
Keesokan harinya, mata Ara tiba-tiba terbuka. Ia tersadar dari tidurnya, ia terjaga di atas tempat tidur king size yang nyaman. Matanya refleks melihat sekitar dan juga tubuhnya. Ia masih memakai gaun yang sama dengan yang ia gunakan semalam. Ia melihat design kamar ini tak beda jauh dengan Villa mewah Kevan. Ini artinya mungkin ia masih berada di Villa Kevan.
Ara bergegas menguncir rambut panjang gelombangnya dan turun dari atas ranjang, ia meraih tas dan ponselnya berada di atas nakas.
Langkah cepatnya berusaha meraih gagang pintu namun sebelum itu pintu tiba-tiba terbuka. Ara melihat sepasang kaki jenjang memakai sandal slip on putih berdiri di depannya. Ara menaikan pandangan matanya. Betapa terkejutnya Ara ketika mengetahui pria di depannya bukan Kevan seperti di bayangannya tapi justru Jade.
Bagaimana bisa? pikiran Ara berusaha mencerna apa yang telah terjadi. Setelah kejadian di basemen itu, ia tak bisa mengingat apapun.
"Ara,kau sudah bangun" melihat Ara membawa serta tas dan ponselnya, Jade mengerutkan alisnya "Kau mau kemana?".
"A..aku.. harus ke kantor"
"Apanya ke kantor, inikan hari sabtu" seru Jade mencubit pipi Ara lembut, wajah Ara memerah. Kemudian menarik tangannya, menuruni tangga dan masuk untuk duduk di ruang makan.
"Ayo temani aku sarapan" Seru Jade tersenyum lembut pada Ara. Di ruangan itu bukan hanya mereka berdua, ia melihat Sisil dan Kevan.
Sisil melihat Ara masuk bersama Jade, senyumnya mengembang. Ia melambaikan tanganya isyarat untuk duduk di sampingnya.
Sedangkan Kevan tak menatapnya sama sekali, ia sibuk membaca koran di tangannya.
Dengan canggung Ara duduk di samping Sisil.
"Ara, apa kau sudah baikan? kata dokter kau kelelahan sampai jatuh pingsan kemarin"
"Hah pingsan? aku?" batin Ara, ia benar-benar kebingungan. Secara tidak sadar justru tertawa canggung.
"Makan lah yang banyak, kau butuh banyak makan agar tidak lemah seperti ini" seru Jade sambil menyodorkan roti selai pada Ara. Ara sekali lagi tersenyum canggung. Ragu-ragu ia melihat kearah Kevan di ujung meja. Ia tak bereaksi apapun.
"Terimakasih, tapi sungguh aku tidak lapar. Aku harus pulang, maaf merepotkan kalian"
Dengan cepat ia berdiri dan mendorong kursi di belakangnya. Namun lengan Ara di raih cepat oleh Sisil. Ara seketika menatap wajah Sisil di sampingnya.
"Ara tinggalah di sini sementara ini, Jade dan Kevan akan pergi beberapa hari karena acara Keluarga. Di rumah sebesar ini sendiri, aku akan berterimakasih jika kau mau menemaniku"
Wajah Sisil kali ini benar-benar sedang berharap. Ara bisa membayangkan betapa membosankannya hidup di Villa besar seperti ini hanya bersama pelayan dan tunangan. Tak ada kegiatan berarti pasti menyedihkan
Ara sekilas melirik Jade dan Kevan. Mereka memiliki kesan wajah yang berbeda. Jade masih dengan wajah cerianya tersenyum mengangguk sambil sibuk mengiris roti di hadapannya. Sedangkan Kevin, dengan acuh tak melihatnya sama sekali.
"Ara, berbaik hatilah padaku, ku mohon, kau satu-satunya temanku selain Kevan dan Jade"
Melihat wajah Sisil seperti itu, Ara menghela nafas panjang.
"Baiklah"
Senyum Sisil merekah mendengar jawaban memuaskan dari Ara. Ara kembali duduk. Ia perlahan meraih pisau dan garpu untuk memotong roti di hadapannya, matanya menyiratkan keraguaan. Anggap saja ini kesempatan untuknya mencari tahu lebih dalam tentang cincin itu.
Setelah sarapan selesai, Ara di antar Sisil kembali ke kamarnya. Wajah cerianya seperti bunga matahari yang baru mekar. Begitu cantik dan indah. Ia menyeret tangan Ara menunjukan baju-baju yang ia siapkan untu Ara. Bak seorang anak kecil mendapatkan boneka baru, ia begitu bersemangat.
Akhirnya Sisil meninggalkan Ara sendiri di dalam kamar setelah ia katakan ingin mandi dan berganti baju.
30 menit Ara tenggelam di dalam hangatnya air di dalam bathub. Ia terus mengingat-ingat apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana bisa dalam waktu 1 sampai 2 jam mereka berada di basemen tidak ada yang curiga, mungkin tidak akan ada yang menyadari Ara hilang namun bagaimana dengan Kevan? tidak mungkin Sisil tidak mencarinya? bagaimana ia bisa di temukan pingsan di taman? Ara benar-benar tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sampai akhirnya suara ketukan dari luar ruangan terdengar beberapa kali.
Menyadari suara Jade berada di depan pintu Ara segera bangun dan meraih jubah mandi yang berada tak jauh dari bathub. Ia buru-buru hendak membuka pintu, namun karena tidak ada jawaban dari dalam Jade memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Jade mendorong pintu dengan kuat, Ara tak mengira pintu akan terbuka, menghindari kepalanya terbentur pintu yang terbuka, dengan cepat Ara melangkahkan kaki basahnya kebelakang, ia berhasil menghindar namun justru kakinya tergelincir. Tangan Ara meraih apapun untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh, siapa sangka justru menarik kemeja Jade. Mata Jade membulat terkejut, tarikan tangan Ara membuat Jade kehilangan keseimbangan. Jade tak sempat menopang tubuh Ara hingga akhirnya mereka berdua jatuh bersamaan. Ara berteriak.
Matanya seketia tertutup, ia berusaha menyiapkan mental merasakan sakit karena terjatuh, tapi saat terjaruh ia justru merasa sebuah benda menahan kepalanya agar tidak terbentur di lantai. Lengan Jade menahannya dengan sempurna.
Saat Ara membuka matanya, ia melihat wajah Jade begitu dekat dengan wajahnya, bahkan ia jatuh di atas tubuh telanjangnya yang hanya terbalut dengan jubah mandi. Pandangan mata mereka bertemu.
Di saat yang sama langkah kaki cepat masuk ke dalam kamar Ara.
"Ara, ada apa?"
Suara sisil begitu terdengar khawatir. Mata mereka membulat ketika mereka sampai di depan pintu kamar mandi dan melihat tubuh Jade berada di atas tubuh sisil yang hanya di balut jubah mandi. Sisil tersenyum, berbeda dengan Kevan. Matanya benar-benar di tutupi kabut hitam. Apalagi melihat jubah mandi Ara yang sedikit terbuka memperlihatkan bahu indah dan kaki jenjang Ara.
"Mau sampai kapan kalian ada di posisi begitu?" Tanya Sisil menggoda.
Seperti tersadar dari lamunan masing-masing Ara segera mendorong tubuh Jade menjauh dari tubuhnya. Mereka segera berdiri dan Ara segera merapihkan jubah mandinya.
Wajah Ara benar-benar merah. Ia bahkan tak berani manatap wajah sisil.
"Dasar ******* kecil!!" batin Kevan mengamuk dalam hati.
Wajah Kevan benar-benar di rundung emosi tak tertahankan, baru semalam ia meminta wanita ini menjaga tubuhnya, sekarang justru menikmati tekanan dari pria lain.
"Ja..jangan salah paham sil, aku hanya tak sengaja terpeleset dan menarik kemeja Jade hingga kami terjatuh, tidak terjadi apapun"
Ara diam-diam melirik menatap Kevan yang juga sedang menatapnya dengan tajam. Ia berbicara dengan Sisil tapi perkataannya seperti sedang menjelaskan untuk Kevan agar ia tak salah paham.
"Kenapa kalian harus datang? kalian benar-benar merusak suasana kami"
Di luar dugaan tangan Jade melingkar di pinggang Ara dan membawanya lebih dekat untuk masuk ke pelukannya. Ara menatap Jade dengan kesal. Ia berusaha melepaskan tangan Jade namun nihil.
"ah benar juga, maafkan aku kak, kalau begitu kalian lanjutkanlah, kami tidak akan mengganggu lagi"
Seru Sisil mengedipkan satu matanya, pada Ara. Membuat Ara bertambah canggung. Reaksi Jade? tak perlu di tanya lagi, ia terseyum lebar seakan-akan senyumnya akan memenuhi wajahnya.
Ara terus di hujani tatapan mata membunuh Kevan. Sisil berusaha mendorong tubuh Kevan keluar, namun tubuh tinggi besar itu tak terpengaruh sedikitpun.
"Jade, sebaiknya kau cepat ganti bajumu,kita harus mengejar pesawat"
Wajah Kevan yang ketus itu tertangkap oleh Sisil. Sisil menatap Kevan dengan tatapan Aneh. Kevan tak pernah sedingin itu pada Kakaknya. Kali ini berbeda. Sesuatu dengan cepat terlintas di pikirannya, namun ia segera menepis dugaan itu. Ia menolak dugaan itu mentah-mentah.
"Baiklah,baiklah, aku akan segera ganti baju, dan untuk mu nona sekretaris, kita akan lanjutkan urusan kita setelah aku kembali nanti ya"
Jade melepaskan ucapan itu dengan sangat ringan. Ia mencubit kecil dagu Ara, Ara segera menepis cubitan itu. Langkahnya mulai terayun mantap meninggalkan Ara. Ia seakan tak peduli wajah Ara yang tiba-tiba membiru karena kaget mendengar ucapan serampangannya barusan.
Sisil mengikuti langkah Jade di belakang, Kevan masih berdiri di depan Ara.
"Kau hanya miliku, itu artinya hanya aku yang boleh menyentuhmu! aku harap kau mendengar kata-kataku dengan serius, aku tak ingin ini terulang lagi!!"
Kevan melangkah meninggalkan Ara. Ara bisa dengan mudah merasakan hawa emosi dari setiap perkataan Kevan. Meskipun begitu tenang, tapi berhasil membuatnya mati tenggelam dalam aura dingin Kevan. Laki-laki itu benar-benar monster misterius. Ara tidak boleh menyinggungnya sebelum cincin itu benar-benar di dapatkannya.