
" Syukurlah kalau begitu, aku jadi tenang mendengarnya. Tetapi kira-kira Siapa ya yang bisa membuatmu tenang?" tanya Natan yang penasaran.
" Kau masih ingat dengan kak Rangga dan kak Reza?" tanya Naura kepada Natan.
" Kedua kakak angkatmu itu ya?" tanya Natan yang masih belum yakin dengan jawabannya.
" Iya benar, mereka adalah kedua kakak angkatku. Dan kau merasa heran kan, siapa Sasak yang membuat nyaman. Namanya adalah kak Karin, dia adalah pacar dari Kak Rangga. Dan dia selalu mengerti aku, dan ketika bersamanya aku selalu tersenyum bahagia." jelas Naura dengan tersenyum.
" Syukurlah kalau begitu, aku jadi penasaran sama kakakmu itu." ucap Natan.
" Nanti deh aku kenalin, tapi nanti ya setelah mereka menikah." ucap Naura dan membuat Natan kesal.
" Kalau bisa sekarang kenapa harus nunggu menikah." ucap Natan.
" Kalau sekarang nggak bisa, soalnya kami sedang sibuk." jawab Naura dan membuat Natan heran.
" Sibuk ngapain, perasaan nggak ada yang memerlukan banyak tenaga deh." ucap Natan dengan memikirkan kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah.
" Kau pasti memikirkan kegiatan di sekolah ya, yang aku maksud itu bukan kegiatan di sekolah. Tetapi sebentar lagi kak Rangga dan kak Karin ingin menikah, jadi pastinya aku akan disibukkan dengan acara mereka." jelas Naura dan Natan pun mengangguk.
" Oh begitu rupanya, kalau begitu tidak masalah deh. Tapi beneran ya, setelah acara pernikahan. Kau akan memperkenalkanku dengan Kakak iparmu yang baik itu, karena jiwa penasaranku sudah meronta-ronta." ucap Natan dengan mengelus kepala Naura.
" Aman itu." ucapnya dengan tersenyum, kemudian ia pun langsung masuk ke kelasnya dan meninggalkan Natan.
" Kau ini ya Ara, kebiasaan tukang meninggalkan aku." ucap Natan dengan menggelengkan kepalanya kemudian langsung menuju ke kelasnya yang tidak jauh dari kelas Naura.
Natan pun kini tiba di kelasnya, dia pun segera duduk di mejanya. Tidak lama setelah itu, teman sebangkunya datang. Teman sebangkunya itu yang bernama Arya, merasa heran dengan tingkah Natan. Karena sejak awal dia masuk, ia sudah melihat Natan yang tersenyum sendiri.
" Woy." ucapnya dengan menepuk pundak Natan.
" Arya, kau ngagetin aja tahu." ucap Natan yang kesal.
" Siapa suruh kau melamun, aku jadi penasaran deh. Sebenarnya apa sih yang membuat kau melamun, pakai senyum-senyum lagi." ucap Arya yang merasa tingkat temannya itu aneh.
" Ih kepo." ucap Natan dan membuat Arya kesal.
" Natan, kau nggak enak." ucap Arya dengan menepuk pundak Natan.
" Aku memang nggak enak, orang aku nggak bisa dimakan." jawab Natan dan membuat Arya tambah kesal.
" Ini masih pagi loh Tan, kau kenapa udah bikin aku emosi." ucap Arya dengan menggelengkan kepalanya.
" Ya biar seru aja, nggak enak tahu kalau kamu nggak emosi." ucap Natan dengan tersenyum.
" Kalian berdua ini loh, kerjaannya kayak anjing sama kucing. Tapi kalau nggak ketemu, sama-sama saling kecarian." ucap Husen yang merupakan ketua kelas.
" Kalau nggak kayak gitu nggak seru." jawab Arya yang kemudian langsung mencubit lengan Natan.
" Iya bener banget nggak, tapi nggak lenganku juga kau cubit." ucap Natan yang kesal.
Akhirnya bel pun berbunyi, mereka semua pun kembali ke tempat duduk masing-masing. Kini memasuki jam pelajaran olahraga, Pak Doni pun memasuki ruangan kelas.
" Anak-anak, silakan ganti baju kalian." ucap Pak Doni.
Semuanya pun segera mengganti pakaian mereka, kini mereka pun berkumpul di lapangan. Pak Doni membagi tiap grup menjadi dua tim.
" Kalian saja yang membagi timnya, untuk laki-laki dibagi menjadi dua tim. Begitu juga dengan untuk perempuan." ucap Pak Doni.
Mereka pun berunding, untuk siapa-siapa saja yang berada di tim 1 dan juga tim 2. Setelah kurang lebih 15 menit, akhirnya pembagian tim Mereka pun selesai.
" Baik untuk putra silakan di sini, ini bolanya." ucapan Doni dengan melemparkan bola voli tersebut.
" Dan untuk putri, silakan ikut saya ke lapangan putri." ucap pak Doni kemudian berjalan menuju lapangan putri, dan semuanya pun mengikuti Pak Doni.
Kedua tim tersebut pun memainkan bola voli, Pak Doni kini menjadi wasit di tim putri. Namun tiba-tiba saja ia dipanggil, dan ia pun segera pergi menuju ruang kepala sekolah.
Cukup lama Pak Doni tak keluar dari ruang kepala sekolah, setelah kurang lebih 20 menit akhirnya Pak Doni pun keluar. Kini Pak Doni kembali lagi ke dalam lapangan, Ia pun segera mengumpulkan para siswa tersebut.
" Anak-anak kumpul sebentar." perintah Pak Doni dan mereka pun segera melaksanakannya.
" Ada apa ya pak?" tanya Husein yang merupakan ketua kelas.
" Baik anak-anak, bapak baru saja mendapat kabar dari ibu kepala sekolah. Bahwasannya kita akan mengikuti kompetisi olahraga, oleh karena itu jam pembelajaran kita ditiadakan. Dan kita akan melakukan tes untuk pemilihan peserta olimpiade." jelas Pak Doni.
" Bain pak." jawab mereka.
" Kalau begitu sekarang kita mulai dari marathon, bapak akan memanggil satu persatu nama kalian." ucap Pak Doni.
Semuanya pun melakukan tes, mereka semua tampak kelelahan. Pak Doni pun memberikan waktu istirahat kepada mereka, mereka semua pun segera pergi ke kantin. Karena mereka sudah merasa lapar, mereka sudah melaksanakan tes untuk ke-4 golongan olahraga yang akan diikutsertakan.
" Sumpah aku lelah banget." ucap seorang cewek yang merupakan teman Arya.
" Gitu aja udah capek, gimana kalau kau yang terpilih nanti." ucap Husen yang membuat wanita tersebut kesal.
" Lagian belum tentu aku yang terpilih, dan lagian aku tuh manusia. Merasakan capek itu wajar, aku tuh bukan dirimu yang badan manusia tapi sebenarnya robot." ucapan itu tersebut kemudian pergi meninggalkan kantin.
" Sepertinya si Husen salah ngomong lagi tuh." ucap Arya dengan menunjuk Husen.
" Dia itu ketua kelas, tapi kenapa sih dia sering salah ngomong." ucap Natan dengan menghilangkan kepalanya.
" Ya mana aku tahu, lagian yang milih dia kan bukan kita." ucap seorang siswi yang tiba-tiba lewat.
" Lalu Kalau bukan kita yang memilih siapa?" tanya Natan yang memang tidak tahu.
" Ya wali kelas kita lah, menurutmu siapa lagi." ucap Arya.
" Oh jadi wali kelas, aku kira dengan sistem pemungutan suara." ucap Natan.
" Kalau dari sistem pemungutan suara, aku yakin bukan dia yang terpilih." ucap Arya.
" Tampaknya, Dia sangat dekat dengan wali kelas kita?" tebak Natan dan Arya pun mengangguk.
" Ya begitulah, ada kabar yang mengatakan dia itu keponakan wali kelas. Dan ada juga yang mengatakan ia calon anak tiri wali kelas, tapi kabar itu belum ada kepastiannya hingga kini." jelas Arya dan Natan pun mengangguk.