
Daniel mendekati tubuh Ara yang duduk di depan meja bar. Pemandangan seperti ini bukan hal baru untuknya. Beberapa tahun lalu ia juga menemukan Ara sedang mabuk di tempat yang sama dan menggenggam pena rekam di tangannya. Yang berbeda saat ini adalah wanita ini lebih mabuk dari beberapa tahun lalu, tidak menggenggam pena rekaman di tangannya namun ia terus memandangi layar ponselnya yang sedang menampilkan foto mereka berdua di tepi sungai kota waktu itu.
Ada sedikit senyum di bibir Daniel. Ia segera meraih ponsel itu, Ara segera menoleh dan untuk pertama kalinya setelah setahun ia akhirnya bertemu dan bertatapan langsung dengan bidadari hatinya itu. Ada perasaan bersalah tapi juga lega di dalam hatinya. Ia merasa bersalah melihat Ara ternyata semenderita ini jauh dari dirinya tapi juga lega karena tahu tanpa perasaan yang dalam padanya wanita ini tidak mungkin semabuk ini sambil memperhatikan foto mereka.
Kevan masih berdiri diam-diam menatap Daniel dan Ara. Melihat Daniel menggendong Ara yang sudah tak sadarkan diri, untuk kesekian kalinya ia merasakan sesak yang sama. Baik hari ini, kemarin, besok atau selamanya hatinya untuk Ara tidak akan pernah terbalaskan. Secinta apapun ia dengan wanita itu, sedalam apapun perasaannya dengan wanita itu, ia tak di takdirkan bersama. Bagaimanapun menggenggamnya dia tetap akan lepas juga. Akhirnya dengan hati yang berat Kevan sadar ini waktunya untuk pergi.
Daniel menggendong tubuh Ara masuk ke dalam hotel VIP di TopHill sambil terus memandangi warna rona di pipi Ara. Setelah sampai di kamar, ia segera merebahkan tubuh langsing Ara di atas tempat tidur. Melihat Ara yang tertidur pulas, Daniel sempat tergoda namun ia juga tak berpikir melakukan itu dengan istrinya saat istrinya mabuk. Akhirnya ia memutuskan hanya ikut tidur di samping wanitanya itu hingga pagi menjelang.
(FlashBack off)
Ara mendengarkan cerita Daniel dengan mata sudah basah dengan air mata. Ia segera memeluk suaminya, ia merasa Daniel begitu bodoh! Bagaiaman pria ini bisa sebodoh ini? memang benar yang di katakan Daniel, jika ia tahu kondisi Daniel saat itu sudah pasti ia sedih dan akan fokus hanya padanya tapi bukan berarti ia akan menelantarkan tugasnya begitu saja. Justru karena ia tak bertemu dan selalu memikirkan Daniel ia menghabiskan banyak waktu dan juga tenaganya untuk mencari keberadaan Daniel. Ara kembali memeluk Daniel dan memukul-mukul punggung lebar pria di depannya itu.
"Kau bodoh Daniel! kau bodoh sekali! bagaimana kau berpikir aku bisa tenang tanpamu? kenapa kau tak mengizinkanku tinggal di sisimu saat kau terpuruk?"
"Seorang pria sejati tidak akan rela melihat wanita tercintanya menderita Ara. Maafkan aku, kau jangan marah lagi yang penting aku sudah kembali kan?"
"Benar! kau memang harus kembali! kau berhutang janji padaku,"
Daniel kemudian melepaskan pelukan Ara, memandangi wajah cantik Ara sambil tersenyum.
"Kalau begitu, menikahlah lagi denganku Ara" Ucapan Daniel barusan seperti hembusan angin surga yang masuk ke dalam hari Ara tapi bukan terharu justru Ara tertawa sambil menyeka air matanya.
"Apa ini sebuah lamaran? kita sudah menikah memiliki buku nikah dan punya anak berusia 4 tahun, menikah yang seperti apa lagi yang kau inginkan?" seru Ara terkekeh. Daniel ikut tersenyum dan mencubit kedua pipi Ara dengan lembut.
"Menikahlah denganku, berjalanlah di altar dengan gaun putih untukku agar seluruh dunia tahu, kau hanya milikku dan jadilah satu-satunya Nyonya Qin-ku"
🎼Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday, waiting for you
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more🎼
****
Akhirnya setelah hari itu, 1 bulan kemudian, Daniel dan Ara menyelenggarakan pernikahan mewah dengan konsep Garden Party. Seperti sebuah mimpi jadi kenyataan. Dengan gaun indah berwarna putih berjalan di samping Higa ayahnya juga di iringi oleh Brandon dan Huanran di depannya menabur kelopak bunga mawar membuat suasana begitu romantis dan juga dramatis. Keinginan Daniel lebih dari 10 tahun lalu akhirnya terwujud, melihat Ara berjalan di Altar memakai gaun putih tersenyum cantik ke arahnya ia masih merasa sulit untuk percaya.
Bagaimana dengan nasib Elly, Clara dan juga anak istri Higa lainnya?
Nasib mereka mengenaskan, Elly, Wulan, Dayu dan anak-anaknya semuanya mendekam di balik dinginnya jeruji penjara. Semuanya di tuntut hukuman seumur hidup karena terlibat kasus percobaan pembunuhan berencana, sebenarnya Clara juga mendapatkan hukuman yang sama namun karena perilakunya yang aneh Karena selama berada di penjara, ia tak henti-hentinya berteriak-teriak dan menangis secara bergantian, Ia juga mulai sering berbicara sendiri dengan nada marah, mencakar tubuh dan wajahnya akhirnya pihak kepolisian membawa Clara ke rumah sakit jiwa setelah ia di diagnosa kehilangan akalnya.
Back to happy ending...
Setelah acara pernikahan itu, Daniel akhirnya menepati janjinya. Selama 1 bulan penuh, ia membawa anak dan istrinya pergi traveling ke seluruh dunia, ini adalah Honeymoon yang tertunda. Kebahagiaan mereka bertambah banyak ketika setelah berlibur Ara di nyatakan positif hamil anak kedua mereka. Daniel saat itu luar biasa senang, Ara juga senang karena ia tak punya pilihan lain, kali ini tidak ada kata "Bukan waktu yang tepat" lagi untuk menolak Daniel tapi tak menyangka juga akan secepat ini bisa hamil.
9 bulan berlalu,
"Da.. Daniel... Aaaa sakit... "
"Ara.. apa yang terjadi??! aku harus bagaimana?"
"Kau tidak lihat aku akan melahirkan? cepat bawa tas bayinya kita ke rumah sakit!"
Ujar Ara sedikit kesal melihat suaminya yang tampan dan pintar itu tiba-tiba menjadi bodoh karena panik setelah melihat air ketuban bercampur darah mengalir dari sela kaki Ara. Dengan segera Daniel membawa Ara pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Ara meminta dokter untuk memperbolehkan Daniel menemaninya melahirkan karena saat ia melahirkan Brandon yang menemaninya adalah Meira.
Saat mendengar permintaan Ara, wajah Daniel seketika pucat pasi, belum pernah seumur hidupnya ia melihat wanita melahirkan. Ia tak pernah tahu bahwa melahirkan bisa terlihat semenyeramkan itu, walhasil bukan Ara yang di tenangkan Daniel justru Daniel lah yang di tenangkan Ara karena terlalu panik. Melihat wajah Daniel yang pucat seperti akan pingsan akhirnya dokter meminta Daniel menunggu di luar di gantikan oleh Deisy ibunya. Daniel dengan gontai berjalan ke luar dari kamar bersalin.
"Tuan, sebaiknya kau menunggu di luar, aku khawatir kau akan benar-benar pingsan jika lebih lama lagi berada di sini " ujar seorang dokter, di samping rasa sakit Ara, Ara masih sempat menoleh pada Daniel, ternyata benar wajahnya seputih mayat akhirnya ia juga meminta Daniel keluar. Tanpa pikir panjang Daniel setuju dan ia keluar dengan langkah gontai. Ia seperti kehilangan napasnya, wajahnya seputih mayat bahkan Deisy yang berpapasan dengan Daniel pun hampir tertawa melihat menantunya dengan wajah lucu seperti itu. Daniel segera duduk di kursi panjang di depan kamar bersalin. Ia menyandarkan tubuhnya dengan ingatan persalinan Ara dan banyaknya darah yang mengalir dari bagian bawah Ara membuatnya seketika lemas.
"Daniel, bagaimana kondisi Ara? kenapa kau keluar?" tanya Meilyn yang segera mendekati anaknya ketika melihat Daniel keluar dari ruang bersalin.
Daniel tak mengatakan apapun, matanya mengedar melihat seluruh keluarganya sudah berkumpul.
"Ara yang melahirkan kenapa kelihatannya kau yang syok begitu Nil?" celetuk Aldric menahan tawanya.
"Ini bukan anak pertamamu, jadi santai sedikit lah, Ara akan baik-baik saja" ujar Higa.
"Ayah, aku bersumpah tidak akan lagi membuat Ara hamil anak yang ketiga, bagaimana bisa melahirkan semenyeramkan itu" ujar Daniel mengutuk dirinya sendiri tapi justru membuat semua orang yang berada di sana tertawa geli.
Tak lama berselang dari dalam ruang bersalin terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang. Wajah Daniel berubah menjadi lebih baik. Tak lama kemudian dokter keluar dan memberikan Daniel selamat karena mereka mendapatkan sepasang bayi kembar, Laki-laki dan perempuan. Semua orang berbahagia,
"Daniel, kau beruntung tak perlu menghamili Ara untuk yang ketiga kalinya ia sudah melahirkan anak kembar, keluarga kita sudah semakin lengkap, akhirnya kami punya cucu perempuan juga" ujar Aldric memeluk Daniel bahagia , kebahagiaan yang sama juga di rasakan semua orang di sana.
Mulai dari hari itu, Ara dan Daniel hidup bahagia bahkan beberapa tahun setelahnya Ara kembali hamil anak ke 4 nya.
~The End~
______________________________________________
Dear All pembaca setiaku..
Aku sebagai author mau bilang terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk semua dukungan dan semangat dari kalian sepanjang aku berbulan-bulan nulis novel kedua ku ini. Bahkan aku sampe gak percaya ada juga pembaca setia ku dari novel ku yang pertama (One last Time) juga ikut baca novel ini + sering komen yang bikin Aku makin semangat. Oia Aku banyak-banyak minta maaf ya kalau di antara kalian ada yang kecewa atau gak puas sama karyaku ini tapi segenap jiwa raga dan pikiran udah aku kerahkan untuk buat cerita yang menarik tapi kalau di antara kalian masih ada yang kecewa maaf ya aku masih dalam proses belajar dan masih jadi penulis amatiran tapi aku berharap ceritaku ini gak semengecewakan itu hihi.. pokonya terimakasih banyak semuanya... i love you full 🥰❤