
(FYI readers cuman mau mengingatkan, Ara dan Daniel itu sekarang lagi ada di alur dan waktu yang berbeda ya, semua yang berkaitan dengan Ara dan Denis itu alurnya mundur, ada pertanyaan join GC / jangan ragu komentar ya 😉)
***
"Ara!!!! Berhenti Araaaaaa!!" Teriakan Danny tidak menghentikan langkah Ara namun justru Ara berlari terhuyung semakin cepat. Hingga akhirnya ia melihat gadis itu terjatuh dan berguling ke dalam jurang.
Danny mempercepat langkahnya, dengan hati-hati menuruni jurang itu. Saat ia sampai, ia melihat kondisi Ara begitu menyedihkan, luka lebam di manapun di tambah ceceran darah di kepalanya, hati pria itu menjadi sangat sakit.
"Ara bertahanlah, bertahanlah" seru Danny dengan sangat cemas. Tak lama kemudian beberapa orangnya datang. Danny kemudian mengangkat tubuh Ara menaiki jurang itu dan membawa ke rumah sakit terdekat.
"Ara, maafkan aku terlambat menyelamatkanmu, tolong bertahanlah. Aku tak akan bisa memaafkan diri ku sendiri jika terjadi sesuatu padamu, setelah aku tak bisa menyelamatkan ibu mu"
Setelah Denny membawa Ara ke rumah sakit terdekat. Ara segera mendapatkan perawatan darurat. Sesaat setelah Xander yang mendapatkan kabar bahwa Ara sudah di bawa ke rumah sakit di kota B, Xander dan Meira langsung terbang menuju kota B. Begitu juga Denis.
Setelah kehilangan jejak Ara, Denis yang merupakan direktur Premier Hospital dan anak dari pemilik rumah sakit besar di kota C, tentu saja ia sudah menghubungi semua kolega keluarganya yang sebagai dokter dan perawat di rumah sakit. Jika ada pasien bernama Ara, ia meminta mereka untuk segera menghubunginya sesegera mungkin.
Setelah menunggu setidaknya 3 hari, akhirnya salah seorang kolega menghubunginya, ia memberi tahu Ara berada di rumah sakit mereka. Saat ini hampir pukul 3 pagi, Tanpa pikir panjang Denis yang saat itu tengah berada di kantornya, sudah hampir 3 hari ini ia tak tertidur dengan lelap, ia bahkan terus menginap di rumah sakit, selain karena ia terus khawatir pada Ara, ia berada di sana juga karena Ia bersikeras merawat Higa dan Cliff secara langsung, itu adalah janjinya pada Ara. akhirnya segera bangkit dari duduknya dan langsung menuju kota B.
Butuh waktu 2 jam berada di rumah sakit terpencil itu. Saking terburu-burunya ia belum melepas jubah dokternya.
Memasuki rumah sakit, Denis langsung menuju ruang ER(Emergency Room). Kedatangannya di sambut dengan dokter yang berjaga di ER itu.
"Dimana Ara, Dok?!" Dokter jaga tertegun melihat Denis yang menggunakan jubah dokter dengan bordir nama rumah sakit terkenal di kota A "Premier Hospital".
" Nona Ara sedang kritis di ruang operasi, Tuan"
"Siapa yang menanganinya? pastikan dokter terbaik di rumah sakit ini" suara Denis bergetar, ia menatap dokter di depannya itu dengan wajah cemas. "Dan pastika kandungannya baik-baik saja," sambung Denis.
"Tentu saja Tuan Denis"
Di tengah percakapan mereka, seorang pria dan wanita paruh baya datang dari arah pintu masuk ruang ER. Dengan raut wajah khawatir, mereka mendekati Denis dan dokter jaga itu. Denis mengerutkan alisnya seketika melihat Xander datang.
"Paman Xander Li, anda juga datang"
"Denis, kau masih mengingatku?"
"Tentu saja, Paman"
"Tentu saja akan datang, bagaimana bisa membiarkan keponakan ku satu-satunya menderita sendiri, kau bukankah seharusnya di kota A?"
"Benar, aku baru saja sampai di sini, aku mendapatkan kabar Ara di rawat di sini, jadi aku datang"
"Kau benar-benar peduli pada Ara sejak kecil" Xander tersenyum sambil menepuk bahu Denis,"Lalu bagaimana keadaan Ara? apa dia baik-baik saja?" sambung Xander khawatir.
"Aku belum tahu paman, dokter mengatakan ia dalam kondisi yang kritis dan dia sedang...." , Denis belum sempat melanjutkan perkataannya, seorang dokter berlari ke arah Denis dan Xander. Dokter itu mengatakan, kondisi Ara terus turun dan tidak stabil, ia harus segera di pindahkan ke rumah sakit besar dengan perlengkapan yang memadai. Denis kemudian menoleh pada Xander.
"Paman, apakah kau percaya padaku? bisakah ia pergi ke kota G? Rumah sakit ayah di kota G sama besarnya dengan yang kami miliki di kota C, perlengkapan medis di sana sangat canggih, aku bahkan bisa membantu menanganinya sendiri dan juga, bolehkan aku mengganti nama Ara dengan nama lain? aku khawatir orang-orang yang mengancam Ara akan menemukan Ara dengan mudah."
Xander menatap wajah Denis dalam-dalam, ia seperti melihat sebuah hati untuk Ara. Lagipula yang ia katakan benar, mereka yang berani menyakiti Ara pasti mereka memiliki kekuasaan cukup, jika tidak, mereka tidak akan berani berurusan dengan keluarga Romanof dan juga Li.
"Baiklah, aku percayakan Ara padamu"
"Baiklah paman, terimakasih! aku akan segera meminta helikopter rumah sakit Premier untuk segera datang menjemput"
"Baiklah, itu lebih baik, lagi pula aku memiliki kekuasaan di kota G itu akan lebih baik untuk Ara."
Akhirnya Denis membawa Ara pergi ke kota G . Sebelumnya ia meminta rumah pihak rumah sakit mengganti nama Ara dan juga ia meminta agar siapapun yang bertanya tentang Ara atau kejadian ini pihak rumah sakit tidak boleh membocorkan nya pada siapapun agar Ara tidak bisa ditemukan oleh siapapun, termasuk Daniel.
***
hampir 4 jam Denis berada di ruang operasi bersama dokter ahli. Setelah melakukan MRI Scan, diketahui Ara mengalami cedera serius pada otaknya, mengakibatkan gegar otak dan ada pendarahan di salah satu bagian otaknya. Denis tidak terlalu terkejut karena dari awal saat melihat Ara ia hampir bisa memastikan Ara pasti akan terkena gegar otak serius mengingat luka benturan di kepalanya cukup banyak mengeluarkan darah, tapi yang ia tak habis pikir dan merasa itu adalah sebuah keajaiban adalah, kandungan di dalam perut Ara, ia baik-baik saja. Secara akal sehat, benturan yang terjadi di kepala Ara sudah bisa menggambarkan betapa kerasnya benturan-benturan yang terjadi, tapi kenapa janinnya bisa bertahan? hampir seluruh dokter mempertanyakan hal yang sama.
"Denis, bagaimana Ara? apakah ia baik-baik saja?" tanya Xander seketika ketika melihat Denis keluar dari pintu operasi.
"Untuk sekarang, kondisinya stabil paman. Namun kita harus mengevaluasi lagi setelah Ara bangun. Tapi yang aku khawatirkan adalah mungkin dia akan kehilangan ingatannya paman" Meira yang mendengar kondisi keponakannya pun tak bisa tak mengeluarkan air mata. Gadis itu sudah menderita terlalu banyak. Tiba-tiba ia teringat kandungan Ara, ia segera berdiri dan mendekati Denis.
"Denis, bagaimana dengan kandunganya? apa baik-baik saja? atau terjadi sesuatu?"
"Secara ajaib, janin di kandungan Ara baik-baik saja, bibi tak perlu khawatir," Denis tersenyum pada Meira. Xander dan Meira tersenyum lebar, setidaknya masih ada hal baik yang tersisa dari masalah ini. "Bibi, Paman, ada yang masih harus aku kerjakan, mungkin sebentar lagi Ara akan di pindahkan ke ruang VVIP di lantai 7, kalian bisa menunggu di sana"
"Baiklah, Denis terimakasih banyak"
"Jangan sungkan paman, baiklah aku pergi dulu" Xander dan Meira tersenyum dan mengangguk.