
" Kau keterlaluan Yuna, sudah lebih baik kita tidak usa kerja kelompok." ucap Leo yang kesal.
" Leo, kau jangan kepancing. Dia hanya akting. Dia hanya ingin mendekatimu." ucapnya.
" Dia tidak perlu mendekatiku, karena dari dulu ia adalah kesayanganku." ucap Leo yang mengagetkan semua mahasiswa dan mahasiswi yang lewat.
" Kakak sakit, hemmmhemmm." ucapnya sambil menangis.
" Uda sayang jangan nangis, masa adik kesayangan kakak nangis. Katanya pemberani." ucap Leo dengan tersenyum.
" Astaga, Ara kau tidak apa-apa?" tanya Farel yang baru tiba.
" Gak apa-apa kok kak." ucapnya dengan tersenyum.
" Leo, apa yang terjadi di sini. Kenapa adikmu sampai menangis?" tanya Irfan.
Leo tidak menjawab, ia hanya memberi kode lirikan pada Yuna. Dan untungnya Farel dan juga Irfan mengerti maksud Leo, dan keduanya pun menatap Yuna dengan tatapan tidak suka.
" Ya ampun, ternyata perempuan itu adik Leo. Sudahlah musnah harapan, karena tidak direstui oleh calon adik ipar." ucap mahasiswi yang lewat.
" Hadu, mampus aku. Ternyata cewek ini adalah adik Leo, kenapa aku nggak tau ya." batin Yuna.
" Maaf ya, aku nggak tau kalau kau adiknya Leo. Calon adik ipar, kakak minta maaf ya." ucapnya dengan tersenyum, dan seolah-olah merasa bersalah.
" Apa dia bilang calon adik ipar, Nau nggak suka sama dia. Nau lebih suka sama Tata, lebih baik kakak putuskan aja dia." ucap Naura dan membuat Yuna kebingungan.
" Adek tenang aja ya, kakak nggak pacaran sama dia. Jadi dia nggak mungkin jadi kakak ipar adek, dan kakak masih pacaran sama Tata." jawabnya dengan membujuk sang adik agar tidak marah.
" Syukur deh, soalnya adek nggak mau punya kakak ipar yang kayak nenek sihir. Pasti sekarang dia sedang marahi adek dalam hati." ucap Naura dan kini Yuna menjadi kaget.
" Anak ini tau dari mana, dan sepertinya akan sulit untuk menaklukkan dia." batin Yuna.
" Wadu, biasanya yang kau omongin itu benar. Jangan-jangan si Yuna memang lagi ngebatin yang tidak-tidak." ucap Farel yang sengaja membuat suasana menjadi panas.
" Iya bisa jadi, lihat tu tatapan si Yuna." ucap Irfan.
Mahasiswa yang lewat pun menjadi berfikir yang tidak-tidak juga tentang Yuna, image Yuna sudah terkenal tidak baik. Karena itu tidak sulit membuat orang mempercayai apa yang mereka katakan, tiba-tiba saja Naura memberi kode kepada Tania untuk datang. Dan dalam sekejap Tania segera datang dengan membawa bekal yang sudah ia siapkan.
" Ara, kau kenapa?" tanya Tania.
" Aku nggak apa-apa kok." jawabnya.
" Nggak usa bohong, sudah terlihat kau sedang sedih. Coba ceritakan apa masalahmu!" ucap Tania.
" Wah, baru melihatnya saja sudah tau. Pasti mereka akan sangat cocok, dan pastinya Leo akan memilih orang yang dekat dengan adiknya." ucap mahasiswa yang lewat, memuji kedekatan Naura dan Tania.
" Sepertinya mereka berdua sangat dekat, akan sangat sulit untuk memisahkan mereka." batin Yuna dengan menatap sinis ke arah Tania.
" Tata, kau ada disini." ucap Leo yang kaget.
" Iya." jawabnya dengan tersenyum.
" Kau sedang apa?" tanya Leo.
" Katanya kan kau ada mata kuliah sampai sore, jadi aku kesini bawain makanan." jawabnya dengan menunjukkan tempat makan yang ia bawa.
" Oh begitu, lalu kalau Nau. Kau ngapain dek?" tanya Leo yang kini kebingungan.
" Ara." panggil seorang pemuda, kemudian langsung memeluk Ara.
" Adek siapa dia, kau kan pacaran dengan Arga." ucap Leo dengan menatap sinis.
" Ini namanya kak Dimas, dan kak Dimas ini murit kesayangan bunda." jawab Naura dengan tersenyum.
" Hai aku Dimas, kakak pasti kakak tirinya Ara ya?" tanya Dimas, dan Leo hanya mengangguk saja.
" Ya benar kak, dan Ara bilang kakak sangat menyayanginya. Aku yakin bunda Tiara pasti sangat bahagia, karena Ara memiliki kakak sambung yang sangat menyayanginya." ucap Dimas.
" Ya begitulah, terus kau kesini karena mau ketemu sama dia dek?" tanya Leo, dan Naura pun mengangguk.
" Wadu, ada apa ini. Kenapa Ara pakai mengangguk lagi, sepertinya aku juga harus ikut berbohong." batin Dimas.
" Apakah benar Dimas?" tanya Leo.
" Iya bener kak, kebetulan hari ini adalah hari ulangtahun ku. Jadi meminta Ara kesini, agar kami bisa merayakan bersama." jawabnya.
" Kau tidak sedang berbohong kan?" tanya Leo dengan tatapan yang sinis, dan hampir saja menggoyangkan pendirian Dimas.
" Araaa…" Teriak seorang wanita dari kejauhan, kemudian langsung memeluk Naura.
" Kiki, aku tidak bisa bernapas." ucap Naura.
" Eh maaf, aku nggak bermaksud." ucapnya dengan tampang memelas.
" Yauda gpp, kau pasti merindukan aku ya?" tanyanya dengan tersenyum.
" So pasti, aku sangat merindukan momen-momen bersama dengan mu." ucapnya.
" Rindu momennya, atau rindu menjahili aku?" tanya Naura yang curiga.
" Hehehe, kau tau aja." jawabnya dengan tertawa.
" Ye dasar kau Kiki." jawab Naura dengan memanyunkan bibirnya.
" Udalah jangan ngambek, oh iya ngomong-ngomong kau ngapain disini?" tanya Kiki dan Naura pun memberi kode kepada Dimas.
" Kakak yang undang dek, kan hari ini ulangtahun kakak." jawab Dimas.
" Is kakak, kenapa nggak jemput Ara di rumahnya aja. Ara pasti capek ke sini." ucap kinan yang kini menatap Dimas dengan tatapan sinis.
" Kakak uda tawarin untuk jemput, tapi Ara ngeyel. Dan dia bilang akan datang ke kampus." jawabnya.
" Ara, kau ini kenapa pakai nolak si?" tanya Kinan.
" Kan tempat makannya ada di dekat sini, kalau kak Dimas jemput aku. Berarti harus bolak-balik dong, dan pastinya tidak hanya boros bensin tepi juga buat capek." jelas Naura, dan Kinan pun mengangguk.
" Yauda deh, untungnya argumenmu masih masuk akal. Kalau tidak, aku akan habisin kau." ucap Kinan masih dengan sorot mata yang tajam.
" Kau ini ya, selalu aja mengancam." ucap Naura dengan menggelengkan kepalanya.
" Seru tau." jawabnya.
" Iyalah, terserah kau saja." ucapnya dan membuat mereka semua tertawa.
" Sudahlah, mending sekarang kita pergi ke restorannya. Kebetulan aku juga sudah lapar." ucap Dimas, dan langsung menarik tangan Naura dan Kinan.
" Eh, kak Nau pergi dulu." ucapnya sambil berlari mengikuti langkah Dimas.
" Ye dasar itu anak, buat kesal aja." ucap Leo yang kesal.
" Udalah Leo, siapa suruh wajahmu menyeramkan. Jadinya pemuda itu pun ketakutan, hehehe." ucap Farel kemudian melakukan tos pada Irfan.
" Kalian berdua, kenapa juga mendukung pemuda itu. Yang sahabat kalian itu aku lho." ucap Leo yang kesal.
" Tapi semua itu kebenaran." ucap Irfan yang kini membuat Leo tambah marah.
" Kalian berdua ya." ucapnya dengan kesal dan mengejar Farel dan juga Irfan.