Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 11



" kenapa, wajah mu pucat dek?" tanya Leo yang merasa aneh dengan sikap Vino.


" Gak apa-apa kak, kakak nggak marah kan?" tanya Vino dengan rasa takut.


" Nggak sayang, kakak justru senang. Makasih ya adik bungsu ku tersayang." ucap Leo dengan memeluk Vino.


Vino tersenyum, suasana tegang yang ia rasakan tadi. Kini menghilang nta kemana, Tetapi ia sangat nyaman.


Perlahan-lahan, sikap Leo yang ia kenal mulai menghilangkan. Vino berpikir semua itu adalah karena kedatangan kakak keduanya Naura yang sangat tiba-tiba. Dan sifat Naura yang membuat semua nyaman adalah penyebab utama, kakak nya Leo bisa berubah.


setelah bercanda dan tertawa mereka memutuskan untuk, berkumpul dan berbincang di ruang utama sambil menunggu makanan siap.


Naura yang merasa tidak nyaman, ia pun meminta izin kepada ayahnya untuk membantu pelayan di dapur menyiapkan makanan.


Bagas awalnya nggan untuk menuruti permintaan Naura. Namun, ketika melihat Leo mengangguk, ia pun menyetujuinya. Bagas berpikir kalau Leo sangat menyukai makanan buatan Naura, oleh karena itu ia menurutinya.


Naura langsung bergegas menuju ke arah dapur. Setelah cukup lumayan lama ia di dapur, akhirnya makanan pun siap. Mereka menyantap dengan nikmat di meja makan.


" Masakan kak Naura memang selalu enak." ucap Vino dengan mengancungkan kedua jempolnya.


" Enak dong, adik siapa dulu." ucap Leo dengan tersenyum.


Bagas yang melihat interaksi Leo dan Vino pada Naura, ia pun tersenyum lebar dan sangat bersyukur. Kedua putranya yang terkenal sangat cuek itu ternyata dapat akrab dengan putrinya dengan istri pertamanya.


Leo adalah anak tirinya yang terkenal sangat tegas, Leo adalah pengganti Bagas di rumah itu. Dan sekarang dengan kehadiran Naura, rumah yang sangat jarang dipenuhi dengan tawa kedua putranya Bagas, menjadi sangat ramai.


" Ayah kenapa?" tanya Sandra yang melihat tingkah aneh ayah sambungnya itu.


" Nggak, ayah hanya senang. Kalian semua bisa dekat dengan Naura." ucapannya dengan tersenyum.


Naura, Leo, dan Vino tersenyum. Namun, tidak dengan Febri dan Sandra yang merasa tidak suka. Melihat tingkah Bagas, mereka tambah membenci Naura.


Hidup mereka berubah semenjak kehadiran Naura, rumah itu menjadi penuh dengan tawa. Tetapi kedua ibu dan anak itu tidak suka, terutama Sandra yang tidak bisa beralasan tentang sekolah lagi, karena Naura bersekolah di sekolah yang sama dengannya.


Sandra berusaha mencari ide, agar Naura pindah dari rumah itu. Paling tidak hidup Naura sengsara. Oleh karena itu Sandra selalu mencari sekutu agar dapat membantunya merusak hari-hari bahagia yang Naura miliki.


Kita kembali kepada Zia di rumah Arga. Arga yang malas melihat Zia, akhirnya memutuskan tetap stay di kamarnya.


Teman-teman Arga yang merasa tingkat harga aneh Mereka pun menanyakannya.


" Ga, kita boleh nanya nggak?" tanya Dion yang sudah mulai penasaran.


" tanya apa?" jawabnya dan menanti pertanyaan dari kedua sahabatnya itu.


" Lo tadi ngelamuni Apa sih di depan gerbang?" tanya Dion lagi dan Arga kembali hanyut dalam ingatan kejadian tadi.


" Ye, dianya malah ngelamun." ucap Dion yang merasa muak dengan tingkah Arga.


" Lo lupa ya, kan tadi uda dibilang Arga lagi ngabulin tentang Naura. Nggak percaya lihat aja tuh Arga senyum sendiri lagi." jelas Ryan dan mendapat anggukan dari Dion.


" Iya, gue tahu Ry. Cuma gue penasarannya apa sih yang dipikirin Arga tentang si Naura." jelasnya dan membuat Ryan juga bertanya-tanya.


Arga pun tersadar dari lamunannya, kemudian ia menceritakan pertemuannya dengan Leo tadi. Dion dan Rian sangat tercengang mendengar Arga bertemu dengan Leo. Ketua OSIS yang terkenal sangat tegas dan merupakan anak sulung dari Bagas Abiyasya.


Mereka sangat panik dan tidak tahu harus mengatakan apapun, apalagi situasi sangat penting sangat tidak mendukung. Di satu sisi ada Naura dan si lainnya ada Zia teman masa kecil Arga.


" Terus setelah lo tau identitas Naura apa yang akan lo laku." tanya Dion.


" Entahlah, tapi ketika aku tahu kalau dia adalah adik kak Leo, aku merasa sangat tenang." jelas Arga yang saat ini sedang dalam suasana kebingungan.


" Kalian lupa ya, kalau aku sangat dekat dengan kak Leo." ucap Arga.


" Oh iya kami lupa." jawab mereka serentak sambil menatap wajah Naura.


Dion dan Ryan tiba-tiba saja hanyut dalam alam pikiran mereka. Mereka sangat pening memikirkan kejadian tadi.


" Terus, sekarang apa rencana lo?" tanya Ryan yang tiba-tiba bersuara.


" Gue, akan mendekati Naura la." jawab Arga dan mendapatkan anggukan dari kedua sahabatnya.


Zia sampai saat ini, masih menunggu Arga. Namun, Arga tidak kunjung keluar dari kamarnya.


Ia yang sudah mulai bosan, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Mobil yang dinaiki oleh Zia, akhirnya sampai di rumah mereka. Zia di sambut oleh kedua orang tuanya.


" Gimana sayang, uda ketemu dengan Arga?" tanya sang mami.


" Belum mi, tadi cuma bertemu dengan mamanya Arga." ucapnya sambil ambil memeluk Zia.


" Udahlah sayang, kan masih ada waktu lain." Mami mencoba menguatkan Zia.


Zia pun tersenyum, dan ia segera melenggangkan kakinya menuju kamar.


Sesampainya di kamarnya, Zia langsung membersihkan tubuhnya. Kemudian ia memutuskan untuk tidur, karena esok adalah hari pertamanya masuk sekolah.


Hari ini seperti biasanya, semuanya berangkat menuju sekolahnya masing-masing. Zia yang merupakan anak baru, Ia diantar sang Mama untuk menuju ruang kepala sekolah.


Sama halnya dengan Naura Zia juga mengikuti tes yang sama untuk menentukan kelas mana yang akan ia tempati.


Hasil tes keluar dengan begitu cepatnya, kepala sekolah kembali dikejutkan lagi. Namun, kali ini nilai Zia tidak mencapai setinggi nilai Naura.


Zia di tempatkan di kelas XI², ya kelas di bawah Naura. Kelapa sekolah sendiri yang mengantar Zia. Sesampainya di depan pintu ruangan.


" Selamat pagi Bu Indri." ucapnya sambil mengetuk pintu.


" Ia pak, silakan masuk. kalau boleh senarnya ada ?" tanya bu Indri yang penasaran.


" Begini Bu, saya mengantar anak baru." ucap kepala sekolah, kemudian ia memanggil Zia.


Zia pun memperkenalkan dirinya kepada seluruh anggota kelas. kedian ia duduk di meja yang masih kosong.


Kejadian si Zia langsung duduk, tanpa bertanya sebenarnya. Bu Indri kaget, namun ia tetap bertahan. ia baru saja mendapatkan pesan dari atasan.


Kini ia, tidak mengatakan apapun. Hanya ekspresi kaget yang ia lihat, setelah mengetahui siapa sebentar Zia.


hai guys, sedikit pengenalan



Nama : Zia Talfika


Status : kating Naura


Sifat : Egois dsn cerewet.


hobby : Melukis