Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 113



" Kakak berdua sangat aneh." ucapnya.


" Nah ini dia yang ku maksud." ucap Jere.


" Maksudmu, apa?" tanyanya Fahmi yang penasaran.


" Maura, uti cariin dari tadi. Eh rupanya kau ada di sini." ucap Naura.


" Nah dia yang ku maksud." ucap Fahmi.


" Ada apa ini?" tanya Naura yang penasaran.


" Begini uti, kedua paman ini sedang berdebat. Mereka sedang berdebat mengenai kita, paman ini mengira namaku Naura, sedangkan paman yang satunya pastinya baru bertemu dengan uti bukan. Jadi mereka sedang mendebatkan, siapa yang sebenarnya memiliki nama Naura, hehehe." jelas Maura dan Naura ikut tertawa bersama dengan Maura.


" Kenapa kalian tertawa?" tanya Jere yang merasa heran.


" Tentu saja ini sangat lucu." ucap Naura dengan tersenyum.


" Lucunya ada di mana?" tanyanya yang masih tidak mengerti.


" Oke, aku akan memperkenalkan diriku ulang. Perkenalkan namaku Naura, dan yang di sebelah aku adalah keponakanku namanya Maura." jelas Naura dan keduanya pun menggelengkan kepalanya.


" Pantas aja kalian tertawa, ternyata nama kalian hampir sama." ucapan Fahmi.


" Jangan sampai salah benarkah orang lagi ya, nanti perdebatan kalian nggak akan ketemu ujungnya." ucap Naura dengan tersenyum dan keduanya hanya mengangguk saja, kemudian keduanya pergi dari tempat tersebut.


" lucunya kita, dari tadi kita berdebat. Ternyata yang kita perdebatkan dua orang yang berbeda, hanya namanya saja yang hampir mirip." ucap Jere dengan menggelengkan kepalanya.


" Ya begitulah Jer, aku rasa perdebatan kita nggak ada gunanya. Yang ada kita justru capek, berdebat tapi nggak ada ujungnya." ucap Fahmi.


" Ya sudahlah, lebih baik kita lanjutkan pekerjaan kita. Kalau pekerjaan kita tidak terselesaikan, bisa-bisa kita tidak diberi upah. Bukannya dapat duit, justru dapat capek doang." jelas Jere dan mereka pun segera melanjutkan pekerjaan mereka.


Kini Naura dan juga Maura, mereka pergi untuk menghampiri Karin. Keduanya sangat takjub melihat kecantikan Karin, bahkan para perias juga mengakuinya. Karin yang memang memiliki kecantikan alami, kini membuat semua mata terpanah.


" Wah Kak Karin cantik banget." ucap Naura.


" Pengantinnya memang cantik Mbak, saya saja sampai takjub melihatnya. Pengantinnya memang memiliki kecantikan yang alami, karena itu ketika kami bantu dengan sedikit make up. Ia semakin memancarkan aura kecantikannya, dan bahkan kami tidak percaya dengan hasil kerja kami." ucap salah satu MUA.


" Mbaknya bisa aja kalau muji." ucap Karin yang tersipu malu.


" Tapi benar yang dikatakan mbaknya, kakak memang cantik. Aku yakin kak Rangga pasti akan terpanah, dan nggak akan mau melepaskan kakak." ucap Naura dengan tersenyum.


" Kau ini ya Naura, di sini masih ada Maura loh." ucap Karin, yang tidak ingin keponakan kesayangannya itu memikirkan hal yang aneh-aneh.


" Eh iya ada Maura, aku lupa kak." jawabnya dengan senyum kikuk.


" Memangnya yang uti Karin sama uti Naura omongi apa?" tanya Maura yang memang tidak mengerti.


" Kita nggak ngomongin apa-apa kok, udah nggak usah dipikirin." ucap Karin dan bersyukur kalau Maura tidak mengerti.


" Ya udah deh kalau gitu, tapi kan uti Karin mau nikah hari ini. Kalau kayak gitu, berarti nanti Maura punya dedek." ucap Naura dan sontak saja yang ada di ruangan itu menjadi kaget.


" Bukan aku kak." ucap Naura dengan isyarat tangan.


" Ayah bilang, kalau udah nikah berarti bakal punya dedek. Sama kayak ayah sama mama dulu, makanya bisa punya Maura." jelas Maura dan Naura pun mahalan nafas.


" Maura mau cepet-cepet punya dedek ya?" tanya Naura yang iseng.


" iya, biar Maura punya temen main." jawabnya yang memang di pikirannya hanya ada main saja.


" Kalau begitu doain aja ya, biar uti Karin cepet-cepet punya dedek. Tapi kalau Maura bilang kayak gitu, berarti uti Naura nggak dianggap dong." ucapnya dengan sedikit ngambek.


" Hayo Maura, uti Naura nya ngambek tuh." ucap Karin untuk menakuti Maura.


" Jangan ngambek dong uti, Maura nggak punya temen lagi nanti." ucapnya dengan ekspresi sedih dan memeluk Naura.


Setelah melihat ekspresi sedih dari Maura, kini Naura dan Karin tertawa dengan terbahak. Keduanya merasa kalau tingkah Maura sangatlah lucu, dan tiba-tiba saja Danang ayah dari Maura pun hadir.


" Apa yang sedang kalian tertawakan?" tanya Danang yang baru saja hadir di ruangan tersebut.


" Uti Karin sama uti Naura ngetawain Maura." ucap Naura dengan langsung mendekat kepada ayahnya.


" Memangnya apa yang kamu lakukan sayang, sampai-sampai kedua uti kamu ini bisa tertawa?" tanya Danang yang merasa heran.


" Aku nggak tahu, tadi aku cuma bilang kalau bentar lagi uti Karin bakal punya dedek. Eh uti Naura malah ngambek, kangen setelah itu keduanya malah tertawa." jelasnya kepada sang ayah dan ia pun merasa terkejut dengan penuturan Putri semata wayangnya tersebut.


" Siapa yang ngajarin kamu, kalau sebentar lagi uti Karin bakal punya dedek?" tanya Danang yang sudah mulai kesal.


" Kan ayah sendiri yang pernah bilang, kalau udah nikah pasti bakal punya dedek. Sama kayak ayah dan mama, makanya bisa punya Maura." ucapnya dan Danang pun langsung memukul kepalanya.


" Ya ampun, kenapa aku pernah berkata seperti itu kepadanya." batin Danang.


" Oh iya ya, ayah lupa pernah ngomong kayak gitu. Kalau gitu mending sekarang kita keluar yuk, kebetulan di luar udah banyak tamu." ucap Danang dengan menggendong Maura kemudian mereka segera keluar dari ruangan rias.


" Ayah, Maura pengen dedek." ucapnya yang kini masih di depan pintu ruangan tersebut dan terdengar hingga dalam.


" Nanti ya sayang, nanti ayah akan coba pikirkan ya." jawab Danang yang sedang kebingungan untuk menjawab pertanyaan putri semata wayangnya itu.


" Mampus aku, kenapa aku pernah menceritakan melalui itu kepadanya." batin Danang yang menyesal.


" Hore, kalau bisa cepatnya ya Ayah. Soalnya Maura pengen temen main, Naura bosen sendirian. Kalau sekarang sih ada uti Naura yang nemenin, tapi kalau uti Naura udah balik pasti Maura sendirian lagi." ucapnya yang tanpa sengaja terdengar di telinga Ayah Danang.


" Jadi cucu kesayangan kakek pengen punya dedek, kalau begitu cucu kesayangan kakek mau punya mama juga?" tanya ayah Karin.


" Iya kek, tapi Maura pengennya yang mirip sama uti Karin. Kalau nggak milih uti Karin mirip uti Naura pun nggak apa-apa, yang penting yang sayang sama Maura dan juga ayah." ucapnya dengan tersenyum.


" Kalau kayak gitu, kakek akan berusaha. Untuk menjadikan mama impian Maura, tapi ayah kamu susah nih." ucap sang kakek dengan mengedipkan matanya.


" Oke kakek, pokoknya Maura mau mama baru. Kalau ayah nggak mau kasih Maura mama, Maura mau pergi aja dari rumah ini." ancam Maura dan membuat mereka kaget.