Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 132



" Terimakasih Ara, kalau begitu rencana ku akan berjalan dengan lancar." ucapnya dengan tersenyum.


" Terserah mu deh, tapi aku dan teman-temanku akan selalu menerima kehadiran mu." ucapnya.


...----------------...


Sang surya bersinar dengan benderang, kini keduanya berangkat bersama menuju sekolah. Kini semua siswa dikagetkan kembali dengan kedekatan keduanya, mereka menjadi penasaran dengan hubungan keduanya. Ada yang mengatakan kalau itu semua adalah setingan, dan ada juga yang bilang kalau keduanya telah berdamai.


" Nona, handphonenya tertinggal." ucap Oka dengan menyerahkan handphone tersebut.


" Terima kasih Pak Oka." ucap Naura dengan tersenyum.


" Sama-sama Non, Oh iya Non nanti siang saya disuruh jemput sama Tuan Rangga. Non Ara sama Non Zia mau ikut atau enggak?" tanyanya menawarkan.


" Untuk kali ini kami nggak akan ikut untuk menjemput Pak." jawab Zia dengan tersenyum.


" Kenapa kita nggak ikut menjemput?" tanya Naura yang bingung dengan menatap ke arah Zia.


" Ya tentunya karena kita akan menjalankan rencana yang telah kita bahas tadi malam." ucapnya dan membuat Naura terkejut.


" Kau yakin kita akan memulainya sekarang?" tanyanya yang masih tidak percaya.


" Tentu saja kita akan memulainya sekarang, semakin cepat maka akan semakin bagus." ucapnya dan Naura hanya mengangguk saja.


" Yang kau katakan ada benarnya juga sih, tetapi aku masih tidak yakin kalau rencana ini akan berhasil." ucapnya yang masih ragu.


" Kau percayakan semuanya kepada diriku, dan aku yakin rencana ini pasti akan berhasil." jelasnya dengan tersenyum.


" Kedua anak mudaku ini sedang membicarakan apa ya, tampaknya mereka sedang merencanakan sesuatu. Aku perlu melaporkannya kepada Tuan tetangga atau tidak ya, tapi sepertinya rencana ini akan berdampak bagi kehidupan masa depan mana Naura." batin Oka.


" Bapak nggak usah mikir yang aneh-aneh, dan bapak juga jangan sampai memberitahukan hal ini kepada Kak Rangga. Bila rencana kami sudah berhasil, kami sendiri yang akan memberitahu Kak Rangga." ancam Zia.


" Ba-baik Nona." jawabnya yang ketakutan.


" Maafkan saya Tuan Rangga, kali ini saya tidak bisa melakukan apa-apa. Kedua adik Tuan ini sangat menyeramkan, dan mudah-mudahan saja yang mereka rencanakan tidak akan berdampak buruk." batinnya kemudian pergi meninggalkan kedua Nonanya tersebut.


" Kenapa kau sampai mengancam pak Oka, bagaimana kalau iya sampai mengadukannya kepada Kak Rangga. Walaupun ia berkata iya di depan kita, tetapi kau kan tahu Kak Rangga sangat pandai untuk membuat orang berbicara." jawab Naura dan Zia sangat kaget karena ia telah merupakan hal itu.


" Oh iya, aku melupakan sikap Kak Rangga yang itu. Dan mungkin kabar Ini sudah sampai ke telinga Kak Rangga, walaupun dia tidak memberitahukan Rangga tetapi kita kan selalu diawasi sama pengawal bayangannya Kak Rangga." jelasnya dan membuat Naura tersentak.


" Tunggu dulu, kau bilang pengawal bayangan. Kalau begitu, Kak Rangga pastinya juga tahu kejadian semalam." ucap Naura dan kini keduanya menjadi ketakutan.


" Astaga Naura, aku sampai melupakan hal tersebut. Kalau begitu sudah pasti Kak Rangga mengetahuinya, aku tidak tahu di nasib kita selanjutnya." ucapnya yang juga baru menyadarinya.


" Kalau memang seperti itu, kita pasrah saja. Mudah-mudahan saja karena tidak melakukan kita terlalu berlebihan, jujur saja aku juga sangat takut dengan Kak Rangga." ucap Naura.


" Dor, hehehe." ucapannya yang mengagetkan keduanya.


" Ya ampun Tania, kau mengajarkan kami saja." ucap Naura.


" Kami baru menyadari akan sesuatu." jawabnya.


" Memangnya kalian baru menyadari apa?" tanyanya yang penasaran.


" Kami baru menyadari, kalau selama ini kami diikuti oleh pengawal bayangan. Dan semalam kami kan nggak izin sama Kak Rangga, otomatis ketika ia pulang nanti dia pasti akan marah besar kepada kami." jelasnya dan tiba-tiba saja Tania pun teringat akan sesuatu.


" Astaghfirullah, aku pun juga baru teringat. Pantas saja Kak Tirta sikapnya aneh, sepertinya ia juga sudah mengetahuinya." ucap Tania.


" Waduh, bahaya ini." ucap Naura.


" Kenapa?" tanya keduanya serentak.


" Kalian kenak semprot hanya sama satu arang, sedangkan aku, hiks…hiks." ucapnya dengan berderai air mata.


" Yang sabar ya Ara." ucap Tania, kemudian ketiganya pun berpelukan.


" Ngomong sih gampang, tapi aku takut menghadapi Kak Rangga dan juga Kak Tirta." ucapnya.


" Sudahlah Ara, untuk saat ini jangan kamu pikirkan hal itu terlebih dahulu. Lebih baik sekarang kita masuk kelas terlebih dahulu, sebentar lagi dia sudah berbunyi. Untuk masalah itu kita akan pikirkan nanti, aku akan membantumu untuk mencari alasan kepada Kak Tirta." ucap Tania.


" Yang dikatakan oleh Tania ada benarnya, aku juga akan membantumu untuk memberi alasan kepada Kak Rangga. Lagian ini semua juga bukan salahmu sepenuhnya, kita pergi juga untuk kita bersama. Dan kita juga mengetahui rahasia yang tidak diketahui siapapun, dan dalam waktu dekat kita akan mempublikasi siapa dia sebenarnya." ucap Zia dengan tersenyum.


" yang kalian berdua katakan emang benar, terima kasih karena kalian telah mendukung ku. suasana hatiku jadi sedikit tenang, walaupun sebenarnya aku masih takut dengan Kak Rangga dan juga Kak Tirta." jelasnya.


" Woy, ngapain kalian di sini?" tanya Putra yang sok asik pada mereka.


" Ngagetin aja kamu Put, mau tau aja apa mau tahu banget?" tanya Tania.


" Ya ampun Tania, semakin ke sini kamu semakin alay tahu nggak." ucap Putra dengan menggelengkan kepalanya.


" Sudahlah Putra, kamu ini baru hadir dan tidak mengetahui apa yang sedang kami bicarakan. Jangan membuat keributan di sini, lebih baik sekarang kita masuk. Sebentar lagi belokan berbunyi, akan berbahaya bagi kita jika kita terlambat." ucap Naura dan ketiganya pun mengganggu.


Mereka pun segera pergi menuju ruangan kelas mereka masing-masing, kini suasana hati Naura masih sangat panik. Ia masih memikirkan kemarahan Rangga dan juga Tirta, ia yang selalu izin kepada keduanya dan tiba-tiba saja tidak izin. Karena itu suasana hatinya menjadi gundah, alasan kegundahannya bukan hanya karena soal perizinan. Tetapi karena ia pergi ke tempat yang sangat berbahaya, dan hal-hal tersebut pasti sudah diketahui oleh Rangga dan juga Tirta melalui pengawal bayangan yang selalu mereka utus.


Naura melaksanakan pembelajaran tanpa tidak fokus, guru yang mengajarkan merasa heran dengan tingkah Naura. Guru itu pun menegur Naura, tetapi Naura masih tampak tidak fokus dan tidak mendengarkan. Guru itu pun menjadi penasaran dengan apa yang sedang dipikirkannya, tetapi tiba-tiba saja guru itu teringat akan privasi. Akhirnya ia pun diam, dan ia meminta kepada Tania untuk memperhatikan Naura.


# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.


1. Rela Walau Sesak


2. Derai Yang Tak Terbendung


3. Sepahit Sembilu


4. Azilla Aksabil Husna