
Selesai membereskan Apartemennya, Ara bergegas pergi ke kantor FireGate. Sudah lebih dari 1 minggu semenjak ia pergi ke kota G. Ia membawa serta beberapa dokumen kerja sama yang tertinggal di hotel dan tak sempat Elly bawa saat itu. Mobilnya melesat cepat. Sesampainya di kantor, Ara sedikit bingung dengan pandangan beberapa pegawai. Bahkan ia tak diperbolehkan naik ke ruangannya. Ia tertahan di lobby.
"Maaf Nona Ara, Anda tidak di perkenankan masuk" ujar seorang sekuriti.
"Apa maksudmu? Kau lupa aku siapa?"
"Maaf nona, ini perintah"
"Siapa yang berani melarang ku? siapa yang memerintahkan mu?kau minta di pecat, huh?"
"Aku yang melarangnya!" Sebuah suara angkuh datang dari belakang Ara, Ara segera menoleh. Ia melihat Clara dan Meisye ( anak pertama dari istri kedua Higa) berjalan angkuh mendekat ke arah Ara.
"Kak, kenapa kau melarang ku? aku berada disini karena kakek yang memintaku"
"1 minggu ini banyak yang kau lewatkan Ara, Kakek kebanggaan mu itu menyerahkan seluruh aset dan perusahaan ini pada ku dan adik-adikku, selain kamu! jadi mulai sekarang kau tak perlu datang lagi dan kau sudah bukan lagi bagian dari keluarga ini! Clara tersenyum sinis
" Apa???! tidak mungkin!!"
"Bagaimana mungkin kakek menyerahkan seluruh aset dan perusahaan pada Clara, 2 minggu lalu, kakek justru memintaku untuk berhati-hati pada mereka. Bagaimana sekarang ia justru memberikan seluruh asetnya, ini tidak benar. Aku harus menyelidikinya" Batin Ara.
"Tapi sayangnya itu telah terjadi. Jika kau tak percaya coba ajak bicara kakekmu itu haha" seru Meisye sambil tertawa sinis, Ara menatap mereka tajam. Clara dan Meisy melangkah pergi, "Pasti ada sesuatu yang telah kalian lakukan pada kakek! ia tak mungkin menyerahkan perusahaan ini pada kalian, aku bahkan memiliki bukti kecurangan kau kak!!" Langkah Meisye dan Clara terhenti seketika dan mereka menoleh.
"Ara kau jangan asal bicara!" ujar Clara dengan wajah kesal. Ara tersenyum dan mendekati Clara dan berbisik, "Jangan sampai aku menemukan bukti kalau kakek koma karena ulah kalian, jika aku menemukan satu fakta pun kalian mencelakai kakek, aku tak segan melaporkan kalian atas tuduhan penggelapan dana. Sebaiknya kalian berhati-hati" seru Ara ketus. Ancaman Ara berhasil merubah ekspresi Clara. Senyum yang tadinya mengembang sempurna berganti dengan kekhawatiran. Ara kemudian melangkah pergi.
Sesampainya ia di dalam mobil. Ara menundukkan kepalanya di atas stir mobilnya. Ia belum benar-benar pulih tapi sudah harus terus terkejut dengan kejutan-kejutan keadaan. Semuanya terasa datang beruntun, ia bahkan bingung harus menyelesaikan masalah yang mana dulu agar keadaan membaik. Masalahnya dengan Daniel atau kakek. Kepala Ara begitu berat, ia berusaha menghubungi Elly, namun nomornya selalu sibuk.
"Ada apa dengan gadis itu, kenapa tak bisa di hubungi setelah kembali dari kota G? aneh sekali"
Ara kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah sakit dimana kakek dan ayahnya di rawat. Ia benar-benar hanya ingin menjenguk kakek, tak ada sedikitpun keinginan untuk menjenguk ayahnya. Tak berapa lama, Ara sampai di rumah sakit. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju bangsal VVIP, sesampainya ia di depan pintu, Ara menghela nafas panjang, ia terhenti sejenak di depan pintu. Perlahan ia membuka pintu, ia melihat Cliff terbaring dengan banyak kabel terpasang di tubuhnya. Suara beep dari bedside monitor terus terdengar. Ara mendekat dengan hati hancur. Kakek yang biasa terlihat ceria kini hanya terdiam terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Kakek, Ara datang, bagaimana keadaanmu kek?" Ara memegangi tangan kakeknya. "Bagaimana bisa kau jadi seperti ini kek? 2 minggu lalu kau masih sehat, tapi kenapa kau bisa seperti ini? kau bangunlah kek, Ara sekarang benar-benar hamil, apa kau tak ingin melihat anakku kek?"
"Ara, kau hamil?" Tiba-tiba seseorang datang, Ara menyeka air matanya dan menoleh ke arah pintu masuk. Ia melihat Denis berdiri di depan pintu."Maaf Ara aku tiba-tiba masuk, pintu tadi tak tertutup rapat, aku kebetulan lewat dan ingin menutupnya. Tak ku sangka kau berada di sini" Denis kemudian mendekati Ara.
"Iya kak, tak masalah" Ara tersenyum.
"Ara, kau hamil? benarkah?" Denis kembali menanyakan hal yang sama pada Ara. Raut wajahnya kini menjadi lebih cemas. Denis mengetahui berita tentang Daniel dan konferensi pers tentang pertunangannya. Ia langsung teringat Ara.
"Kak, bagaimana keadaan kakekku? bagaimana ia bisa di sini? ia sakit apa?" Ara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kak, apakah mungkin ia di racun atau semacamnya? aku mencurigai beberapa orang, 2 minggu sebelumnya, kakek mendatangiku dan memintaku untuk berhati-hati dengan beberapa orang. Kemudian aku pergi ke kota G untuk bisnis kemudian saat aku kembali ia sudah koma seperti ini"
"Hmm, aku akan membantumu menyelidikinya, tapi Ara... kau belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya"
"Benar kak, aku hamil 2 bulan" Mendengar yang di ucapkan Ara, Denis merasa ada sedikit nyeri yang tiba-tiba ia rasakan. "Jadi, kau selama ini berbohong padaku kalau kau menikah dengannya? itu sebabnya kau tak pernah memakai cincin kawin mu?"
"Kak, aku benar-benar menikah dengannya. Aku memiliki buku nikah yang sah dengannya dan anak ini adalah anak yang sah dari pernikahan kami"
"Lalu kenapa ia bisa mengumumkan rencana pertunangannya dengan orang lain? "
"Karena ia memutuskan untuk menceraikan ku dan mungkin aku benar-benar akan bercerai dengannya" Wajah Ara menjadi sangat sendu. Ia menahan jutaan tetes air mata yang hendak jatuh dari matanya.
"Ara, kau sedang hamil, bagaimana bisa ia menceraikan mu di saat seperti ini?!"
"Entahlah, Kak, sudahlah kak jangan membahas perceraian ku, hatiku jadi sangat sesak!" Denis tiba-tiba mendekat dan memeluk Ara.
"Ara, jika kau butuh seseorang untuk bersandar atau butuh bahu untuk menangis, datanglah padaku, aku akan slalu ada untukmu" ujar Denis, Ara mengangguk dan melepaskan pelukan Denis.
"Hmm.. terimakasih kak, aku baik-baik saja. Yang aku butuhkan sekarang adalah kau membantuku menyelidiki penyakit kakek dan jagalah dia.. aku akan sering datang berkunjung untuk menemui kakek"
"Hanya kakekmu sajakah? ayahmu juga di rawat di sini Ara"
"Tidak , yang aku pedulikan hanya Kakek, karena hanya dia yang peduli padaku"Ara berdiri dari duduknya "Aku hanya peduli pada orang yang peduli padaku, aku pergi dulu kak" Denis yang mendengar ucapan Ara, ia mengangguk kecil, Denis hanya sedang mencerna apa yang Ara hadapi sekarang.
***Star Lake***
Ara membuka pintu rumah mewah itu setelah 1 minggu ia kepergiannya. StarLake, pernah menjadi saksi kebahagiaannya. Ara menaiki tangga dengan mata terus memandang sekeliling. Mencari gambaran senyuman Daniel di setiap sudut. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar mereka. Butuh waktu beberapa saat untuk membuka pintu kamar itu. Di kamar inilah jantung kebahagiaan rumah ini berasal.
"Klak" suara handle pintu terbuka. Tidak ada siapapun di kamar itu. Wangi parfum Daniel pun masih tercium di sana.
"Jika kau ingin berhenti, maka aku akan berhenti, jika kau ingin ini di akhiri ,maka akan aku akhiri, dari awal pernikahan kita memang harusnya tak pernah terjadi, semoga kau lebih bahagia bersamanya,Daniel"
Ara membuka tasnya dan mengeluarkan amplop berisi surat perceraian yang sudah ia tanda tangani dan melepaskan cincin kawin yang baru ia pakai selama 2 minggu ini. Ia menunggu 1 tahun lebih untuk memakai cincin ini, setelah di pakai, ia harus melepaskannya setelah 2 minggu. Bukankah ini tidak adil?
Saat Ara hendak pergi, ia teringat dokumen yang pernah Clara berikan. Saat itu bahkan Daniel merasa ada yang tidak beres dengan keuangan perusahaan. Dokumen itu adalah barang bukti. Akhirnya ia mencoba mencarinya di ruang kerja Daniel. Tapi tak ia temukan di manapun.
"Ada dimana sebenarnya dokumen itu? apakah ia sudah membuangnya? itu adalah satu-satunya bukti yang aku punya! Agh sial!!"