Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 93: Mengantarmu ke rumahku?



Daniel memasuki mobil mewahnya dengan perasaan bahagia. Ia merogoh selembar foto dari saku dan terus memandanginya.


"Keluarga bahagia," batin Daniel sumringah. Sesaat kemudian Daniel menarik tuas persneling, membawa mobilnya melaju menjemput Ara dan Brandon kemudian membawa anak istrinya masuk ke dalam mobil.


Suasana dalam mobil sedikit canggung, hanya terdengar celotehan Brandon yang sedang asik memainkan mainan barunya. Beberapa kali Daniel melirik wanita di sampingnya yang sedari tadi sibuk membuang muka ke luar jendela mobil.


"Kau melirik ku terus sebenarnya ada apa?" tanya Ara tiba-tiba, ia menoleh pada Daniel dengan wajah dingin. Daniel pun sekilas membalas tatapan Ara sambil tersenyum kecil kemudian kembali menatap kaca depan.


"Aku hanya berpikir apa kau benar-benar mengira aku seorang cenayang?"


Ara menatap wajah Daniel dengan wajah sangat aneh karena heran dengan pertanyaan Daniel barusan.


"Cenayang? kenapa memangnya?"


"Hmm, apa sebaiknya aku mengantarmu ke rumahku saja dan benar-benar membangun keluarga bahagia bersamamu? sepertinya itu ide bagus" Goda Daniel pada Ara, setelah mendengar ucapan Daniel, Ara baru menyadari sejak tadi ia belum memberitahu Daniel dimana ia tinggal. Seketika ia menjadi merasa sangat bodoh, ia pun tertawa getir.


"Oh, iya maafkan aku" Dengan suara terbata-bata akhirnya Ara memberitahukan alamatnya pada Daniel. Hanya butuh waktu 10 menit mereka telah sampai. Saat mobil sudah berhenti sempurna, Ara dan Daniel menoleh pada Brandon di kursi belakang secara bersamaan. Siapa sangka anak semata wayangnya telah terlelap tidur sangat pulas. Daniel dan Ara saling bertatapan.


"Brandon membeli sangat banyak mainan, kau tak akan bisa membawanya sendiri, biar aku bantu menggendong Brandon dan kau bisa membawa tas belanjanya sampai ke dalam rumah, bagaimana?"


Awalnya Ara sempat ragu mengiyakan tawaran Daniel, namun saat Daniel mengatakan Brandon membeli banyak mainan juga bukanlah omong kosong, akhirnya mau tidak mau ia mengangguk.


"Baiklah, tapi aku saja yang menggendong Brandon ya"


"Baiklah" jawab Daniel tersenyum singkat.


Kemudian Ara mulai turun dari mobil dan mulai menggendong Brandon untuk masuk ke dalam rumah. Sekilas Ara pikir tak ada siapapun di dalam rumah, sampai saat ia melewati ruang tengah ia mendengar suara Xander dan Meira berbincang hangat, ia sedikit terkejut.


Meira melihat Ara hendak naik dan terkejut melihat ke arah mereka, ia kemudian mendekat sambil berkata,


"Ara, kau sudah pulang?" Senyum Meira tak bertahan lama ketika ia melihat Ara tak masuk seorang diri. Seorang pria asing yang ia kenal ikut berjalan di belakang Ara. Meira menghentikan langkahnya tepat di depan Ara dan mulai memandang dingin saat menoleh pada Daniel.


"Kau? kau adalah.... "


"Dia temanku, Bi" Ara segera menyela ucapan Meira dengan takut-takut, ia bisa melihat wajah Meira sangat dingin melihat Daniel.


"Apa kabar bibi, aku Daniel Qin" Dengan tatapan dingin Daniel tersenyum pada Meira. Melihat wajah Meira, Daniel hampir yakin wanita paruh baya di depannya ini sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.


Samar-samar Xander yang sedang menikmati secangkir teh di ruang tengah mendengar percakapan Meira dan Daniel, mendengar nama Daniel Qin, Xander terkejut dan segera bangun dari duduknya dan bergegas menuju pintu depan. Seperti dugaan Xander, pria muda bernama Daniel ini cepat atau lambat akan datang mencari keponakannya dan hari ini akhirnya tiba juga.


"Meira, sebaiknya kau bawa Ara dan Brandon masuk kedalam," seru Xander pada Meira, kemudian Meira segera mengangguk dan mengambil alih tas belanja di tangan Daniel. Mata Xander mengikuti langkah Meira dan Ara sampai menghilang di balik pintu, setelah itu ia menoleh dan menatap Daniel dengan sangat dingin.


"Aku ingin bicara padamu, ikut aku"


Xander membawa Daniel masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia mempersilahkan Daniel duduk setelah itu pria paruh baya itu memantik korek api dan menyalakan sepuntung rokok di tangannya. Dalam-dalam Xander menghisap rokok itu dan seketika asap putih menyembul ke atas.


"Kau sungguh bernyali besar datang ke sini, Daniel! kau pasti tahu keluarga Li tak akan menyambut mu dengan baik!"


"Lalu kenapa masih bersikeras datang kemari? Ara sudah hidup dengan baik, kau masih belum puas membuatnya menangis, Huh?" Nada suara Xander meninggi, ia seperti kehilangan kontrol atas emosinya.


"Sejak awal aku tidak pernah dan tidak akan pernah menyakiti Ara"


"Mencampakkannya saat mengandung anakmu kemudian bertunangan dengan wanita lain, kau sebut apa perbuatan mu itu?"


Sebenarnya Daniel begitu malas menceritakan semua masalah ini dari awal, jika ingat kesalahannya dan membuat Ara sampai kehilangan ingatan dan menderita sampai seperti ini, ada rasa sakit yang tak terjabarkan di dalam hatinya. Tapi untuk meluruskan masalah ini, tentu saja ia harus menceritakannya pada Xander. Panjang lebar Daniel menceritakan duduk permasalahan mereka. Sepanjang Daniel bercerita, tidak sepatah katapun keluar dari mulut Xander. Ia hanya sibuk menyesap cerutu di tangannya tanpa menoleh sedikitpun pada Daniel.


"Meskipun begitu, bersamamu Ara akan terus menderita. Shamus tak akan membiarkan kalian bahagia dan tragedi kakakku akan terulang lagi pada Ara. Jika kau mencintainya, masih belum terlambat untuk meninggalkannya. Susah payah aku dan istriku membuatnya bahagia hampir 3 tahun ini, jangan kau rusak semua usaha kami dengan kedatangan mu dan jangan berusaha mengembalikan ingatan buruk masa lalunya, aku tidak akan membiarkan itu terjadi"


"Kalau kau pikir meninggalkan dan melupakan bisa semudah itu, maka sudah ku lakukan sejak 10 tahun lalu,"


"10 tahun lalu?"


"Paman pikir aku mencintai keponakanmu hanya dalam kurun waktu beberapa menit sejak kami bertemu di bar kala itu?kau salah besar paman! aku mencintai keponakanmu sudah sejak 10 tahun yang lalu saat kami bertemu di suatu acara di kota C. Sejak saat itu diam-diam aku mencari tahu tentangnya dan sejak saat itu, 10 tahun lebih aku menunggu waktu untuk bisa bersamanya, setelah aku mendapatkannya bagaimana aku bisa kemudian merelakannya pergi begitu saja?"


"Lalu, bagaimana caranya kau melindungi anak dan istrimu dari Shamus? bagaimana caranya kau menghadapi keluarga besar Qin mu itu?"


Daniel: "...."


Keheningan Daniel, membuat Xander tersenyum miris.


"Sudah ku duga, kau tak akan bisa menghindarkan Ara dan Brandon dari keluargamu, itu memang tidak mungkin. Lalu bagaimana aku bisa percaya Ara akan bahagia bersama mu? Lebih baik tinggalkan Ara sekarang, dia hidup dengan sempurna sebelum kau datang, jadi pergilah dan jangan kembali lagi" Xander melangkah menuju pintu keluar ruang bacanya. Namun langkahnya terhenti ketika Daniel mengeluarkan suara.


"Aku memang tidak bisa menghindarkan Ara dari keluarga ku, tapi aku bisa meninggalkan keluargaku untuk Ara"


"Meninggalkan keluarga mu untuk Ara? haha!". Xander tiba-tiba tertawa sinis, ia menoleh sekali lagi pada Daniel di belakangnya. "Coba kau lihat seluruh barang yang kau miliki sekarang, tidak ada satupun yang tidak termasuk kekayaan keluarga Qin"


Mendengar ucapan Xander, Daniel tersenyum angkuh.


"Harus aku katakan, kau salah kali ini. Tidak ada satupun kekayaan yang di miliki keluarga Qin yang bukan milikku."


Memang yang di katakan Daniel tidak berlebihan. Jika bukan karena kejeniusannya memegang semua aset keluarga Qin, mungkin saat ini keluarganya hanya tinggal kenangan dan mungkin akan tinggal di jalanan.


Hampir seluruh Aset keluarga Qin kala itu hampir di sita bank karena pertikaian eksternal dan internal keluarga, di tambah lagi rumor buruk yang sangat memojokkan keluarga Qin yang membuat hampir sebagian besar pemegang saham mencabut sahamnya.


Meskipun keluarga Li bukan termasuk keluarga kaya raya seperti Qin, namun keluarga Li adalah keluarga paling di hormati di kota G, karena jasa kakek buyut Ara sebagai jenderal utama yang menyelamatkan banyak rakyat pada masa penjajahan dulu. Hingga kini, siapapun yang berurusan dan merendahkan keluarga Li, ia tidak akan di terima baik di kota G. Apalagi saat Aldric memutuskan untuk keluar dari silsilah keluarga dan juga turun dari jabatannya di Down Grup, kekosongan jabatan yang terjadi beberapa lama itu membuat perusahaan gonjang ganjing dan hutang perusahaan bertambah banyak. Shamus bahkan hampir mati karena tertekan dengan keadaan seperti itu, sampai akhirnya Daniel mengambil alih perusahaan atas permintaan Aldric, siapa sangka tangan dingin Daniel bisa merubah keadaan dalam tempo beberapa tahun saja. Bahkan bisa membuat Down Grup berkembang dan menjadi perusahaan asia nomor satu di China dan Eropa. Jadi pada intinya, jika Daniel tak ada, keluarganya sudah pasti tak akan memiliki apa-apa.


Daniel dengan angkuh melangkah mendekati Xander yang sudah berdiri di ambang pintu, dengan tubuhnya yang tegap, ia menatap Xander dengan mata tegas dan tajam. Tak terlihat keragu-raguan dari sorot matanya.


"Aku mengerti kau khawatir pada Ara, tapi kekhawatiran mu tidak pada tempatnya, Paman! jika kau pikir kau bisa menghalangiku untuk bersama Ara hanya karena pertikaian konyol dua keluarga ini, maka kau harus menyiapkan hatimu menelan kekeecewaan dan sebaiknya kau teruslah bermimpi, karena semua itu tak akan pernah terjadi." Daniel tersenyum ketus pada Xander di depannya. Xander tak berkata apapun, ia masih berdiri terpaku di hadapan Daniel.


"Baiklah paman, aku akan pergi sekarang. Terimakasih telah mengkhawatirkan dan menjaga istri dan anakku selama ini. Mulai hari ini aku bisa pastikan kita akan sering bertemu bahkan secepatnya aku akan membawa Ara tinggal bersamaku. Selamat malam Tuan Li" Daniel membungkuk ringan dan tersenyum sebelum kemudian ia berlalu meninggalkan Xander yang berdiri terpaku menatap sosoknya yang menghilang dari balik pintu.