
Saat setelah masuk ke dalam mobil, Daniel menatap wajah Ara dingin. Ara menoleh pada Daniel dengan tatapan bertanya “Ada apa? " .
“Bisakah kau lebih menjaga jarak dengan para pria Ara?"
“Kau cemburu? "
“Tidak boleh? "
“Tentu saja boleh "
“Lalu? "
“Baiklah baiklah, maafkan aku"
Setelah mendengar perkataan maaf dari Ara, Daniel menarik tuas persneling dan menjalankan mobilnya.
“Udara di sini lebih baik daripada di kota A”Seru Ara sambil membuka kaca jendela pintu mobil. Ia merasakan semilir angin masuk menyapu wajahnya. Rambutnya tersibak ke belakanh. Daniel melirik sekilas.
“Apa kau suka di sini? jika suka kita bisa pindah? "
“Bagaimana bisa pindah, bagaimana dengan pekerjaanmu dan TopHill mu? “Seru Ara menekankan kata TopHill dengan senyum tidak senang. “Kenapa kau tak bilang dari awal kau pemilik TopHill?"
“Apa kau pernah bertanya?"
“Aku seperti gadis bodoh berpikir kau miskin, huh"
“Haha, aku ingin tahu apa kau bisa tulus padaku jika aku miskin"
“Lalu darimana kau tahu aku tidak tulus jika kau kaya?"
“Semua gadis begitu"
“Serendah itukah aku di matamu? sampai kau hrus mengujiku begitu? selalu berpikir kau akan di rendahkan keluargaku dan Kevan membuatku sakit kepala, ternyata kau justru menikmatinya! benar-benar sial!! “Ucap Ara sambil mengerutkan Alisnya marah. Daniel melirik Ara dengan tawa kecil di sudut mulutnya.
“Maafkan aku ya.. “Ucap Daniel mencubit lembut pipi Istrinya.
Mobil mewah Daniel berhenti di sebuah Mall di kota L.
“Hubungi aku ketika kau selesai"
“Oke"
Ara akhirnya turun dan meninggalkan Daniel di dalam mobil.
“Yogi, ikuti Ara kemanapun diam-diam, aku harus ke suatu tempat, laporkan apa saja yang dia lakukan”Titah Daniel pada Yogi lewat sebuah panggilan. Yogi pun mengiyakan dan mengikuti Ara diam-diam.
Ara melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mall, ia mencoba menghubungi Elly dan mencari tahu keberadaan sahabatnya itu, setelah tahu, ia menyusul Elly masuk ke dalam toko perhiasan. Elly sedang memilih cincin untuk pertunangannya.
“Elly! hai! “Seru Ara setelah melihat Elly
,”Hai Ara, kemarilah, bantu aku memilih”Sahut Elly yang sedang sibuk memilih cincin. Ara mendekati Elly dan membantunya memilih cincin di dalam etalase.
Cincin, sesuatu yang sampai detik ini Ara tak memilikinya. Cincin disana begitu cantik. Beberapa kali Ara juga mencoba cincin disana.
“Rasanya ingin membelinya, tapi untuk apa?cincin pernikahan yang di beli sendiri dan juga tanpa acara pernikahan apa bisa di bilang cincin nikah?”Ara menghela nafasnya dalam “Rasanya sedikit kecewa, tapi pernikahanku ini hanya di atas buku pada awalnya, lalu sekarang sudah sampai sejauh ini masih mau berharap apa?"
“Elly, dimana tunanganmu? bukankah harusnya kalian memilih cincin bersama?”Tanya Ara sambil memilih-milih cincin.
“Hemm seharusnya ia masih di kantor sekarang"
“Bukankah ini wekend? kenapa dia berkerja?"
“Entahlah, tapi dia katakan akan menjemputku ketika selesai"
“Hemm begitu”Alasan Elly cukup aneh, tapi Ara pun tak bertanya lebih jauh. Ia tak ingin sahabat yang baru di temui nya kembali ini justru mencurigai calon suaminya.
tak terasa beberapa jam berlalu setelah Elly menemukan cincin yang cocok dan sempat membeli beberapa bArang. Akhirnya mereka pergi ke sebuah Kafe masih di dalam Mall itu.
Mereka berbincang seru bernostalgia dengan cerita-cerita lama mereka. Sesekali merasa sedih dan lebih sering tertawa bersama.
“Ara aku masih tak percaya kau sudah menikah, kau bilang dulu kau akan menikah di umur 30 tahun, setelah sukses, sekarang justru kau menikah sebelum aku, haha"
“Entahlah, aku juga tak terpikir untuk menikah, itu berjalan begitu saja haha"
“Bagaimana caramu mendapatkan pria tampan seperti suamimu? aku begitu iri”Seru Elly dengan mata berbinar
“Hah??kau pikir aku akan percaya? ckck"
“Tanyakan saja padanya jika kau tak percaya haha”Ucap Ara tersenyum geli sambil menyeruput minuman di dalam gelas.
“Benarkah? bagaimana hidupmu bisa seberuntung itu? "
“Ah sudahlah berhenti membicarakannya, kapan kau akan mengenalkan tunangan mu padaku?"
“Bagaimana kalau hari ini? aku akan menghubunginya dan mengenalkannya padamu, bagaimana? "
“Ide bagus"
“Panggil suamimu kemari juga"
“Hemm baiklah"
***
saat ini pukul 13:10, Daniel sampai di kafe itu sudah lebih dari 45 menit tapi tunangan Elly masih belum juga datang. Elly beberapa kali menghubungin tunangannya, tapi ia tak menjawab. Wajah gadis itu bahkan sampai menghitam karena kesal.
“Elly sudahlah, mungkin dia masih sedang sibuk, mungkin bertemu lain kali juga tak masalah”Seru Ara menenangkan Elly yang gusar. Daniel dengan santai duduk menyandar di punggung sofa.
“Dia kali ini keterlaluan, sudah hampir 1 jam Ara, biasanya tak pernah selambat ini"
“Mungkin macet? "
Tak berapa lama, akhirnya sosok yang di tunggu-tunggu datang dari balik pintu.
“Alan!”Seru Elly melambai pada sesosok pria bertubuh sedikit gempal. Wajah Elly berangsur-angsur membaik. Senyum di wahahnya pun merekah. Pria itu terus mendekati meja dan tanpa basa basi duduk di samping Elly.
“Kau lama sekali, aku sampai lelah menunggu “Seru Elly melingkarkan tangannya di lengan pria itu memanja.
“Aku sudah katakan terjebak macet, sepertinya ada kecelakaan"
“Hemm baiklah, oia, kenalkan ini teman lamaku Ara dan Suaminya tuan Daniel Qin”Seru Elly mencoba memperkenalkan Ara dan Daniel. Tidak ada yang aneh saat Alan melihat Ara, namun saat ia melihat Daniel, raut wajahnya berubah khawatir.
“Ha.. Halo tuan Qin, saya Alan Shu senang bertemu denganmu"
“Tak ku kira kita bisa bertemu lagi di sini tuan Shu”Senyum Daniel dingin.
“Daniel, apa kalian sudah saling mengenal?kalian bertemu dengannya dimana sebelumnya? “Tanya Ara pada Daniel.
“Aku tidak yakin, tapi sepertinya bertemu dengannya di suatu tempat yang membuatnya terlambat datang kesini, bukankah begitu tuan Shu?"
“Haha.. Kita sepertinya belum pernah bertemu tuan Qin, mungkin kau salah mengenali orang, wajah ku memang pasAran"
“Hemm begitu ya, ya mungkin aku hrus memeriksakan mataku”Seperti biasa, ucapan Daniel bisa sangat elegan dan menusuk. Ara menangkap keanehan di dalam percakapan itu, namun melihat wajah bingung Elly, Ara akhirnya mengalihkan pembicaraan untuk memecah situasi yang canggung.
“Baiklah baiklah, aku sudah lapar, bagaimana jika mulai memesan makanan?”Tanya Ara menatap Elly.
“Ya benar, aku juga lapar"
Akhirnya mereka memesan beberapa menu makanan, situasi canggung antara Daniel dan Alan sulit di pecahkan. Bahkan beberapa kali Alan mencoba membuka obrolan dengan Daniel, Daniel hanya terdiam tak mempedulikan. Hal ini membuat Ara tak enaknpada Elly.
Acara makan siang mereka berakhir. Mereka akhirnya berpisah masuk kedalam mobil masing-masing.
“Daniel, apa sih yang kau lakukan tadi? kenapa dingin sekali pada Alan? aku sampai tak enak hati pada Elly"
“Katakan pada sahabtmu lebih baik membatalkan tunangannya dengan pria gendut itu"
“Hah?? kenapa?"
“Saat selesai menjemputmu, aku kembali ke hotel untuk mengerjakan beberapa hal, aku bertemu dengan Alan saat berada di Lift hotel sedang bercumbu dengan seorang gadis, aku sampai merasa jijik. Awalnya aku tak peduli, sampai saat mereka akan keluar dari Lift, gadis yang bersamanya tiba-tiba menjatuhkan dirinya di hadapanku, alih-alih menolongnya aku justru menghindar dan dia terjatuh, pria yang kau sebut tunangan sahabatmu tak Terima, ia bahkan berkata gadis itu adalah kekasihnya"
“Benarkah kau menghindar? aku tak yakin, aku pernah melihatmu juga bersama gadis cantik tempo hari”Tiba-tiba Ara teringat insiden tempo hari.
“Ara, sudah ku katakan aku tak melakukan apapun dengan gadis itu"
“Tapi kau juga memeluk dan menciumnya, kau dan Alan apa bedanya? semua pria itu sama saja"
Mendengar perkataan Ara, Daniel menepikan mobilnya. Daniel menyentuh dagu dan mendekatkan wajahnya pada Ara. Dengan sorot matanya yang tajam ia berbisik.
“Menurutmu mana yang lebih menyakitkan, melihat videomu dengan mantanmu atau melihatku dengan gadis itu?"