Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 98



" Baik kak." jawabnya.


" Aku jadi penasaran dengan kehidupan masa kecil mu, tapi kau mau menceritakannya, jika tidak aku juga nggak masalah." ucap Karin.


" Baik aku akan menceritakan kehidupan ku secara singkat." jawabnya dan Karin pun mengangguk.


" Masa kecilku sangat berbeda dengan anak-anak lain, aku hanya tinggal bersama dengan bunda dan juga kakekku. Orang tuaku sudah berpisah sejak aku kecil, oleh karena itu aku tidak pernah dekat dengan ayahku. kakekku tidak bekerja, ia mengurus semuanya dari rumah. Ibuku adalah seorang guru, terkadang demi mengisi keseharian bunda mengajar les. Dan aku selalu ikut kemanapun bunda mengajar, dan dari sanalah aku mengenal banyak teman-teman baru. Dan dari kalangan yang berbeda-beda, walaupun pertemanan kami terkadang ditentang oleh kedua orang tua teman-temanku. Mereka berpikir karena aku anak broken home, maka lebih baik menjauh dariku." jelasnya tanpa meneteskan air mata.


" Aku tidak menyangka, kisah kehidupanmu begitu memilukan. Tetapi kenapa kau tidak menangis, kan sudah kubilang jangan tutupi tangismu dariku." ucap Karin dengan memeluk Naura.


" Aku belum bisa kak, selama ini aku selalu menutupinya. Karena itu, aku sudah terbiasa seperti ini." jawabnya dan Karin pun mengangguk.


" Ya sudah, tapi aku berharap. Semua ini akan menjadi kebiasaan mu, dan aku siap menjadi peraduanmu kapan pun dan dimana pun kau mau." jelas Karin.


" Aku akan mencobanya kak." jawabnya.


" Ok, tidak masalah." jawabnya dengan tersenyum.


" Sungguh anak ini, ternyata sangat banyak yang ia sembunyikan. Dan aku yakin, sakit yang ia rasakan akan sangat sulit di obati." batin Karin.


Keduanya terus bercerita, hingga tidak terasa waktu makan malam telah tiba. Kini mereka tengah duduk di meja makan, dan Rangga terus memperhatikan Naura saja. Terlihat kini Naura matanya sangat merah karena menangis, Rangga ingin menanyakannya. Tetapi ia tidak ingin adiknya berderai air mata lagi, jadi ia tidak menanyakannya. Dan memberikan kode senyuman kepada Karin, dan Karin pun tersipu malu.


" Tolong jangan buat aku jadi obat nyamuk." ucapnya kemudian pergi meninggalkan keduanya.


" Makasih ya beb, aku tidak menyangka kalau Ara akan menceritakan semuanya." jelas Rangga.


" Sebenarnya aku yang lebih terkejut, aku tidak menyangka kalau Ara menyimpan banyak cerita. Ternyata kehidupan kita masa lalunya sangat kelam, dan hal itu membuat aku juga ingin berderai. Aku sebenarnya tidak sanggup, tetapi aku terus menahannya. Aku tidak mau Ara tambah berderai, dan hal itu pastinya akan tambah menyakitiku." jelas Karin.


" Itulah yang membuat aku sangat menyayangi Ara, dan itu juga yang membuat aku nggan meninggalkannya. Aku sudah mengetahui kisah masa lalunya, dan aku tidak ingin dia kembali merasakan sakit itu lagi." ucap Rangga dan Karin hanya mengangguk.


" Pilihanmu memang sangat tepat, dan aku juga tidak ingin Ara merasakannya kembali. Kini aku ingin membahagiakannya, sama seperti dirimu. Walaupun awalnya aku merasa geram, karena kau lebih memperhatikan dia dari pada aku. Tetapi kini aku sudah mengetahui semuanya, dan aku ingin selalu ada bersama kalian." jelaskan yang tanpa sadar meneteskan air mata.


Dengan sigap berangkat langsung berjalan ke sisi Karin, dan ia pun langsung mengelap air mata tersebut. Kemudian menatap Karin dengan senyuman.


" Jangan menangis sayang, aku yakin setelah ini Ara pasti akan selalu di pihakmu. Dan aku yakin Ara pasti akan salah paham kepada kita, dan ia akan berpikir kalau kakaknya telah menyakiti kakak iparnya." jelas Rangga dan membuat Karin tersipu malu.


" Kamu bisa aja, panggilan itu belum pantas ku sandang. Karena gini kita masih belum berstatus suami istri." ucap Karin dengan masih menunduk.


" Kalau karena itu masalahnya, aku akan segera menghubungi papiku. Agar kita segera menikah." ucap Rangga dan Karin pun tambah tersipu malu.


" Ya Allah, tolong jangan buat aku jadi obat nyamuk. Kalau jadi abot nyamuk pengantin baru, insya Allah aku ikhlas. Tapi kalau jadi obat nyamuk orang pacaran, kalau bisa hilang hamba dari sini." ucap Naura yang baru saja muncul.


" Ara." ucap Karin yang langsung melepas pelukannya dari Rangga.


" Araaa…" panggil Karin.


" Ih jangan marah, yang dibilang sama Ara memang benar. Kalau gitu kita tentuin tanggal yuk." ucap Rangga dan membuat Karin tersipu malu.


" Ta-tapi…" ucapnya yang terhenti.


" Nggak ada tapi-tapian, lagian umur kita juga udah sesuai. Sih Tirta aja udah mau punya anak, masa kita cuma pacaran aja." ucap Rangga.


" Tapi kan orang tuaku di luar negeri, papi mas Rangga juga kan." ucap Karin.


" Kalau soal itu, ya tinggal kita bicarain aja. Mau melaksanakan di sini, atau di sana." ucap Rangga kemudian langsung menelpon Kakak Karin.


" Jangan telepon siapa-siapa." ucapnya namun sayangnya telepon Rangga sudah terhubung ke Kakak Karin.


" Halo Rangga, Ada apa ya telepon jam segini?"ucap Awan yang merupakan kakak Karin.


" Nggak ada kok kak." ucap Karin yang langsung menjawab.


" Nggak usah kamu tutupi Karin, tadi kakak sempat dengar kamu memerintahkan Rangga untuk tidak telepon siapa-siapa. Sekarang kakak mau bicara sama Rangga, sebenarnya apa tujuan Rangga menelpon kakak. Jangan kamu ganggu Rangga, atau kamu akan secepat yang akan nikahkan dengan Rangga." ucap Awan dan membuat Rangga tersenyum.


" Nah itu dia yang mau aku omongi kak, aku ingin secepatnya menikah dengan Karin." ucap Rangga.


" Kakak nggak salah dengar ini, kalian ingin secepatnya menikah?" tanya Awan untuk memastikan.


" Iya Kak, tapi kami masih bingung. Harus melaksanakan acara di sana atau di sini." ucap Rangga yang memang bimbang.


" Ya tentu di sinilah, masa putri semata wayang nikah nggak di rumah sendiri. Eh tapi tunggu dulu, nanti coba aku tanya kepada ayah. Siapa tahu mau melaksanakan pernikahan di rumah tua, kan jadinya kalian nggak perlu jauh-jauh ke sini. Cuma tinggal pergi ke luar kota aja, karena rumah tua keluarga kami ada di Kendari." jelas Awan.


" Oke baik kak, kami tunggu kelanjutannya ya." ucap Rangga dengan selembut mungkin.


" Tenang saja, secepatnya akan ku kabari." ucap Awan kemudian mematikan sambungan telepon.


" Ih kenapa ngomong gitu sih, kan jadinya pasti mikirnya akan jadi acara." ucap Karin.


" Memangnya kamu belum siap? kita sudah cukup lama menjalin hubungan loh, apakah tidak ingin melanjutkan jenjang berikutnya?" tanya Rangga untuk memastikan.


" Aku sangat ingin melanjutkannya, hanya saja aku masih bimbang." ucap Karin.


" Apa yang membuatmu bimbang?" tanya Rangga yang penasaran.


" Aku takut akan kegagalan pernikahan, aku tidak ingin seperti kak Danang. Dan akhirnya membuat Maura sedih, kau mengenal Maura bukan. Dia keponakanku, sejak kak Danang berpisah dengan istrinya. Keponakanku itu selalu murung, karena itu aku takut akan pernikahan." jelas Karin.