
'' Oh aku udah tahu sekarang, itu anak kan cengeng. udah pasti dia nangislah.'' ucap Tirta kemudian pergi meninggalkan Naura dan juga Desi.
'' Kak Tirta emang gitu ya?'' tanya Naura kepada Desi.
'' Begitu gimana Ara?''tanyanya kembali.
'' Cuek tapi ternyata care.''ucapnya dengan senyuman.
'' Ya begitulah Kakak iparmu, nanti kalau cari cowok yang kayak dia ya!'' ucap Desi mengingatkan sang adik.
'' Akan aku pertimbangkan, yah Kak Tirta memang ada sih sedikit tipe aku. Tapi Kakak tenang aku udah ketemu kok sama orang yang sifatnya hampir mirip dengan Kak Tirta.'' ucapnya dengan penuh senyuman.
'' Siapa Kakak penasaran nih?'' tanyanya yang memang sangat penasaran.
'' Kakak tenang aja, besok pagi dia datang kok jemput aku.'' jawaban santai.
'' Apa, ya udah deh kakak tunggu sampai besok pagi.'' ucapnya yang sudah kesal.
'' Ih kakak marah ya.'' ucapnya dengan memperhatikan ekspresi di wajah sang kakak.
'' Menurut Ara gimana?'' ucapnya dengan datar. kemudian ia pergi meninggalkan Ara.
Tak terasa waktu sudah malam, Mereka pun pergi berkumpul di ruang makan. Kini Ara sangat bahagia melihat makanan yang ada di meja, ternyata sang kakak masih mengingat makanan kesukaannya.
'' Wah sepertinya makanannya enak-enak nih, tapi ini makanan apa ya Kak kok nggak pernah lihat.'' ucapnya yang penasaran.
'' Ini itu namanya sayur campur-campur.'' kecap Desi yang memang tidak mengetahui nama sayur tersebut.
'' Loh namanya kok sayur campur-campur Kak?'' tanya tanya lagi yang kebingungan.
'' Mending tanya sama penciptanya deh, soalnya Kakak lupa. Kakak cuma ingat kalau semua dikasihin hari ini itu makanan kesukaan Ara.'' ucapnya dengan penuh senyuman.
'' Wah semua ini makanan kesukaan Ara, Tata jadi penasaran deh Kak rasanya gimana. Oh iya katanya Ara juga pada masak ya, Ara lain kali boleh nggak kamu yang masak. Aku penasaran nih sama rasa-rasakan kamu.'' ucapnya dengan ekspresi memohon.
'' Iya aman itu.'' ucapnya dengan memberikan jempol.
Mereka semua makan dengan lahap, sausan makan mereka berkumpul di ruang tamu. Pak Sandy dan Tirta tidak berkumpul bersama dengan mereka, kedua pria itu memilih mengobrol di ruang kerja milik Tirta.
'' Tirta ayah titip Ara ya.'' ucap sang ayah.
'' Secepat itukah Ayah ingin kembali?'' tanyanya.
'' Mau bagaimana lagi, saat ini ibu sedang sendirian di sana. Dan kamu tahu betapa merepotkannya si Dafid, ia masih sangat kecil dan ibu tidak bisa merawatnya sendirian.'' ucap sang ayah yang mengingatkan Tirta kepada ibu mertuanya dan adik iparnya yang paling kecil yaitu dan Dafid.
'' Ya sudah kalau memang begitu ayah, Ayah pulanglah dengan tenang. Tirta akan jaga arah seperti Tirta menjaga Tata dan juga Desi.'' ucapnya dengan penuh senyuman.
'' Oh iya Ayah lupa memperkenalkanmu dengan kekasih Ara, namanya Arga. Dan Ayah sudah bilang kalau Naura akan tinggal di sini, mungkin ia akan sering datang ke sini.'' ucap sang ayah mengingatkan tentang kekasih Naura.
'' Baik ayah tenang saja, Aku akan mengingat namanya. Dan bila dia macam-macam dengan Ara, Aku tidak akan tinggal diem ayah.'' ucapnya dengan ekspresi serius.
Sang ayah hanya tersenyum, ia yang sudah mengetahui sifat menantunya itu tidak merasa heran lagi. Sang menantu pasti akan melaksanakan apa yang dikatakannya, dan kecemasannya akan menghilang.
'' Iya Ayah percaya padamu, ayah titip mereka ya. Ayah janji ayah akan sering main ke sini, untuk melihatmu, anak ayah Desi, dan juga Ara. Oh iya satu lagi Ayah lupa, untuk melihat malaikat kecil kalian.'' ucap sang ayah dan membuat Tirta tersentak.
'' Ma-malaikat kecil?'' dengan terbata.
'' Iya, anak kalian berdua.'' ucap sang ayah dengan tersenyum.
'' Kami akan berusaha ayah, dan ketika ayah kembali ke sini. Malaikat kecil itu akan hadir.'' ucapnya dengan tersenyum lebar.
'' Ayah tunggu kabar baiknya ya.'' ucap sang ayah kemudian pergi meninggalkan Tirta.
Tirta kini sedang berpikir, apa yang dikatakan oleh mertuanya tadi. Jujur bukan hanya sang mertua saja yang menginginkannya, tetapi ia dan sang istri juga sangat menginginkannya. Ia akhirnya membuat keputusan, setelah kepulangan ayah ia berniat untuk melakukan program hamil dengan istrinya. Tetapi sebelum itu ia ingin mengkoordinasikannya kepada sang istri, kira-kira kapan waktu yang tepat dan apakah istrinya menyetujui apa yang ia pikirkan.
Ayah pun kembali ke kamarnya, dan Tirta menemui sang istri dan juga adik-adiknya.
'' Lagi ngobrolin apa tampaknya lagi seru?'' tanyanya yang baru saja muncul.
'' Lagi ngobrolin mas ayangnya Ara kak, hehehe.''jawabnya sambil tertawa.
'' Wah seru banget, Kakak jadi penasaran nih. kira-kira seperti apa ya tampangnya pacarnya Ara?'' ucapnya dengan ekspresi penasaran.
'' Rencananya sih dia mau datang besok pagi katanya Kak.'' ucap Tata.
'' Ara bisa nggak kalau jangan besok pagi, karena besok pagi kakak rencananya mau antar kamu dan Tania.'' ucap Tirta yang mengutarakan niatnya.
'' Oke Kak, Ara akan hubungi dia.'' ucapnya dengan membuat tanda Oke dengan tangan.
'' Ya udah, sekarang sudah malam. lebih baik kalian istirahat, besok kan kalian sekolah.'' ucap Tirta memerintahkan adik-adiknya, Ara dan Tata langsung pergi menuju ke kamarnya. Kini tinggal Tirta dan juga Desi, mereka berdua pun juga pergi menuju kamarnya. kemudian mereka mendiskusikan Apa yang dipikirkan oleh kita sebelumnya.
Desi yang mendengar ucapan dari Tirta, ia merasa sangat bahagia. Dan bahkan ia berharap akan segera ada malaikat di dalam kehidupan mereka, yang akan selalu mengisi tawah di dalam rumah mereka. Dan tawa itu akan mendamaikan hati mereka berdua, dan sebagai penghilang beban pikiran mereka.
Keesokan harinya sesuai dengan yang dikatakan oleh Tirta malam sebelumnya, Tirta pergi mengantar Ara dan juga Tata. Keduanya menjadi sorotan perhatian semua siswa, banyak siswa yang kaget ketika melihat Ara dan Tata keluar dari mobil Tirta. Mereka mengetahui siapa Tirta, tetapi mereka tidak mengetahui siapa Ara dan Tata di dalam keluarga Tirta.
Ara dan tata kemudian pergi untuk ke kelas, namun saat mereka baru melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja Tirta memanggil keduanya.
'' Wahai adik dan adik iparku yang cantik, kalian tidak melupakan sesuatu?'' ucapnya dengan nada tinggi dan terdengar oleh siswa yang mengerumuni mereka.