
" Ternyata hubungan kalian cukup rumit juga, dan melibatkan banyak tantangan." jelaskan yang cukup terkejut.
" Ya begitulah Kak, tetapi aku masih bingung. Apakah mungkin ini ada dorongan dari keluarga, ataukah ada seseorang yang ingin menghancurkan hubungan kami." jelasnya.
" Untuk memastikan kelanjutannya, lebih baik besok kita temui dia. Kakak akan menemanimu, dan kakak akan berusaha membantumu untuk memperbaiki hubungan kalian." jelaskan.
" Terima kasih kak, kakak memang yang terbaik. Dari sekian banyak pacar kak Rangga, hanya kakaklah yang diperkenalkan kepadaku. Dan ternyata, kakak memang sudah sangat cocok dengan kak Rangga." jelas Naura.
" Aku sangat tersanjung mendengar perkataanmu, dan yang kau katakan memanglah benar. Dan aku berharap suasana hatimu selalu baik, karena dalam waktu dekat kami akan menikah." jelas Karin.
" Yang benar kak?" tanyanya yang antusias.
" Iya sayang, dan rencananya usah kami akan pergi ke rumah kakak." jelas Karin.
" Kalau begitu Ara boleh ikut tidak?" tanyanya yang sangat menantikan.
" Tentu saja boleh dong, kan kau adalah adiknya Rangga. Dan juga adik kesayanganku, dan kau akan selalu bersama denganku." jelas Karin dan Naura pun langsung memeluknya.
" Terimakasih kak." jawabnya.
" Tidak usa tersenyum, aku tau kalau sebenarnya hati mu masih tersakiti." batin Karin dengan mengelus kepala Naura.
Tiba-tiba saja handphone Karin berdering, dan ternyata Danang kakak dari Karin yang menelpon.
" Dek katanya kau dan Rangga mau ke sini ya?" tanya Danang langsung to the point.
" Iya kak, rencananya kami akan ke sana. tetapi sebelumnya Rangga ingin mengabari papinya, agar papinya bisa ikut serta." jelas Karin.
" Oh tidak masalah, kakak ikut bahagia untukmu dek. Akhirnya engkau mau melanjut ke tahap berikutnya, awalnya kakak mengira kok masih trauma dengan hubungan kakak. Tapi kini kakak turun bahagia, dan semoga saja hidupmu akan selalu dilimpahi kebahagiaan." jelas Danang dari seberang telepon.
" Karin juga berharap seperti itu kak, dan Karin berharap ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya." jawabnya yang gambar sadar berderai air mata.
" Kakak jangan nangis." ucap Naura yang terdengar oleh Danang.
" Adik sedang nangis, apa terjadi sesuatu sama adek?" tanya Danang yang sudah panik.
" Adek nggak apa-apa kak, ini itu tangis kebahagiaan." jawab Karin.
" Syukurlah kalau begitu, kakak sudah khawatir tadi. Tapi sepertinya kau sedang bersama seseorang, siapakah dia?" tanya Danang yang penasaran.
" Saat ini aku sedang bersama Ara kak." jawabnya.
" Oh Ternyata kau sedang bersama dengan Ara, kakak jadi penasaran deh sama Ara. Selama ini kakak hanya mendengar cerita tentang dirinya, bolehkah kakak melihat wajahnya?" ucap Danang yang sebenarnya masih ragu, dan Karin pun akhirnya melihat ke arah Naura.
" Boleh kak, lanjut aja video call." ucap Naura dengan tersenyum dan kemudian mereka langsung beralih panggilan menjadi video call.
" Halo Ara." ucap Danang dengan tersenyum.
" Halo juga kak Danang, senang deh bisa melihat wajah dari kakaknya kak Karin." ucap Naura dengan tersenyum.
" Aku memang adiknya kak Rangga, tetapi aku bukan adik kesayangannya. karena yang paling disayang oleh kak Rangga, tentunya adalah kak Karin." jawabnya dengan tersenyum.
" Ara, jangan bicara seperti itu." ucapkan yang kini tersipu malu.
" Cie, adik kakak sekarang malu-malu nih ye." goda Danang.
" Ih kak Danang ikut-ikutan sih Ara, seharusnya kakak tuh bela aku. Ini malah bela Ara, kakak nyebelin." ucap Karin.
" Kan kakak bela calon adik kakak yang cantik." ucap Danang dan membuat Karin semakin marah.
" Kakak nyebelin, tau gitu tadi nggak aku sambungin." ucapnya yang kesal.
" Hahaha, ayo Kak Danang. Kak Karin sedang marah, bagaimana dong ini. Bisa-bisa aku nggak dikasih makan, terus aku jadi kurus kerempeng. Hiks…hiks." ucap Naura dengan berakting menangis.
" Eh jangan nangis, kakak nggak mungkin seperti itu sama kamu. Kamu kan udah jadi adik kesayangan kakak, bahkan kalau ada yang sampai menyakiti kamu. Kakak akan jadi orang yang maju paling depan, dan kakak akan menghabisi itu orang." jelaskan dengan tatapan sadis.
" Wah-wah, si cengeng udah mau jadi pahlawan nih. Ke mana sih janin yang aku kenal, kenapa sekarang malah jadi kayak singa." ledek Danang.
" Ih kak Danang, hari ini seharusnya aku happy. Tapi setelah teleponan sama kak Danang, suasana hatiku jadi buruk." ucapnya dengan memayunkan bibirnya.
" Jangan dimayunkan dong bibirnya, kakak nggak suka kalau kamu masang ekspresi kayak gitu. Jujur kakak sakit hati, karena wajah cantik adik kesayangan kakak berubah jadi jelek." jelaskan dengan ekspresi sedih.
" Ya udah deh, tapi Kakak jangan godain aku mulu kenapa. Lihat tuh si Ara jadi ketawa mulu dari tadi, kan aku jadi kesal." jawabnya ya memang sedang kesal.
" Ya udah deh, Kakak nggak akan kayak gitu. Tapi janji ya nggak akan mainin lagi, sungguh itu sangat jelek." ucap Danang dengan tatapan sinis.
" Oke." jawabnya dengan tersenyum.
" Nah gitu dong, kakak kan jadi senang. Wajah bahagiamu ini yang kakak nanti-nanti, janganlah kabar harap wajah kesedihanmu itu tidak akan muncul kembali. Dan yang terukir di wajahmu hanyalah wajah kebahagiaan, hingga akhir hayat memisahkan kau dan Rangga." jelas Danang.
" Kakak tenang saja, wajah kesedihan ku itu tidak akan pernah terukir. Karena di sini, aku memiliki ibu peri yang sangat menyayangiku." ucapnya dengan memeluk Naura.
" Wah aku udah berubah aja nih, tadi dipuji jadi adik kesayangan. Sekarang jadi ibu peri, besok-besok aku jadi apa ya?" ucapnya dengan mengedipkan mata dan sontak saja mereka pun menjadi tertawa.
" Ternyata kau memang sangat lucu, pantas aja di kesayanganku ini tidak mau lepas. Dan bahkan katanya mau bawa kamu pulang, biar kamu tidak pergi meninggalkannya. Eh sekarang malah udah mau jadi kakak iparmu, titip adik kecilku ini ya. Dia ini orangnya cengeng, dan sangat sulit untuk dimengerti." jelas Danang.
" Kalau kak Karin cengeng dan sulit dimengerti, lalu aku apa dong." ucap Naura dengan menunjuk dirinya sendiri.
" Sepertinya kau adalah tipikal orang yang periang, dan karena itu kalian berdua bisa saling cocok." jelas Danang.
" Yang kak Danang bilang masuk akal sih, tetapi aku masih tidak percaya. Masa orang secuek aku dibilang periang." tanyanya yang tidak percaya dan Karin hanya tertawa lepas.
" Itulah pendapatku, memangnya salah ya?" tanya Danang yang merasa heran.
" Kak Danang sangat salah besar, aku bukanlah tripical anak yang periang. Tetapi aku adalah anak yang pendiam, dan tidak suka melakukan yang namanya perawatan di salon." jawab Naura.