Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 99



" Kau jangan berfikir seperti itu, kita akan membangun keluarga bahagia. Dan aku janji hal seperti itu nggak akan terjadi, dan anak-anak kita akan selalu hidup bahagia bersama dengan kita." ucap Rangga meyakinkan Karin.


" Beneran?" tanyanya kembali.


" Iya sayang." jawab Rangga dengan tersenyum.


" Kalau begitu ok." jawabnya dan Rangga pun langsung memeluk Karin.


" Ih jangan peluk-peluk, nanti kalau Naura lewat lagi kan jadi malu." ucap Karin yang tersipu malu.


" Akhirnya yang ku nanti-nanti akan segera tiba." ucap Naura yang mengintip kegiatan Rangga dan Karin.


...----------------...


Pagi yang sangat cerah, hari ini Arga berangkat bersama dengan Putra. Putra akan menjadi anak baru disekolah Arga, dan Arga mulai merasa takut. Jika Putra bertemu dengan Rasya, dan Rasya tidak mengenalinya. Pastinya Putra akan berfikir ia berbohong, dan hal itu membuat Arga panas dingin.


Keduanya sudah tiba di sekolah, semua siswa dan siswi menatap ke arah keduanya. Semuanya sangat penasaran dengan Putra, bahkan yang sampai menabrak karena melihat keduanya. Tetapi tiba-tiba saja Arga teringat dengan Naura, dan masih bingung harus mengatakan apa pada pacarnya itu.


" Aku harus berbicara dengan Ara, dan dalam waktu dekat harus memutuskan hubungan kami. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Naura, demi keselamatan Naura, ayo Arga kau pasti bisa." batin Arga.


Naura yang melihat Arga, ia pun menghampirinya. Dan Arga pun menarik Naura untuk menjauh dari keramaian itu, tetapi sesuai dugaan. Ada seseorang yang mengikuti mereka, dan ia sangat menantikan apa yang dikatakan oleh Arga.


" Ara, aku minta maaf. Sepertinya hubungan kita harus berhenti sampai disini, aku harap kau bisa menemukan yang lebih baik dari ku." ucap Arga dan Naura tampak mematung, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


" Kakak bercanda kan?" tanya Naura.


" Maaf Ara, ini kebenaran." ucap yang dan Naura pun menutup wajahnya kemudian meneteskan air mata.


" Kak, pliss bilang ini cuma prank." ucapnya dengan menggoyangkan tubuh Arga.


" Maaf Ara, ini nyata." ucapnya.


" Aku ada salah apa kak, kalau ada bilang. Jangan berbuat seperti ini, aku yakin semuanya bisa di bicarakan baik-baik." ucap Naura.


" Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi." ucap Arga kemudian pergi meninggalkan Naura.


" Kak Argaa…hiks, hiks." panggil Naura dengan berderai air mata.


Seseorang yang mengikuti mereka pun mengirim vidio itu kepada Rasya, ia pun akhirnya kesenangan.


" Akhirnya mereka putus juga, kalau begini aku kan bisa dengan mudah mendapatkan Arga. Dan nggak usa capek-capek menyingkirkan orang, dan ini juga menghemat waktu dan tenaga yang aku miliki." batin Rasya dengan tersenyum.


Tiba-tiba saja Naura masuk ke kelas, ia tampak sedang menangis. Tania yang melihat keanehan dari sahabat sekaligus saudaranya, ia pun langsung mendekatinya.


" Ara kau kenapa?" tanya Tania yang penasaran.


" Aku nggak apa-apa kok." jawabnya kemudian langsung duduk.


" Sepertinya ada yang tidak beres, aku harus bertanya sama kak Arga. Karena sebelum dia baik-baik saja, tetapi kini dia berubah." batin Tania.


" Syukuri, rasain di putuskan." batin Rasya dengan tersenyum melihat Naura.


Tania mulai melihat Rasya, karena ia melihat raut wajah Rasya yang tanpa bahagia. Ia pun mulai curiga, apakah Rasya mengetahui apa yang terjadi pada Naura. Atau itu semua adalah pikirannya saja.


Naura tampak murung, dan ia tidak mau bercerita kepada siapapun. Kini ia mencoba fokus belajar, apalagi sebentar lagi sudah waktunya ujian. Iya belajar dengan serius tanpa memperdulikan orang yang ada di sekitarnya.


" Ara, ada apa denganmu?" tanya guru itu.


" Saya tidak apa-apa bu." jawabnya dengan tersenyum.


" Kamu yakin?" tanyanya untuk memastikan.


" Iya bu, ibu tenang saja." jawabnya dengan tersenyum.


" Yasudah, tapi jujur ibu masih penasaran dengan ekspresi di wajahmu." ucap guru itu yang masih penasaran.


" Saya beneran tidak ada masalah Bu." ucapnya.


" Ya sudah, tapi kalau kau adalah masalah kau tinggal cari ibu aja." ucap guru itu, dan Naura pun tersenyum. Kemudian ia pun keluar dari ruang guru.


...----------------...


" Ara, maaf kan aku. Aku harus melupakan ini, ini semua juga demi kebaikanmu." batin Arga.


" Kenapa ya dari tadi Arga melamun terus." ucap Dion dengan menunjuk Arga.


" Aku kira cuma aku yang merasakannya." jawab Ryan.


" Tidak, aku juga." ucapnya.


" Gimana kalau kita cari tau, jujur aku masih sangat penasaran." ucap Ryan.


" Iya, aku juga masih sangat penasaran." ucap Dion.


Ucap keduanya, kemudian mereka mendekati Arga. Tetapi mereka tidak menanyakan apa-apa, karena mereka sudah mengetahui jawabannya. Jadi mereka memutuskan untuk mencari tau alasan dari sikap Arga, dan akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu dengan Tania. Ryan pun meng WhatsApp Tania, untuk memberi tau letak tempat pertemuan mereka.


" Tania, temui aku dan Dion di cafe Abdul." pesan Ryan.


" Ok kak." balasnya.


Tidak terasa jam pulang sekolah pun telah tiba, kini mereka berkumpul di cafe Abdul. Tania memasuki pintu cafe, dan ia mencari-cari letak keberadaan Ryan dan juga Dion. Akhirnya ia pun melihat keduanya, dan Dion pun melambaikan tangannya pertanda kalau tanya harus ke sana.


" Maaf Kak, aku terlambat." ucap Tania.


" Iya tidak apa-apa, kebetulan kami juga baru sampai." ucap Dion dengan tersenyum.


" Baik seperti yang sudah aku sampaikan tadi siang, kita akan membicarakan mengenai Naura dan juga Arga." ucap Ryan.


" Iya benar, sikap Naura sangat aneh tadi. Tetapi ia tidak mau cerita apa-apa, dan aku masih teringat kalau tadi pagi ia bertemu dengan keluarga sebelum kondisinya seperti itu." jelaskan ya dan keduanya pun mengangguk.


" Situasi Arga juga begitu, dan kami juga sangat kebingungan. Sebenarnya mereka ada masalah apa sih, dan hal ini sungguh sangat membingungkan." jelas Dion.


" Kalau begitu kita harus menyelidikinya, badan kita harus segera menemukan akar dari permasalahan ini. Karena bila permasalahan ini berlarut-larut, maka hubungan kita juga akan ikut renggang." jelas Ryan dan keduanya pun mengangguk.


" Yang kak Ryan katakan memang benar, kalau biasanya aku akan sangat mudah mengorek informasi dari Naura. Tetapi untuk saat ini akan sangat sulit, karena aku dan Naura tidak tinggal satu rumah lagi." jelasnya dan membuat keduanya kaget.


" Aku nggak salah dengar kan, kalau Naura sudah tidak tinggal denganmu. Lalu Naura tinggal dengan siapa?" tanya Dion.


" Naura tinggal di rumah kakak angkatnya, dan kakakku juga sudah mengizinkannya. Tetapi untuk berhubungan dengannya akan sangat sulit, karena kakaknya adalah orang yang sangat keras." jelas Tania.