Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 110



" Apa aku lupakan aja ya tujuanku ke sini, tampaknya mereka sangat baik." batin Rasya dengan menatap keduanya.


Tiba-tiba saja telpon Rasya berdering, ia pun segera mengangkatnya.


" Halo ayah." ucapnya untuk mengawali telepon.


" Kau sedang di mana nak?" tanya Beni dari seberang telepon.


" Rasya masih di sekolah ayah." jawabnya.


" Oh ternyata kok masih di sekolah, ayah hanya ingin menyampaikan satu hal. Setelah pulang sekolah, kau jangan ke mana-mana ya. Ayah akan mengunjungimu di Indonesia." ucap Beni dan membuat Rasya sangat bahagia.


" Yang bener ayah, ayah nggak lagi bercanda kan?" tanyanya untuk memastikan.


" Ayah tidak sedang bercanda, jadi kau jangan kemana-mana." ucap Beni dengan nada baritonnya dan membuat Rasya pun ketakutan.


" Baik ayah, Rasya akan pulang ke rumah setelah pulang sekolah." jawabnya.


" Kalau begitu, ayah akan tunggu kau di rumah." ucap Beni kemudian langsung mematikan sambungan telepon.


" Tampaknya kau sangat bahagia?" tanya Zaky yang memperhatikan wajah Rasya.


" Tumben kau memperhatikan anggotamu." ucapannya yang agak pedas.


" Walau bagaimanapun, aku memiliki tanggung jawab sebagai ketua kelas. Rasya baru saja pingsan, karena itu aku harus memperhatikannya. Aku bukannya tidak peduli, hanya saja kita memiliki kesibukan kita masing-masing. Dan kali ini aku memperhatikannya, atas tanggung jawab yang diberikan kepadaku. Dan seperti yang kalian ketahui, dia tadi juga baru pingsan. Aku juga harus memperhatikannya, takutnya dia pingsan kembali. Dan karena dia senyum-senyum, aku jadi takut kalau dia kerasukan." ucap Zaky dan ada dari beberapa yang tertawa mendengar kata kerasukan.


" Benar saja kau Zaky, masa si rahasia sampai kerasukan. Sungguh sangat lucu, hehehe." ucap salah satu dari mereka dengan tertawa.


" Setidaknya kita harus mengantisipasi, walaupun kita hidup di zaman modern. Hal seperti itu masih mungkin terjadi, karena di dunia ini kita sama-sama menumpang. Bila kita membuat kesalahan kepada mereka, bisa saja mereka berbuat hal yang aku katakan tadi." ucap Zaky dan ada beberapa dari teman-teman yang mengganggu.


" Yang dikatakan Zaky ada benarnya juga." ucap seorang pemuda yang memang memiliki kelebihan di bidang tersebut.


" Nggak usah ngikut-ngikut deh." ucap salah seorang yang sudah kesal.


" Sudahlah guys, untuk apa kita bertengkar. Kita disatukan untuk saling mengerti dan melengkapi, bukan untuk saling menghujat." ucap Naura yang membuat mereka semua terdiam.


" Kau selalu bisa aja bisa membuat kami terdiam, sepertinya asam garam kehidupanmu sangat pahit ya." ucapan muda yang memiliki kelebihan tersebut.


" Jangan banyak mengatakan perkataan yang aneh-aneh, perkataanmu itu bisa membuat orang berpikir negatif. Bila kau memiliki sebuah kelebihan, gunakanlah kelebihanmu untuk membantu seseorang. Jangan gunakan kelebihanmu, untuk menjatuhkan seseorang." jelas Naura yang membuat ia terdiam dan kemudian ia segera pergi dari ruangan tersebut.


" Yang dikatakan oleh Naura sangat benar, kau ini jangan mengusik orang-orang. Oke saat ini kau sedang membantuku Afan, tetapi perkataanmu yang sering membuat teman-teman kita takut. Hal itu membuat mereka menjadi membencimu, aku harap kau bisa intropeksi diri. Ingat intropeksi diri, bukan menyalahkan orang lain.


" Iya Zaky, aku tahu aku sudah sangat bersalah. Aku sering menggunakan kelebihanku bukan untuk hal yang baik, tetapi untuk mengerjai kalian. Dan aku paham akan itu semua, kalian pastinya tidak nyaman dan merasa kalau omonganku itu hanya bualan saja." jelas Afan dan Zaky pun mengangguk.


Apa yang dikatakan oleh Naura dan juga Rasya, saat ini perkataan mereka terus saja memutar-mutar di dalam otak Afan. Ia terus saja terlena dengan perkataan keduanya, hingga akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Sontak saja papan kaget dengan suara bel tersebut, dia tidak menyangka kalau dia melamun hingga selama itu.


Semua siswa pun berhambur untuk pulang ke rumahnya, kini Naura dijemput oleh Rangga. Dan mereka rencananya akan langsung berangkat ke Singapura, agar mempercepat acara Rangga dan juga Karin.


Kini mereka sudah sampai di bandara, mereka segera melakukan proses yang harus dilakukan. Akhirnya kini terdengar panggilan kalau pesawat yang mereka naiki akan segera terbang, mereka pun segera pergi menuju pesawat. Kini Rangga merasa iri dengan Naura, karena sejak tadi Naura selalu memeluk pacarnya.


" Dek boleh tukaran tempat duduk nggak?" tanya Rangga.


" Oh tidak bisa, untuk hari ini kak Karin hanya menjadi milikku." ucapnya dengan memeluk erat Karin.


" Dek dia itu calon istri kakak, kenapa kau menguasainya?" tanya Rangga dengan ekspresi sedih.


" Iya kakak ini emang calon istri kakak, dan itu artinya kak Karin calon kakak ipar aku. Untuk saat ini aku mau sama kak Karin, Karena setelah sampai di Singapura aku nggak akan bisa berpelukan dengan kak Karin. Kakak nggak usah bohong, ketika kita sudah sampai di sana pastinya kita semua akan repot untuk mempersiapkan pernikahan kakak." ucap Naura dan akhirnya Rangga pun memutuskan untuk mengalah.


Tidak terasa, kini pesawat mereka sudah lepas landas. Kini mereka sedang menunggu jemputan di bandara, tidak lama setelah itu muncullah seorang gadis kecil yang berlari memeluk Karin. Gadis kecil itu sangat menggemaskan, hingga rasanya Naura ingin mencubit pipinya yang chubby.


" Dia siapa Kak?" tanya Naura dengan menunjuk gadis kecil itu.


" Ini keponakanku, namanya Maura." ucap Karin.


" Wah nama yang sangat indah, pasti ini anaknya kak Danang ya?" ucapnya dengan mencubit pipi Maura gemas.


" Iya tante, aku anaknya ayah Danang." jawabnya dengan lembut.


" Wah sangat menggemaskan sekali." ucap Naura yang kemudian langsung mencubit pipi Maura.


" Aku memang menggemaskan tante, tapi bukan berarti tante bisa mencubit pipiku." ucapnya dan menyadarkan Naura kemudian Ia pun langsung melepas cubitannya.


" Maafkan tante Naura ya sayang, tante Naura memang sangat suka dengan anak kecil." jelaskan kepada keponakannya tersebut.


" Wah ternyata ini namanya tante Naura, tante Naura sangat cantik." pujinya dengan meletakkan kedua tangannya di bawah dagu kemudian menatap wajah Naura.


" Jangan seperti itu dong melihatnya, kan aku jadi malu." ucap Naura yang kini wajahnya memerah.


" Ih wajahnya tante Naura mau merah." ucap Maura dan semuanya pun tertawa.


" Jangan digituin tantenya, nanti tantenya kapok Nggak mau ke sini lagi." ucapkan dan Maura pun menundukkan kepalanya.


" Udahlah kak, aku nggak apa-apa kok. Lagian aku juga senang bisa ketemu Maura, peri kecil yang sangat menggemaskan." ucapnya dengan mencubit pipi Maura kembali dan kini Maura pun melihat ke wajah Naura dengan tersenyum.