Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 31



Mobil Leo akhirnya melaju, Leo yang tidak mengetahui alamat rumah Tania saat ini. Akhirnya ia pun menanyakannya kepada Tania.


" Sayang, alamat rumah baru sayang dimana?" ucapnya dengan menatap kearah Tania.


Tania yang mendengar ucapan Leo tidak menjawab, wajahnya memerah. Leo yang dari tadi menatap ke arah Tania, ia juga melihat perubahan yang ada di wajah Tania.


Leo sebenarnya ingin tertawa, ia pun menahan tawa. Karena ia takut kalau Tania akan malu. Kemudian ia mengalihkan pembicaraan, dengan menanya kembali dimana tempat tinggal Tania.


Tania yang tersadar, akhirnya ia mengatakan alamat rumahnya pada Leo. Mereka pun segera pergi menuju tempat tujuan.


Sesampainya mereka di rumah Tania, Leo sudah dijaga oleh Kakak dari Tania. Sang kakak sangat menyayangi Tania tidak ingin kalau sang adik tersakiti kembali.


" Ngapain mau ke rumah gua, kayak nggak ada kerjaan aja lo. Mending lu pergi dari rumah gue." ucapnya dengan kertas dan mengusir Leo dari rumahnya.


Tania akhirnya pun melerai pertengkaran antara kakaknya dan juga Leo, ia tidak ingin karena hubungan masa lalunya dengan Leo yang diawali dengan salah paham membuat sang kakak bertengkar dengan Leo.


Jujur saja sampai gini Tania masih belum bisa melupakan Leo, sosok Leo selalu ada dalam ingatannya. Kenangan indah bersama Leo selalu melintas dalam ingatannya.


Akhirnya ia mengajak Leo dan juga kakaknya untuk masuk ke dalam dan mengobrol, Ia pun menceritakan segala yang terjadi atas dirinya dan terjadi beberapa tahun yang lalu.


Sang kakak masih tidak percaya, kalau pertengkaran sama adik yang membuat dirinya dan keluarganya harus pindah ke luar negeri. Itu semua karena salah paham antara adiknya dan juga Leo.


Sang kakak terus menatap ke arah Leo dengan sinis, ia tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Ia sangat menyayangi adiknya, bagi dirinya adiknya adalah harta karun yang paling berharga.


Tania adalah tanggung jawabnya, ayah dan ibunya saat ini telah menetap di luar negeri. Dan kini Tania menjadi tanggung jawabnya dan juga istrinya, sebenarnya ia tidak ingin adiknya kembali ke Indonesia. Karena itu pasti akan membuatnya bertemu dengan Leo. Dan hal itu akan mengorek luka lama dalam hati adiknya.


Luka yang sudah lama dikubur, muka yang tak pernah hilang. Luka yang masih membekas hingga kini, kau yang menjadi trauma terbesar bagi dirinya dan juga adiknya.


Sang istri yang mendengar keributan dari arah luar, Ia pun keluar untuk melihat ada apa sebenarnya. Dan alangkah kagetnya ia, ketika ia melihat ada Leo di hadapannya.


" Leo." ucap Desi yang merupakan istri dari kakak Tania.


Tania dan Tirta kakaknya saling menatap, mereka tidak percaya kalau ternyata istri dari kakaknya yang bernama Desi itu ternyata mengenal Leo. Tirta pun menatap ke arah Desi menanti jawaban.


" Kenapa kamu mau menatapku dengan seperti itu mas?" tanya Desi yang merasa heran dengan tingkah suaminya.


" Sayang kamu kenal dengan Leo?" tanya Tirta yang sangat penasaran.


" Tentu dong aku kenal dengan Leo, Ayah sambung Leo adalah pamanku." ucapnya dengan semangat.


" Berarti Kakak sepupunya Naura?" selah Tania yang sangat menanti-nanti.


" Iya dong." ucapnya dengan senyuman yang menerka.


Tania tidak menjawab, ia hanya tersenyum saja. Kemudian bersembunyi di belakang Desi, sang kakak ipar. Sang kakak ipar yang mengetahui kalau selama ini Tania berteman dengan Naura, Ia pun berniat untuk menjelaskannya.


" Mau gimana nggak kenal, mereka itu satu sekolah. Dan mereka juga satu bangku, bahkan mereka bestian." jelas Desi dan membuat Toyo semakin kaget.


tiba-tiba saja Leo teringat dengan sahabat Naura yang selalu diceritakannya, iya teringat kamu sahabat Naura itu bernama Tania. pikirannya pun mulai melarang buana dan mulai menebak-nebak.


" Apa jangan-jangan Tania selalu diceritakan Naura itu lo sayang? kalau iya, gue sekarang paham mengapa si Tania itu selalu menjauh kalau gue hadir." ucapnya dan membuat Tirta dan juga Desi menatap ke arah Tania.


" Kalau gitu berarti adek udah tiap hari ketemu sama dia, cuma adek aja yang selalu menghindar." ucap Tirta dengan menunjuk Leo.


Tania tidak menjawab perkataan kakaknya, ia hanya tertawa dan menatap ke arah kakaknya. Kemudian ia pergi melarikan diri ke arah dalam, dan meninggalkan Leo, Kakak serta kakak iparnya.


Ketiganya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dari Tania. Karena Tania sudah masuk ke dalam, Leo memutuskan untuk berpamitan dan pulang ke rumahnya.


Leo pun mengendarai motornya dengan kecepatan yang tak terhingga, dalam sekejap ia menghilang dari pandangan mata Tirta dan juga istrinya.


Tirta dan Desi pun masuk ke dalam rumah, mereka langsung melenggangkan kakinya menuju kamar Tania. Mereka berdua sangat penasaran, apakah Tania dan juga Leo kembali untuk menjalin hubungan ataukah tidak. Itulah yang ada dalam benak mereka berdua saat ini.


" Adek tolong buka pintunya." ucap Tirta yang saat ini sedang berada di depan pintu kamar Tania.


Tania pun akhirnya membukakan pintu setelah mendengar suara dari kakaknya. Mereka semua terduduk di atas tempat tidur milik Tania.


Sang kakak Tirta, mulai memberikan banyak pertanyaan yang membuat Tania pusing. p


Pertanyaan yang diberikan tidak jauh dari Leo, dan inti dari semua pertanyaan itu adalah hubungan antara Tania dan juga Leo.


Setelah lelah mendengar ocehan dari Tirta, akhirnya Tania menjelaskan semuanya kepada Tirta dan juga kakak iparnya Desi. Tentang hubungannya dan juga Leo.


Desi yang mendengar kalau Tania dan Leo sudah baik kan, dan ternyata selama ini adalah salah paham. Ia sangat bahagia untuk adik iparnya itu. Namun, tidak dengan Tirta sang kakak yang masih sangat mencurigai Leo, dan ia masih tidak percaya dengan ucapan adiknya yang mengatakan awal pertengkaran mereka adalah karena kesalahpahaman.


Desi langsung memeluk Tania. Namun, sang kakak yang kemarahannya semakin memuncak. Akhirnya Ia memutuskan untuk pergi dari kamar itu.


Desi dan Tania yang melihat tingkah dari Tirta, mereka sangat panik dan tidak tahu harus berkata apa-apa lagi di depan Tirta. Semua yang mereka katakan adalah kebenaran.


Desi dan juga Tania mengobrol di dalam kamar Tania, hingga tak terasa waktu sudah menjelang malam. mereka tertawa dengan terbahak-bahak,


Di sisi lain tirta mengintip mereka. Ia merasa sangat bahagia ketika melihat senyum yang muncul di wajah sang adik. Jujur saja sebenarnya ia sangat bahagia untuk adiknya. Namun, Ia juga merasa takut dan tidak ingin adiknya tersakiti kembali.


Akhirnya Tirta menelpon anak buahnya untuk menjaga adiknya, karena ia tidak ingin kejadian yang lalu turun kembali.