
" Kakak kan urusan dari SMA ini adik." jawabnya dengan mengelus kepala adiknya.
" Oh rupanya begitu kak, tapi rambut tadi jangan diacak-acak juga kali Kak." ucap Naura yang kesal karena rambutnya berantakan.
Bukannya merasa bersalah, Leo justru semakin mengajak ngajak rambut adiknya itu. Bibir Naura semakin maju ke depan pertanda kalau dia sedang marah kepada Leo.
Leo tertawa melihat tingkah adiknya, Ia pun mencoba menenangkan adiknya. Keempat orang itu kini menjadi obat nyamuk, yang tidak dianggap oleh kedua kakak beradik ini.
" We gue berasa jadi obat nyamuk loh, kalian nggak ngerasa?" tanya Bayu kepada teman-temannya.
" Gue kira, gue aja yang ngerasain Bay. Ternyata lo juga." ucap Lusi yang membenarkan perkataan Bayu.
" Udala, lagian mereka kakak dan adik kali bukan pacaran." jelas Tama yang membela Leo dan juga Naura.
" Lo teman kita bukan si?" tanya Bayu dengan menatap ke arah Tama.
" Dia itu adik aku, ya kan Tama?" ucap Leo yang langsung menepuk pundak Tama.
Tama belum sempat untuk menjawab perkataan Leo. Ia langsung diboyong banyak pertanyaan dari ketiga temannya itu.
Tama sampai bingung harus menjawab yang mana, pertanyaan demi pertanyaan telah dilontarkan kepadanya. Dia tidak tahu harus menjawab yang mana terlebih dahulu. Melihat Tama yang sedang bingung Leo pun akhirnya menjawab pertanyaan mereka.
" Tama ini adik aku di perguruan karate." jelas Leo dan membuat ketiga temannya itu semakin kebingungan, mereka sudah hampir 3 tahun berteman dengan tama. Namun, sampai kini mereka tidak mengetahui kalau Tama adalah seorang atlet beladiri karate.
Mereka mulai melemparkan banyak pertanyaan, mereka yang tidak mengetahui jati diri tanaman merasa bersalah. Selama ini mereka tidak mengetahui Tama adalah seorang atlet karate, padahal mereka selalu bersama.
" Gimana ini Tama, teman-temanmu masa tidak mengetahuinya." jelas Leo kemudian menggelengkan kepalanya.
Tama tidak menjawab apa-apa, Tama hanya tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian ia mulai menjelaskan.
" Mereka memang tidak tahu Kak, karena sejak awal gue memang tidak pernah memberitahu mereka. Gue malas aja nantinya, kalau tiba-tiba gue dijadikan pawang bertarung sama mereka." jelaskanlah dan mendapat anggukan dari Leo.
" Yang lo bilang ada benarnya juga Tama, tapi kalau lo jadi pawang bertarung adek gue mau nggak?" tanyanya dengan menatap ke arah Tama. Tama yang sedang kebingungan tidak tahu harus menjawab apa dan ia hanya mengangguk saja.
" Kak, Aku bukan anak kecil kali. buat apa harus ada yang jagain, lagian di sini aku punya banyak teman-teman Kak." ucapnya untuk menolak apa yang dikatakan kakaknya barusan kepada Tama.
Walaupun Naura menjawab seperti itu, sorotan mata Leo tidak anti menatap ke arah Tama. Tama pun tak bisa berkutik, iya tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya tersenyum saja.
" Nggak apa-apa Naura, lagian cuma jagain lo aja kan. Bukan buat jadi pendamping lo." jelasnya untuk menghentikan tatapan Leo kepadanya.
" lo jadi pendamping adik gue juga nggak apa-apa." jelas Leo dan membuat semua yang ada di situ kaget.
Ia tidak mengetahui, apa yang ia rasakan saat ini. Selama ini ia sudah berteman dengan Tama, ya awalnya biasa-biasa saja. Namun, sejak kemunculan berita yang mengatakan kalau dia dan Tama adalah sepasang kekasih. Lusi mulai merasakan hal yang aneh dalam dirinya.
Hal itu terbukti pada saat ini, saat Leo mengatakan kalau iya tak masalah kalau kamu menjalin hubungan dengan adiknya Naura. Lusi tiba-tiba saja rasanya ingin meledak. Namun, ia tidak bisa berkata apa-apa. Karena kini yang berada di depannya adalah seniornya dulu.
" Lusi kenapa, atau jangan-jangan kamu suka sama Tama." ucap Leo yang menyadari pandangan Lusi kepada Naura sangat mengerikan.
Semua yang mendengarnya merasa kaget, dan kini menatap ke arah Lusi. Lusi tiba-tiba saja mengubah ekspresi seakan itu bukanlah dia, dia mulai memberi penolakan.
" Kak Leo ada-ada aja, mana mungkin gue suka sama Tama. Gue sama Tama kan udah lama berteman, ya kali tiba-tiba gue berpaling." jelas lusi dan membuat Tama merasa bersedih dan pergi meninggalkan tempat itu.
Semua yang melihat interaksi taman, merasa curiga. Dan mereka mulai meminta Lusi untuk mengejar Tama, Lusi memang tidak mengetahui Tama menyukainya. Namun, mereka dapat mengetahuinya dari gerak-gerik yang tama timbul.
Lusi pun akhirnya pergi mengejar Tama, dan Leo membawa adiknya Naura untuk pulang. kini hanya tinggal Bayu dan Yuda saja yang berada di tempat itu, Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mencari keberadaan Tama dan lusi saat ini.
Setelah cukup lama mereka berkeliling, akhirnya mereka menemukan Tama dan Lusi sedang berada di taman yang berada di belakang sekolah. Tama dan Lusi tampak afdol tanpa ada pertengkaran. Ini adalah momen yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah.
Dengan diam-diam, mereka memfoto Tama dan Lusi. Dengan ini mereka semakin meyakini, kalau sebenarnya Tama dan Lusi memiliki rasa yang sama. Karena itu Mereka mencoba berpikir untuk menyatukan kedua sahabatnya itu.
Mereka mencoba berbagai cara, banyak cara yang mereka debatkan. Hingga akhirnya mereka memutuskan esok malam akan membawa kedua sahabatnya itu ke sebuah rumah makan.
Mereka memikirkan rencana yang sudah sangat matang, mereka berusaha mencari rumah makan terbaik untuk kedua temannya itu. Dan akan menjadikan rumah makan itu sebagai saksi cinta dari kedua sahabatnya.
Kemudian mereka pergi untuk mencari tempat, mereka tidak tahu harus memilih tempat yang mana. ti6ba-tiba saja mereka bertabrakan dengan Tania, kini Tania berpenampilan sangat berbeda dengan di sekolah. Tania berpenampilan kasual, karena ia baru pulang dari modeling.
" Apaan sih tabrak-tabrak." ucap Yuda dengan nada sedikit emosi.
" Maaf Kak, maaf." ucapannya dengan mengeluarkan tangannya.
Yuda pun menerima uluran tangan itu, saat ia berdiri alangkah kagetnya ia melihat wajah yang sangat cantik menurutnya.
" Kak Yuda." ucapannya dan membuat Yuda terbangun dari lamanya.
" Lo kenal sama gue?" tanya Yuda dengan tampang seriusnya.
" Gue, gue Tania Kak." jelaskannya untuk menjawab pertanyaan Yuda yang baru saja dilontarkan.
Dalam seketika wajah Yuda berubah drastis, ia menatap tidak percaya. Bahwa wanita yang ada di depannya adalah Tania, gadis yang ia temui tadi saat pulang sekolah di gerbang. Dan juga gadis yang menertawakannya ketika ia mendapat hukuman di lapangan sekolah tadi.
" Lo Tania, gue nggak salah lihat kan." ucapnya masih tidak percaya dengan sosok yang ia temui.