjang jalan banyak sekali orang-orang yang berlari pagi. Sesampainya di pasar modern Ara membeli beberapa sayuran, buang-buahan, daging sapi sampai ayam dan tak lupa ikan. Ara terlalu senang berbelanja hingga ia lupa waktu, saat ia melihat jam di tangannya tak terasa sudah hampir jam 7:30 pagi. Ia segera menepuk keningnya kemudian buru-buru kembali pulang. Tangan Ara penuh dengan belanjaan dan juga tali kekang Paw dan Happy membuatnya sedikit kesulitan.


"Ara?!" suara tak asing terdengar di belakang tubuhnya. Ara segera menoleh dan melihat sebuah mobil Maybach hitam berhenti di belakang tubuhnya. Ara mengerutkan keningnya, mobil itu adalah mobil yang tak asing untuknya. Tangan Ara sedikit bergetar, ia sampai merasa takut untuk menebak bahwa itu adalah mobil Kevan.


"Kevan?!" Ujar Ara kaget, melihat Kevan masih mematung di tempatnya. Tebakannya benar seorang pria tampan keluar dari mobil dengan baju polo longgar berwarna abu-abu dan celana hitam training yang ia kenakan membuatnya terlihat tampan, meskipun tak setampan Daniel tapi Kevan juga memiliki kualifikasi itu. Sudah sekian tahun tak bertemu, ia sedikit kaget bisa bertemu Kevan di sini. Kevan berjalan cepat mendekati Ara dan memeluknya,


"Ara, kemana saja kau? aku dengar kau tiba-tiba menghilang karena kecelakaan, kau baik-baik saja kan?" tanya Kevan melepaskan pelukannya dan mencengkram kuat lengan Ara.


Ara masih tertegun dengan pelukan Kevan barusan sampai tak tahu harus menjawab apa. Ara menatap pria di depannya ini lekat.


Tidak ada yang berubah namun ia sedikit terlihat lebih kurus dan wajahnya terlihat sangat lelah. Melihat Ara yang diam, Kevan tersenyum matanya sedikit mengedar ke kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang.


"Ara, kau sendiri? kemana Daniel?" tanya Kevan to the poin seperti biasanya.


"Aku sedang ada proyek di dekat sini, sebenarnya ingin pulang tapi malah ditengah perjalanan melihatmu,kau belum menjawab pertanyaan ku Ara"


"Iya sendiri"


"Dimana mobilmu?" pandangan mata Kevan tertuju pada banyaknya kantung belanja yang di bawa Ara. Sepintas lalu Kevan merasa aneh, bagaimana Daniel bisa membiarkan istrinya belanja sendiri tanpa di antar, apalagi membawa banyak barang seperti ini.


"Aku tidak bawa mobil karena jarak rumahku dan pasar ini tidak jauh" jawab Ara, membuat Kevan tersenyum.


"Sini, biar aku bantu" Ujar Kevan sambil merebut kantung-kantung belanjaan yang ada di tangan Kevan. Ara mengerjap kaget, ia berusaha menolak tapi kantung-kantung itu sudah hilang dari genggamannya dan berpidah masuk ke dalam bagasi mobil Kevan.


"Kevan, tidak perlu rumahku tak jauh, jadi aku bisa sendiri"


"Kita sudah lama tidak bertemu temani aku minum kopi sebenar, masuklah Ara" serunya sambil membuka pintu mobilnya untuk Ara.


Kevan 3 tahun lalu dan Kevan saat ini benar-benar tidak berubah, ia masih saja pemaksa yang angkuh. Di dekat pria ini, Ara seperti tidak pernah memiliki hak untuk membuat pilihan. Pilihannya sama dengan pilihan Kevan, mau menolak seperti apa ia tetap saja memaksa jadi Ara tak punya pilihan lain selain mengikuti Kemana Kevan pergi.


Kevan membawa Ara ke sebuah kafe yang menyediakan sarapan pagi terdekat masih tak jauh dari pasar itu. Ara memesan secangkir teh hangat sedangkan Kevan memesan secangkir kopi americano.


"Masih jenis kopi yang sama seperti dulu" batin Ara.


Mata Ara bergerak mengikuti seruputan kopi yang perlahan masuk ke dalam tenggorokan Kevan.


"Kau dan Daniel masih baik-baik saja kan?" tanya Kevan pada wanita yang masih terlihat sangat cantik, melihat Ara berjalan menyusuri tepi pertokoan tadi sempat membuat jantung Kevan berdebar. Debaran yang sama seperti pertama ia melihat Ara di lobby kantornya saat ia mendaftar menjadi sekertarisnya. Ingatan itu berputar-putar di kepalanya.


Mendengar pertanyaan Kevan, Ara tersenyum.


"Kau mengharapkan jawaban apa Van?" ujar Ara dan Kevan tertawa.


"Tidak ada, hanya bertanya"


"Kami baik-baik saja" jawab Ara yang di jawab anggukan oleh Kevan.


"Baguslah, tak kusangka suamimu adalah bos Tophill dan DownGrup. Aku jadi semakin mengerti kenapa kau bersikeras bersamanya dan tak mau kembali padaku" ujar Kevan tersenyum Sarkas pada Ara sambil menyeruput kopinya. Ara mengerutkan keningnya mendengar sebuah sindiran dari mulut ringan Kevan seakan dia adalah wanita Martealis.


"Kau benar-benar berpikir aku wanita seperti itu?"