
Saat ini pukul 02:23 pagi, Ara ada di kamar masih terlelap sedangkan Daniel masih sibuk dengan laptopnya, sorot matanya fokus pada diagram grafik saham di berbagai perusahaan terutama di perusahaan milik keluarga Wingsley.
Daniel kali ini benar-benar di buat marah oleh Kevan. Membayangkan bagaimana ia berusaha menyentuh Ara meskipun Ara tak menginginkannya kemarin membuat dadanya begitu sempit.
“Bagaimana bisa seorang pria memaksa wanita hingga ia lebih rela menyakiti dirinya sendiri?”Batin Daniel.
Daniel akhirnya mengirimkan email pada Yogi berupa semua list kerja sama perusahaan Wingsley, ia ingin untuk mengambil alih seluruh proyek dan tender yang rencananya akan di kerjakan oleh perusahaan Wingsley bagaimanapun caranya. Tak berapa lama Yogi menghubungi Daniel lewat panggilan Telepon.
“Bos, kau yakin akan mengambil alih semua tendernya? ini butuh dana besar dan lagi Wingsley tak akan tinggal diam”Seru Yogi ada nada cemas di ucapannya.
“Tidak ada yang akan menolak kerja sama dengan Down group”Seru Daniel kemudian mematikan ponselnya.
“Bos Daniel benar-benar mencintai nona Ara hingga ia benar-benar berniat menghancurkan Wingsley”Batin Yogi.
Setelah panggilan ditutup, Daniel menghisap beberapa putung rokok di balkon hotel. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar dan berbaring di samping tubuh Ara yang hanya di balut selimut tebal. Ia menarik pinggang Ara dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
Matahari kian meninggi, saat itu sudah pukul 9 pagi hari. Ara terbangun oleh nada ponselnya yang berbunyi. Dengan malas ia membuka matanya sama-samar dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya
“Kevan is calling"
Mata Ara kemudian membulat. Ia seketika melihat ke samping kepalanya. Ia melihat Daniel masih tertidur. Akhirnya ia putuskan pergi ke balkon kamar dan mengangkat panggilan dari Kevan. Masih ada urusan dengannya yang belum terselesaikan. Termasuk tentang ibunya.
“Halo! Kevan!"
“Ara, bagaimana keadaanmu? apa kau baik-baik saja?”Tanya Kevan, dari suaranya ia terlihat cemas
“Tentu saja baik-baik saja"
“Ara aku akan menceraikan Sisil"
Mendengar perkataan Kevan , Ara tersentak kaget. Tapi dengan cepat ia membawa dirinya. Kenapa harus kaget? apa hubungannya dengan dirinya?
“Ke.. Kenapa?"
“Aku tak bisa mentolelir siapapun yang menyakitimu, begitu juga dengannya!"
“Maksudmu?”Ara pura-pura bodoh
“Aku tahu Sisil lah yang memberikan obat padamu "
“Tapi mungkin harusnya aku berterimakasih padanya... "
“Berterimakasih? kenapa?"
“Karenanya aku jadi tahu aku mencintai siapa..”Seru Ara dengan nada acuh tak acuh pada Kevan. Ia tak peduli jika seseorang di seberang telepon itu tiba-tiba mendengarkan dengan telinga memerah. Hatinya terbakar cemburu seketika.
“Ara mencintai Daniel, itu yang dia barusan ucapkan"
“Baiklah, ku kira masalah ibumu juga sudah tak penting lagi... “Ucap Kevan dengan sinis
“Kevan.. Bisakah.. Kau.... “Belum sempat melanjutkan ucapannya, Daniel merebut ponsel di tangan Ara dan mematikan panggilannya. Ara yang kaget langsung menoleh ke belakang. Daniel menatap wajah Ara dengan tatapan menusuk. Ia bahkan membanting ponsel milik Ara ke atas tempat tidur dengan kasar.
“Dari kapan Daniel ada di belakangku? “Batinnya bertanya dalam hati.
“Da.. Daniel, sejak kapan kau disini?"
“Sejak tadi, cukup untuk mendengarkan percakapan kalian, kenapa ragu?jika benar mencintaiku, kenapa masih berpikir meminta bantuan padanya tentang ibumu? “Tanya Daniel yang menekan tubuh Ara mundur hingga terantuk pagar balkon"
“Karena dia satu-satunya yang tahu tentang ibuku"
“Ara, ibumu sudah meninggal,” Ucap Daniel tiba-tiba membuat jantung Ara seakan berhenti.
“Apa?! jangan bercanda!!"
“Apa aku terlihat sedang bercanda?!,” Ara menatap wajah Daniel, tidak ada mimik main-main di wajahnya, apakah itu benar??!
“Daniel kau bohong? katakan kau bohong!"
Melihat reaksi Ara, Daniel langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
“Jawab Daniel, kau bohong kan???!,“ Seru Ara di pelukan Daniel
“Ibu tak mungkin meninggal, bagaimana mungkin dia meninggalkan ku sendiri???!”Isak tangis Ara menjadi-jadi, itu adalah hari terkenal dalam hidupnya. Tapi ia masih sulit untuk percaya. Ia kemudian melepaskan pelukan Daniel dan menatap Daniel dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Bagaimana kau tahu? jika meninggal pasti ada mayatnya atau dimana dia di kubur?? "
“Aku masih menyelidiki nya Ara"
“Kau pasti bohong, aku harus bertemu dengan Kevan, ia pasti tahu”Ara berusaha melangkah pergi tapi lengannya di tarik kasar oleh Daniel.
“Kevan, Kevan, Kevan, apa kau lebih percaya padanya di banding aku?"
Seketika tubuh Ara menegang dan kaku.
“Daniel,Ini bukan tentang aku percaya pada siapa, ini tentang kebenArannya, jikapun ayah Kevan yang tahu keberadaan ibuku pasti akan ku temui dia.. Tapi kali ini Kevan tahu.. Aku harus menemuinya"
“Dia itu mempermainkan mu, tidak bisakah kau lihat itu????,“ bentak Daniel, membuat Ara sedikit bergetar.. “Percayakan padaku, aku masih menyelidiki nya, aku tak mungkin membohongimu atau menyakitimu, aku suamimu Ara!," seru Daniel menenangkan Ara yang terlihat bingung dan gusar.
“Benar, apa yang di katakan Daniel benar, satu-satunya orang yang tak mungkin memiliki niat buruk padaku adalah dia, karena dia adalah suamiku,“Batin Ara.
“Baiklah, aku percaya padamu, tapi tolong jangan mengecewakan aku”Seru Ara dan di jawab sebuah anggukan oleh Daniel.
“Sudah jangan menangis lagi, aku mandi dulu, aku sudah memesan makanan, sebentar lagi mungkin makanannya akan datang”Seru Daniel melepaskan pelukannya, tersenyum dan menyeka sisa Air mata Ara.
“Hemm baiklah”Akhirnya Daniel pergi berbalik menjauhi Ara dan masuk ke dalam kamar mandi. Ara masih ada di balkon memandang kota L dari ketinggian.
Wajah ibunya terngiang-ngiang di ingatannya, sesekali air matanya menetes,
“Jika belum melihat mayat/ makam ibu, aku tak akan percaya kau sudah mati bu, aku akan terus mencarimu”Seru Ara dalam hati.
beberapa saat sibuk dengan lamunannya, ponsel Daniel berbunyi, Ara tahu Daniel masih di kamar mandi, ia kemudian menoleh dan mendekati nakas dimana ponsel Daniel di letakan. Di layar ponsel, tertulis nama Tritan. Awalnya Ara ragu untuk mengangkat panggilan itu
“Tapi hanya panggilan, aku akan langsung katakan Daniel sedang di kamar mandi, sepertinya tidak apa-apa”Batin Ara, tangannya dengan cepat menekan tombol angkat di layar. Tapi belum sempat berbicara, suara Tritan sudah tak henti berbicara.
“Daniel, gawat! sepertinya Kevan berusaha menghancurkan perusahaanku, satu per satu direksi menarik saham mereka di MD, jika begini MD tidak akan bertahan, bantulah aku hei! apa ada masalah di kota L hingga ia sepertinya marah padamu?”Ucapan Tritan membuat bibir Ara tak bisa mengatakan apapun. Di kepala Ara hanya ada tanda tanya.
“Kevan menyerang MD, MD hanya perusahaan kecil, bagaimana bisa dia menyerangnya, apa karena aku barusan menyinggung nya? lalu aku harus bagaimana?masa depan Daniel dan Tritan akan hancur karena aku”Pikir Ara masih terdiam mengacuhkan Tritan yang sejak tadi sudah komat kamit bingung.
“Daniel, kau masih tidur atau sedang mengabaikan ku?hei dan... “Belum sempat ia melanjutkan Ara membuka suaranya.
“Tritan, apa benar Kevan melakukan sesuatu pada MD?”Tanya Ara dengan suara gugup, tritan seketika berdebar kencang ketika mendengar suara yang muncul adalah suara Ara bukan Daniel. “Sial, bagaimana menjelaskannya, Daniel pasti akan marah padaku! “Batin Tritan
“Ehm.hehe.. Nyonya Qin, ternyata kau ya.. Hehe.. Ah tidak.. Tidak terjadi apa-apa, tenang saja”Kelit Tritan.
“Benarkah? tapi.... “Tiba-tiba ponsel itu menghilang dari genggaman tangan Ara, Daniel merebutnya dan menatap Ara dengan wajah dingin. Ia kemudian membawa ponselnya masuk ke dalam kamar mandi tanpa berbicara sepatah kata apapun.
“Dia pasti sangat marah padaku karena mengangkat panggilan ponselnya tanpa seizin nya, huh”Batin Ara.
***
Daniel berada di kamar mandi sudah sekitar 16 menit yang lalu dan ia belum juga keluar dari sana.
“Sepertinya masalah ini sangat serius, berarti yang ia dengar tak salah, mungkin ada hubungannya dengan Kevan dan aku"
tak lama kemudian, Daniel akhirnya keluar hanya menggunakan handuk putih yang melilit tubuh bagian bawahnya. Mata Ara langsung tertuju pada otot Daniel yang terlihat jelas terkena cahaya matahari dari luar. Ara menggelengkan kepalanya mencoba fokus. Pria itu berjalan mendekati Ara yang duduk di sisi pinggir tempat tidur.
“Kenapa?”Tanya Daniel
“Apanya yang kenapa?aku tak sengaja melihat tubuhmu kenapa harus bertanya begitu, lagian kenapa hanya memakai handuk kalau tak mau di lihat orang lain?”Seru Ara memalingkan wajahnya yang merah.
Daniel terus mendekat dan menyentuh dagu Ara untuk menatapnya.
“Maksudku bukan kenapa kau melihat tubuhku, tapi kenapa kau angkat panggilan di ponselku tanpa izinku?”Tanya Daniel dengan senyuman mengejek, semakin membuat pipi Ara memerah.
“Astaga benar juga, kenapa aku berpikir dia bertanya kenapa aku melihat tubuhnya? ah dasar bodoh! apa sekarang dia sedang berpikir betapa mesumnya pikiranku? aaaaaahhhh siapapun sembunyikan aku di suatu tempat tolong! “Batin Ara
“Ponselmu berbunyi, ya aku angkat, itu saja! awas! aku mau mandi!!”Ara mendorong tubuh Daniel dan bangkit berdiri. Daniel melihat wajah Ara yang merah pun menarik pinggangnya mendekat ke tubuhnya.
“Ternyata, diam-diam kau mesum juga ya nyonya Qin”Ejek Daniel pada Ara. Ara sudah tak bisa membayangkan seberapa merah pipinya sekarang.
“Danieell... Hentikan mengejekku!! minggir!! “Seru Ara tiba-tiba kesal melepaskan pelukan Daniel. Dengan langkah cepat ia memasuki kamar mandi. Daniel pun tak bisa tak tertawa geli melihat polah istrinya.