
Zia pun menangis mendengar ucapan pak Jarot, ia yang tiba-tiba teringat dengan wajah sang mami yang memang dia tidak terlalu ingat karena pada saat maminya pergi ia masih kecil.
" Kau sayang kan pada mami mu, jadi papi mohon, tolong rubah sikap mu sayang."
Zia pun menangis dan hanya mengangguk saja dan ia pun kemudian memeluk sang papi, tangisnya tak berhenti hingga larut malam.
Tanpa sadar, Zia pun tertidur di dalam pelukan sang papi. Pak Jarot pun, kemudian keluar dari kamar sang putri dan pergi ke dalam kamarnya sendiri. Ia pun hanyut dalam lamunannya, teringat dengan sang istri.
flashback on
" Sayang, aku titip Zia ya." ucap sang istri dalam kondisi yang sangat lemah.
" Sayang, jangan ngomong gitu. Kau pasti akan sembuh, jadi kau harus kuat. Ingat anak kita sayang." pak Jarot sambil menangis dan menguatkan sang istri.
Tidak lama setelah pembicaraan mereka selesai, sang istri langsung tidak sadarkan diri. Pak Jarot yang panik, ia langsung memanggil dokter.
Setelah cukup lama ia berteriak di depan pintu, akhirnya dokter pun datang dan memeriksa sang istri. Dokter pun mengatakan kalau istrinya sudah tidak ada. Tangis pak Jarot pun pecah, ia sudah tidak bisa menahan lagi.
Anak-anaknya yang mendengar tangis pak Jarot, mereka langsung masuk ke ruangan dan ikut menangisi kepergian sang istri tercinta.
flashback off
pak Jarot tersadar dari lamunannya, saat mendengar suara sang putra sulung Rangga.
" Papi, papi sedang melamun ya?" tanya sang putra.
" Nggak." elak pak Jarot.
" Papi nggak usa bohong, semuanya sudah kelihatan dari wajah papi. Papi jujur, papi sedang memikirkan apa?" tanya Rangga dan membuat pak Jarot kaget, karena sang putra dapat membaca gerak wajahnya.
" Papi sedang memikirkan adik bungsu mu si Zia." jelas sang papi dan mendapat anggukan dari Rangga.
" Papi saat ini pasti sedang stres, karena Zia umurnya memang sudah semakin dewasa. Namun, tinggalnya masih saja kekanak-kanakan." jelas Rangga dan mendapat anggukan dari sang papi, Rangga yang merupakan Putra sulung juga mengambil tanggung jawab besar untuk adik bungsunya. Namun, sudah beberapa tahun terakhir Zia tidak dekat lagi dengan dirinya.
Rangga juga hanyut dalam lamunan dia juga tidak tahu harus seperti apa menghadapi adik kecilnya itu, sejak kecil dia selalu dimanja oleh karena itu dia selalu saja membuat masalah. sang papi selalu menuruti permintaannya dan itu juga yang membuatnya saat ini selalu menginginkan apapun yang dia inginkan.
Papi perlahan-lahan menceritakan tentang apa keinginan dari Zia. Namun, iya tidak mau menuruti permintaannya. Papi menceritakan kalau Zia saat ini sedang iri kepada seorang siswi di sekolah barunya, Zia sangat iri karena siswa itu dapat dekat dengan Arga.
Rangga yang melalui konet dan teringat kalau Naura saat ini sedang dekat dengan Arga ia pun terpikirkan tentang Naura. Dan ia pun menceritakan kepada papinya kalau selama ini ia tetap dekat dengan Naura.
Sang papi yang mendengar percakapan dari sang anak merasa sangat kaget, ia merasa setelah putusnya hubungannya dengan Tiara yang merupakan bunda dari Naura. Hubungan kedua putranya dan juga Naura terputus sejak saat itu.
Namun, semuanya tak seperti yang ia sangka, ternyata sang putra masih sering berhubungan dengan Tiara dan juga putrinya yang bernama Naura. dan bahkan mereka terus kontekan di belakang Jarot.
" Jadi kau tahu kalau siswi yang diiringin oleh adikmu adalah Naura?" tanya sang papi dan mendapat anggukan dari Rangga, sang papi tampak tidak tahu harus berkata apa lagi.
" Lalu menurutmu bagaimana, apakah kita harus melanjutkan hubungan kerjasama perusahaan kita dan keluarga Suseno dengan melanjutkan pertunangan antara Arga dan Zia. Atau membiarkan Naura hidup bahagia bersama Arga?" tanya sama ayah yang sudah kepalang panik.
" kalau menurut Rangga, itu semua tergantung dari Arga. Ya memang kita sudah memiliki kerjasama dengan perusahaan Suseno. Namun, jika harga tidak mencintai Zia untuk apa pertunangan itu dilanjutkan. Aku tidak ingin hidup adikku menderita papi. Tidak usah jauh-jauh coba papi ingat tentang hubungan tapi dan juga mami ku dan Reza." jelas serangga yang membuat Jarot merasa bersalah, karena hubungannya dengan istri pertamanya yang merupakan Mami dari Rangga dan Reza sangatlah buruk.
Ia pun memikirkan semuanya kembali, dan ia tidak ingin kalau Putri kecilnya itu mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Kehidupan putrinya masih panjang, dan ia juga tidak terlalu membutuhkan uang yang terpenting baginya adalah kebahagiaan putrinya.
Putri kesayangannya itu bersama dengan istri keduanya, iya tak ingin kejadian lampau di kehidupannya akan terulang kepada putrinya itu. Terutama saat ini calon yang akan dituangkan kepada putrinya sama seperti dirinya dulu yang sedang mencintai wanita lain.
Terlebih lagi saat ini ia sudah tahu, siapakah wanita yang dicintai oleh calon menantunya itu. dan kali ini ia juga tidak ingin menyakiti hati wanita itu, dulu ia telah menyakiti hatinya karena ia gagal menjalin hubungan dengan sang bunda. Dan kini ia tak ingin menyakiti hatinya kembali karena pastinya itu akan menoreskan luka yang sangat dalam dan akan membuatnya sangat membenci dirinya.
Dan hal itu pastinya juga akan berpengaruh kepada hubungan kedua putranya dan juga wanita itu. Gadis cantik dan cerdas itu sangat dikagumi oleh calon menantunya dan juga kedua putranya. Tidak lain gadis itu sama persis seperti bundanya yang membuat dia jatuh cinta dahulu.
Ia semakin ke palang panik, dan otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih. Sang putra menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam, dan mulai menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan oleh papinya itu.
Tiba-tiba saja telepon Rangga berdering, dan alangkah kagetnya Rangga ketika melihat nama yang tertera di telponnya itu. Ya Naura lah yang nelponnya, iya menata telponnya dan juga papinya, ia sangat ingin mengangkat teleponnya. Namun, ia tak ingin meninggalkan papinya yang saat ini sedang dalam suasana bersedih.
Sang papi yang melihat tatapan sang putra yang sangat aneh Ia pun melihat telepon sang putra. Kemudian ia memerintahkan sang putra untuk mengangkat telepon itu, karena jujur Ia juga sangat merindukan Naura. Dirinya dulunya sangat nyaman dengan Naura. Namun, karena sang putri tidak menyukai Naura dan ibunya, hubungan mereka pun berakhir dan mereka tidak pernah bertemu satu sama lain lagi.