
Sinar matahari menimpa wajah keduanya, kini mereka langsung terbangun kemudian langsung segera mandi. Mereka pun segera bersiap-siap untuk segera pulang ke Indonesia, kini mereka tampil dengan sedangkan yang sangat rapi.
" Uti sama tante udah rapi aja." ucap Maura yang baru saja terbangun.
" Iya dong sayang, hari ini kan kami mau balik ke Indonesia." ucap Zia yang kini masih mengeringkan rambutnya.
" Sedih Maura ditinggal sendirian." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Jangan sedih dong sayang, putih sama tante kan emang harus balik ke Indonesia. Uti sama tante harus lanjut sekolah, nggak boleh lama-lama liburnya. Nanti bisa-bisa kami nggak lulus, Maura mau kami nggak lulus." ucap Naura yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Jangan gitu dong uti, nanti Maura jadi sedih." jawabnya.
" Ya makanya biarin uti sama tante balik ke Indonesia ya, nanti kalau udah liburan kami main ke sini lagi deh." ucap Naura dengan mencubit pipi Maura.
" Kan memang mau izinin, Maura mau mandi mau nganter uti sama tante." ucapnya yang langsung berlari ke kamar mandi.
" Maura itu lucu ya." ucap Zia.
" Ya karena itu aku bisa betah sama dia, walaupun dia banyak tingkah tapi dia itu sangat menggemaskan." jelas Naura.
" Yang kau katakan emang benar, aku selalu saja ingin mencubit pipinya yang chubby itu." ucap Zia yang tanpa sadar disuruh mencubit pipi Naura.
" Cubit pipi sih cubit pipi, tapi nggak pipi aku juga yang dicubit kali." ucap Naura yang kesal.
" Hehehe, habisnya pipi kamu itu chubby banget. Jadi pengen mencubit deh, maaf ya." ucapnya dengan tertawa.
" Ya udah deh, lagian yang udah terjadi mau gimana lagi." jawabnya.
" Kamu udah lapar belum?" tanya Zia.
" Aku sih belum lapar, tapi sepertinya kamu sudah lapar ya?" tanya Naura dan dia hanya tertawa saja.
" Hore, Maura udah siap." ucapnya yang baru keluar dari kamar mandi.
" Ponakan uti mandinya cepet banget, mandinya nggak pakai sabun ya." goda Naura.
" Pakai sabun dong uti, udah cantik gini mah saya dibilang mandi nggak pakai sabun." ucapnya yang kesal.
" Hahaha." tawa Naura dan juga Zia yang bersamaan.
" Uti sama tante nyebelin." ucap Maura dengan mengejar keduanya.
" Jangan lari-lari, nanti bisa jatuh." ucap Awan yang melihat tingkah ketiganya.
" Maaf paman, habisnya uti dan tante nyebelin." jawab Maura.
" Ya ampun, jadi ceritanya keponakan paman lagi kesal nih." ucap awan dengan langsung menggendong Maura.
" Ya begitulah paman, masa uti sama tante ngarahin aku." aduhnya kepada Awan.
" Memangnya mereka ngapain kamu sayang?" tanya Awan yang penasaran.
" Tapi sepertinya yang mereka bilang benar, buktinya sekarang Maura masih bauk." jawab awan dengan menutup hidungnya.
" Ih paman awan juga nyebelin." ucapnya dengan langsung memajukan bibirnya.
" Ada apa sih kesayangannya ayah, pagi-pagi kau sudah buat keributan?" tanya Danang yang baru saja turun dari tangga.
" Semuanya pada nyebelin ayah, masa Maura dibilang bauk. Padahal Maura baru siap mandi, seharusnya kan Maura wangi dan cantik." aduhnya kepada Danang.
" Siapa sih yang ngomong begitu tentang anak ayah?" tanya Danang dengan nada yang lembut.
" Tuh." ucap Maura yang justru menunjuk ke arah Awan.
" Lah kenapa jadi paman yang kenak." ucap Awan yang tidak terima.
" Itu semua karena paman mengganggu kesenangan kami, udah tahu kami lagi bercanda dan tertawa. Eh paman main tiba-tiba muncul terus mengganggu kami, paman awan nyebelin." ucap Maura dan yang mendengarnya pun menggelengkan kepalanya.
" Yang sabar ya Awan." ucap Reza dengan mengelus bahu Awan.
" Sebenarnya aku nggak terima sih, tetapi mau bagaimana lagi. Mau marah pun aku nggak tega, nggak sanggup aku mau marahin keponakanku sendiri." ucapnya yang mencoba sabar.
" Kasihan banget kak Awan, yang ribut pada awalnya kami yang kena masalah malah kak Awan." ucap Zia dengan menggelengkan kepalanya.
" Maaf ya kak Awan." ucap Naura yang tidak enak hati.
" Sudahlah Naura, sudah biasa aku diginiin sama Maura. Jadi kamu tidak perlu meminta maaf, dia memang selalu saja berbuat seperti ini." jelas Awan.
" Tetapi tetap saja aku merasa tidak enak kak." ucapnya dengan ekspresi sendu.
" Sudahlah tidak usah dipikirkan, lebih baik kamu sarapan. Sebentar lagi kakak akan mengantarmu ke bandara, karena besok kamu juga harus sudah masuk sekolah." perintah Awan.
Jini pun mereka menyantap makanan yang terhidang di meja makan, Maura tampak makan dengan sangat lahap. Mereka semua tertawa melihat tingkah Maura, anak yang terlihat pendiam itu hari ini bertingkah sangat barbar. Dan jujur saja kini semuanya menjadi banjir tawa, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya hari ini terjadi lebih dari sekali.
Setelah selesai sarapan, Naura dan juga Zia pun segera pergi ke bandara. Mereka berdua tampak terus bergandengan tangan, karena mereka tidak ingin terpisahkan. Ini adalah penerbangan mereka berdua yang pertama kali, karena biasanya mereka terbang bersama dengan keluarganya.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, kini mereka pun menerima panggilan untuk segera naik ke dalam pesawat. Beruntungnya mereka duduk bersebelahan, sehingga mereka bisa sedikit tenang. Mereka tidak banyak berbicara di dalam kabin pesawat, mereka sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing.
Entah apa yang dilakukan oleh Naura, sejak awal pesawat lepas landas Naura sudah menuliskan sebuah tulisan di dalam secarik kertas. Zia tampak penasaran dengan isi kertas tersebut, tetapi Naura enggan untuk menunjukkannya. Zia yang menyadari hal tersebut, ia pun tidak ikut campur dalam hal tersebut. Ia pun kemudian segera memandangi wajah sang kekasihnya kembali.
Tanpa disadari kini mereka sudah sampai di Indonesia, keduanya pun segera turun kemudian mengambil barang bawaan mereka. Kini mereka pun segera berjalan keluar, tampak supir kepercayaan Rangga sudah menunggu keduanya. Kini keduanya langsung menuju ke rumah Rangga, walaupun di rumah Rangga tidak ada siapapun tetapi di sana masih ada pembantu yang akan membantu mereka.
" Kita mau ke mana pak?" tanya Zia yang tidak mengetahui arah jalannya.
" Kita akan menuju rumah pak Rangga, barangnya sudah berpesan kalau nona Zia dan nona Naura akan tinggal di rumah pak Rangga." jawab sopir tersebut.
" Tetapi aku ingin pulang ke rumahku." ucap Zia yang tidak ingin menginap di rumah Rangga.
" Maafkan saya nona Zia, saya hanya menjalankan perintah dari pak Rangga. Bila nona Zia memang ingin tinggal di rumah nona Zia, maka lebih baik nona menghubungi pak Rangga terlebih dahulu. Saya tidak bisa mengambil keputusan tanpa perintah dari pak Rangga." ucap sopir tersebut dan Zia pun menjadi sangat kesal.