Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 25



Para pemuda itu pun sangat penasaran, dan mereka kembali ke tempat semula dan menatap ke arah gadis itu.


" Itu namanya Tania, dia anak kelas XI ¹. dan satu lagi, dia itu temen gue di modeling." jelas gadis itu dan membuat para pemuda itu kaget.


" Dia teman model lo, tapi kita kok nggak pernah lihat lo bareng dia?" tanya salah satu dari mereka yang mulai penasaran.


" Ya karena gue nggak terlalu akrab sama dia lah, apalagi memang. Seperti yang bisa kalian lihat, parasnya yang cantik sangat jauh di atas rata-rata." jelasnya kembali dengan wajah yang mulai bosan.


" Masuk akal juga, pasti susah kalau mau deketin dia." ucap salah satu dari pemuda itu dan membuat gadis itu yang bernama Lusi menjadi tersenyum.


" Sebenarnya nggak susah kok, kalau kalian mau sepulang sekolah nanti aku kenalkan sama kalian." ucapnya dengan penuh percaya diri.


Ketiga pemuda yang mendengar penuturan dari Lusi, mereka tersenyum dan tak sabar ingin berkenalan dengan Tania. Mereka terus saja memandang ke arah Tania. Hingga Pak Doni guru penjas mereka menarik kerah baju mereka bertiga.


" Bagus ya kalian bertiga, bukannya olahraga malah memperhatikan Tania." ucapan Doni yang sangat emosi melihat tingkah ketiga orang pemuda itu.


Mereka bertiga tidak ada yang menjawab, mereka langsung kembali ke barisan. Dan bersiap-siap untuk melakukan pemanasan. ketiga pemuda itu terus berlari namun matanya tetap menatap ke arah Tania.


Tania duduk berjongkok di depan pintu kelasnya, dan tidak menyadari kalau ia kini menjadi pusat perhatian anak kelas XII yang sedang jam pelajaran olahraga.


Pak Doni menggelengkan kepalanya, melihat tingkah ketiga siswanya itu. karena ia muak, Ia memutuskan untuk memanggil Tania.


" Tania." teriak Pak Doni dari arah lapangan.


Bu Indri yang mendengar suara Pak Doni, Ia pun keluar untuk memastikan. Apakah Pak Doni memanggil siswanya atau hanya namanya saja yang sama.


Ketika Bu Indri berada di pintu, ia melihat kelas berapa yang sedang dalam jam pelajaran olahraga. Dan ternyata itu adalah kelas XII ³, dan ia tau. Kalau di kelas itu, tidak ada siswi yang bernama Tania.


Pak Doni yang menyadari perubahan di wajah Bu Indri, Ia pun pergi menuju ruangan kelas itu. Dengan niat untuk menjelaskan, mengapa ia memanggil Tania.


" Halo Bu Indri." ucapnya dengan ceramah mungkin.


" Ada apa ya bapak panggil-panggil anak saya." ucap Bu Indri dengan ketus karena tidak suka melihat Doni memanggil anak didiknya, apalagi kini pada saat jam pelajarannya.


Pak Doni yang melihat kemarahan di wajah Bu Indri, Ia pun memutuskan untuk kembali ke lapangan. Dan ia sampai melupakan niat awal untuk menemui ibu Indri.


Pak Doni pun memarahi ketiga siswanya, dan memerintakan untuk lari keliling lapangan. Bu Indri yang melihat dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian kembali ke kelas.


Tania yang melihat ketiga pemuda yang sedang berlari karena di hukum oleh pak Doni, ia pun tertawa. ketiga pemuda itu yang memperhatikan Tania, mereka merasa sangat malu.


Rasa malau mereka tiba-tiba hilang, karena tawa dari Tania yang membuat wajah Tania tampak sangat cantik.


Setelah selesai berlari keliling lapangan, mereka berbaik basket. Mereka semua bermain dengan sangat selektif. Hingga tanpa terasa jam istirahat pun tiba.


" Baiklah anak-anak, karena bel sudah berbunyi, maka pembelajaran cukup sampai disini." jelas bu Indri kemudian pergi meninggalkan ruangan kelas.


" Kamu tadi kenapa Tania?" tanyanya yang sebenarnya mendengar dengan jelas nama yang disebutkan oleh Tania tadi.


" Sa-saya Bu..." jawabnya dengan terbata, kemudian di hentikan oleh Bu Indri.


" Sepertinya kamu masih kebingungan untuk menjelaskan, yasudah lain kali jangan di ulangi ya. Ibu mau ke kantor, masih ada urusan." jelasnya kemudian pergi menuju arah kantor guru.


Jam pelajaran olahraga juga sudah selesai. Namun, Lusi dan ketiga pemuda itu masih berada di lapangan dan memperhatikan Tania.


Naura tiba-tiba saja keluar, ketiga pemuda itu kembali terpanah melihat kecantikan Naura. Dan mereka bertiga yang baru saja pulang dari pertandingan olahraga di luar kota setelah sebulan. Mereka tidak mengenal Naura, dan menatap ke arah Lusi.


Lusi yang melihat tingkah teman-temannya itu, ia pun memutuskan untuk menjelaskan siapa sebenarnya Naura.


" Ok, Tania masuk ke sekolah ini saat awal semester lalu. Dan dia bisa masuk ke kelas XI ¹, dengan mengerjakan beberapa tes. Dan yang baru aja keluar, itu adalah Naura. Dia baru masuk Minggu lalu, dan kisah dia sangat menggemparkan. Dia bisa masuk kelas XI ¹ dengan 1 kali tes." jelas Lusi dan membuat ketiga pemuda itu kaget.


" Sa-satu kali tes, nggak salah itu Lus?" tanya salah satu pemuda yang bernama Bayu dengan terbata.


" Nggak la, itu semua sesuai dengan fakta yang ada." Lusi meyakinkan mereka kembali dengan kata-katanya.


" Wau, sangat hebat. Lo bisa kenalin kita sama mereka kan lu?" tanya pemuda itu kembali.


" Tentu aja Bayu and the genk. hehehe." jawab dengan meledak dan tertawa, kemudian melarikan diri.


Mereka sudah terbiasa dengan tingkah Lusi, jadi mereka tidak ingin bertengkar. Dan menahan kesabaran.


Lusi terus berlari, walaupun tidak ada satupun dari ketiga pemuda itu yang mengejar ia. Ia kemudian langsung berganti pakaian di ruang ganti. Setelah selesai, ia langsung menuju ke kantin karena lapar dan meninggalkan ketiga pemuda yang sempat tertawa bersamanya sebelumnya.


Suasana kantin sangat ramai, kabar pertengkaran Naura dan Zia pun akhirnya sampai ke telinganya. Dan kabar itu membuat ia sangat kaget.


Setelah membeli makanan yang ingin ia makan, ia segera kembali ke kelasnya untuk memberi tahukan berita yang ia dengar kepada Bayu and the genk.


Ia berlarian menuju tempat biasanya ketiga pemuda itu berkumpul, dan tempat itu banyak yang tidak mengetahuinya. Sesampainya ia di tempat itu, hanya ada "Tama" saja di ruangan itu.


" Tama, Bayu ada dimana?" tanyanya yang tidak menemukan siapapun di ruangan itu.


Tama tidak menjawab, ia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Lusi. Dan hal itu membuat jantung Lusi berdebar dengan sangat kuat.


Lusi yang ketakutannya, ia terus memundurkan kakinya. Hingga tak terasa kakinya sudah membentur dinding yang ada di belakangnya.


Lusi tampak ketakutan dan ingin menangis. Tama yang melihat wajah Lusi, ia pun tertawa dengan sangat kuat. Dan hal itu membuat Lusi sangat marah, ia pun mencubit tangan Tama dengan sangat kuat.


Tama yang mengetahui kalau hal itu tidak akan hanya terjadi sekali, ia pun berlari untuk melarikan diri Lusi. Lusi pun mengerjakannya, hingga mereka berlarian di lapangan sekolah dan menjadi pusat perhatian semua siswa dan siswi yang berlalu lalang.