
Cukup sekali aku kehilanganmu karena kebodohan ku, aku tak ingin ada kebodohan lain untuk kedua kalinya.
***
Keesokan harinya, Ara sudah bersiap untuk berangkat menuju Angel wings bertemu dengan Peter. Setelah ia berpamitan dengan Meira dan brandon, ia mendengar suara dering notifikasi ponselnya berbunyi. Buru-buru ia merogoh tasnya dan mengambil ponsel untuk melihat isi pesan itu.
"Aku di depan gerbang rumahmu,"
Mata Ara membulat sempurna sebelum ia mengernyitkan dahinya. "Untuk apa dia ada di depan rumah sepagi ini?!" batin Ara dalam hati.
"Ada apa Ara? ada masalah?" Meira bertanya ketika melihat ekspresi aneh dari wajah keponakannya itu. Ara buru-buru menggeleng, "Tidak, tidak ada masalah, aku pergi dulu ya Bi!" Meira kemudian tersenyum dan mengangguk, "Baiklah, Hati-hati Ara".
Ara berjalan menuju pintu gerbang, dari kejauhan, Ara benar-benar melihat sosok Daniel berdiri di samping mobilnya dengan sangat gagah dan elegan. Beberapa saat ia terlihat terpesona, namun detik selanjutnya ia segera tersadar dan berhenti tepat di depan Daniel.
"Selamat pagi, istriku!" sapa Daniel tersenyum. Mendengar sapa Daniel memanggilnya dengan sebutan "Istri" Ara mendengus kesal.
"Sebenarnya siapa yang kau panggil istri itu? berhenti memanggilku dengan sebutan seperti itu"
"Kenapa? aku suka memanggilmu seperti itu" jawab Daniel ringan sambil mengambil sebuket bunga cantik dari dalam mobilnya dan memberikannya pada Ara. Ara tertegun beberapa saat, matanya terpaku pada sebuket bunga di depannya.
"Bunga?!"
"Bukan,Ini cinta" Goda Daniel. Ara menghela nafas, mengambil bunga itu dan memalingkan wajah menutupi wajahnya yang merona sambil berjalan menjauh dari Daniel. Buru-buru Daniel mengejar Ara.
"Ayo, aku antar"
"Tidak terimakasih," jawab Ara tak menoleh pada Daniel. Beberapa saat berjalan, Ara kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh pada Daniel.
"Tuan Daniel, mobilmu sudah menunggu lama, silahkan kembali dan berhenti mengikutiku" Daniel tak menjawab ucapan Ara, ia hanya tersenyum dan menunjuk mobilnya, memberikan isyarat dengan dagunya. Wajahnya seperti sedang bicara, "Naiklah ke mobilku atau aku akan terus mengikutimu"
Dengan menekuk wajahnya, Ara berbalik dan berjalan masuk ke dalam mobil dan di ikuti Daniel.
"Nyonya, kau akan pergi bekerja atau ingin aku antar ke tempat lain?"
"Aku ingin bertemu seseorang, antar aku sampai halte bus saja"
"Seseorang? seorang pria atau wanita?"
Ara kemudian menoleh dan tersenyum sinis.
"Bertemu seorang pria"
"Kekasihmu?" Daniel semakin menoleh mencondongkan badannya menghadap Ara dengan pandangan menyelidik, "Setahuku kau tak memiliki kekasih Ara" sambung Daniel.
"Kenapa belum jalan?"
"Jawab dulu pertanyaan ku!"
"Kenapa kau ingin tahu? itu bukan urusanmu"
Ucapan Ara tiba-tiba menyadarkan Daniel.
Ara benar, untuk saat ini ia tidak dalam posisi yang berhak bertanya kepentingan Ara. Meskipun, sebenarnya Ara adalah istrinya, tapi di mata wanita di sampingnya ini, ia hanya seorang pria asing aneh yang tiba-tiba datang membawa cinta. Daniel menghela nafas panjang. Tanpa menunggu lama, ia segera menjalankan mobilnya dan dengan berat hati menurunkan Ara di halte terdekat.
Daniel terus mengikuti kemana bis Ara hingga bis itu berhenti di sebuah panti jompo.
"Kenapa Ara datang kesini?" tanya Daniel dalam hati.
***
"Selamat pagi suster" Ara menjawab sapaan suster itu dengan senyuman dan memberikan banyak tangkai bunga pada suster itu. "Maafkan aku, belakangan ini toko sangat ramai, jadi aku tak tega meninggalkan Sean sendiri".
" Tidak masalah, Tuan Peter juga pasti akan mengerti", " lalu siapa pria di belakangmu itu nona Ara? apakah dia kekasihmu? dia sangat tampan" bisik suster itu pada Ara. Dengan wajah bingung ia menoleh ke belakang, ia mengernyitkan keningnya saat melihat Daniel ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Daniel?! sejak kapan kau di belakangku?"
"Selamat pagi suster" Daniel mengabaikan pandangan terkejut dan pertanyaan Ara barusan.
"Selamat pagi Tuan" jawab suster itu malu-malu.
Seperti tak membiarkan Daniel membuat
para suster-suster itu terlalu lama tersipu malu, ia menarik lengan tangan Daniel menjauh.
"Ada apa denganmu Daniel?".
"Aku kenapa? aku baik-baik saja"
" Kenapa kau mengikutiku sampai sini?"
"Aku hanya penasaran seperti apa priamu, jadi dia dokter di sini?"
"Ah sudahlah,ikuti aku" akhirnya Ara berjalan menuju taman dan bertemu dengan Peter.
"Hai kakek, selamat pagi" sapa Ara pada Peter , mendengar suara Ara, Peter menoleh sambil tersenyum. Tapi senyumannya tak bertahan lama ketika ia melihat sosok pria jangkung di belakang Ara. Ara melihat perubahan wajah Peter ia segera menoleh ke belakang. "Kakek, ini temanku, Daniel".
Sebenarnya saat Daniel melihat Peter, ia pun sempat terkejut. Mata Peter seperti mengisyaratkan Daniel untuk berpura-pura tidak mengenalnya.
" Halo Tuan Peter, aku Daniel" sapa Daniel yang di sambut senyuman oleh Peter. "Ara, apa dia kekasihmu?"
"Bukan, dia bukan kekasihku, aku bahkan tak mengenalnya" lirik Ara pada Daniel dengan ketus. Membuat ekspresi Ara, Peter sampai tertawa.
"Lihatlah dari hati mu Ara, kau akan mengenalnya" celetuk Peter sambil menyesap secangkir teh hangat di tangannya.
"Itu benar, Kek. Ada beberapa orang yang hanya akan di kenali jika melihatnya dari hati"
"Sudahlah, aku tak mengerti dengan apa yang kalian pria bicarakan, aku akan masuk kedalam dan mengambil makan siang untukmu,Kek"
"Baiklah"
Pandangan mata Daniel dan Peter mengikuti langkah Ara hingga Ara tak terlihat.
"Bagaimana bisa kau ada di sini, Kek?" Tanya Daniel pada Peter yang masih membuang tatapannya jauh melihat pemandangan di depannya.
"Clara membuang ku kesini saat aku sadar. Aku tak bisa melakukan apapun"
"Lagi-lagi wanita itu, lalu bagaimana dengan Higa?"
"Aku tak tahu, lalu bagaimana kau bisa di sini? aku dengar kau menceraikan Ara dan bertunangan dengan wanita lain, kenapa kau melakukan itu pada cucuku Daniel? aku kecewa padamu"
"Itu bukan aku, aku tak pernah menceraikan Ara. seseorang menjebak ku kek, setelah akun sadar aku di jebak, Ara menghilang dan baru sekarang aku menemukannya"
"Daniel, harus kau tahu. Ara adalah satu-satunya hartaku yang tersisa. Jika kau datang hanya akan memberinya luka, baiknya kau pergi saja"
"Untuk apa aku datang dan mencarinya selama ini jika pada akhirnya aku harus meninggalkannya lagi, Aku datang untuk membawa nya kembali dan membalas semua orang yang menjadikan kami seperti ini!"