Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 26



Pak Doni yang melihat Lusi dan Tama berlarian, ia pun menghampiri mereka dan meniupkan peluit.


Mendengar suara dari peluit pak Doni, Tama dan Lusi menghentikan kegiatan mereka. Mereka pun menutup telinganya karena suara peluit pak Doni sangat menggangu.


" Pak, ngapain si tiup peluit? kan telinga kami jadi sa..." ucap Tama yang tiba-tiba terhenti karena Lusi menutup mulutnya dengan tangannya.


Pak Doni menatap mereka berdua dengan wajah penuh kemarahan.


" Eh bapak, hehehe." ucapannya dengan tersenyum dan ingin melarikan diri bersama dengan Tama.


Belum sempat mereka pergi, pak Doni memanggil mereka.


" Mau kemana kalian?" tanya pak Doni dengan nada kemarahan.


Mereka berdua hanya tersenyum saja. Pak Doni terus menatap ke arah mereka, mereka berdua pun sangat ketakutan.


" Kalian berdua, sekarang ikut saya ke ruang BK." ucapnya kemudian pergi menuju ruang BK.


Lusi dan Tama tidak berkata apapun, mereka hanya mengikuti pak Doni dari belakang. Mereka pun akhirnya sampai di ruang BK.


Pak Doni langsung mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di kursi yang berada di depan mejanya.


Mereka tidak mengatakan apapun dan langsung duduk saja. Mereka diam-diam memperhatikan wajah pak Doni yang saat ini sedang marah pada mereka.


Setelah cukup lama dalam keheningan, akhirnya pak Doni bersuara. Baru satu kata saja yang keluar dari mulut pak Doni, dan mereka sudah gemetaran. Terutama Lusi, ini adalah kali pertamanya memasuki ruang BK. Ruangan yang paling ia benci dari ia kecil.


" Kalian sedang apa tadi? lari sana-sini. Kalian itu sudah kelas XII, dan kalian bertingkah seperti anak kecil." ucap pak Doni, Lusi dan Tama tidak bersua, mereka hanya menunduk saja.


" Jawab pertanyaan bapak." bentak nya lagi dengan memukul meja.


Lusi gemetaran mendengar perkataan pak Doni, ia pun mencubit tangan Tama karena ia sangat takut. Tama sebenarnya merasakan sakit. Namun, ia berpura-pura seperti tidak merasa sakit.


Tama akhirnya bersuara untuk menjawab pak Doni, karena sudah lelah di cupitin sama Lusi dari tadi.


" Pak, kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya bermain kejar-kejaran saja, menurut ku itu adalah hal biasa." jelas Tama dengan berani, Lusi yang mendengar perkataan Tama sangat keget. karena Tama sangat berani berkata seperti itu di hadapan pak Doni.


" He, o kok ngomong gitu. Itu pak Doni Lo." jelas Lusi dengan berbisik.


Pak Doni menatap mereka berdua dengan sangat sinis. Kemudian ia mulai menerka apa yang sedang dibicarakan oleh kedua siswanya itu.


Lusi yang mendengar perkataan Pak Doni merasa sangat takut. wajahnya kian memucat, dan ia pun menunduk.


Berbeda dengan Tama, ia yang sudah biasa melihat tingkah Pak Doni. Menurutnya hal yang dikatakan oleh Pak Doni bukan apa-apa, karena Pak Doni tidak pernah melakukan apa yang dikatakannya dengan benar. Pak Doni hanya akan menggertak para anak-anaknya ini agar mereka berubah. Namun, kini apa yang mau diubah. Tingkah mereka bukan


la tingkah yang bandel, hanya tingkah yang sedikit kekanakan.


" Kami nggak ngomong apa-apa tentang, hanya saja si Lusi merasa takut dengan bapak. Padahal kami nggak ngapa-ngapain pak, cuma kejar-kejaran aja di lapangan." jelas Tama dan mendapat anggukan dari pak Doni.


" Ya kalian memang nggak ngapa-ngapain, tetapi kalian menjadi pusat perhatian semua siswa dan siswi yang berada di sekitar lapangan. Saya yakin setelah ini kalian baca forum pasti akan terkaget-kaget." jelasnya dan membuat kedua siswanya sangat kebingungan.


" Maksud bapak apa, forum apa?" Tama sangat kebingungan dan ia bertanya-tanya apa maksud dari Pak Doni tersebut. " Apa maksudnya forum sekolah ya?" batinnya yang bertanya-tanya.


" Nanti kalian cek aja ya sendiri, tadi para siswa dan siswi sudah mulai menggosipkannya. Tapi kalian untuk lebih pastinya cek aja sendiri." ucapan Doni mencoba menjelaskan apa maksud dari perkataannya sebelumnya.


Mereka berdua semakin tambah penasaran, mereka berdua pun saling menatap. Pikiran keduanya melawan buana entah ke mana. Tiba-tiba saja berniat ingin membuka telepon genggamnya, dan alangkah kagetnya ketika ia membuka telepon genggamnya. Ia melihat ada kabar di forum sekolah.


Kabar itu membuat dia sangat panik, kabar yang tertera di forum mengatakan kalau ia dan Tama sedang menjalin sebuah hubungan. Dan kabar itu sangat menggemparkan di sekolah, dalam seketika ia teringat dengan perkataan Pak Doni barusan. Dan Ia berpikir kalau yang dikatakan oleh Pak Doni adalah kabar yang baru saja ia lihat.


" bagaimana, sudah kalian lihat beritanya?" tanya Pak Doni yang melihat ekspresi yang sangat banyak di wajah Lusi.


" Su-sudah pak." jawab dulu sih dengan terbatas.


Tama yang melihat tingkah Lusi, iya juga menjadi penasaran dengan apa yang barusan dilihat oleh Lusi di forum sekolah. Tama pun akhirnya mengambil handphone Lusi.


Tama yang melihat postingan di forum sekolah, ia juga kaget. Namun, dibalik wajah kaget itu. Ia merasa sangat senang, sebenarnya selama ini ia memendam rasa kepada Lusi. Dan ia tidak berani untuk mengatakannya.


Pak Doni yang merasakan gagal utama saat ini sedang senyum-senyum sendiri, iya akhirnya menyadari. Bahwa selama ini, Tama telah jatuh hati kepada Lusi. Namun, Tama tidak berani untuk mengakuinya. Mungkin karena dia malu atau ada sebab lainnya.


" Karena kalian telah membacanya, bapak tidak perlu membicarakan lagi kepada kalian kan. Dan sekarang tinggal keputusan kalian, jika ingin melanjutkan. Jika tidak cepat putuskan dan beri informasi kepada semuanya, sebelum banyak siswa dan siswi yang patah hati karena kalian. Walaupun kabar itu belum tentu kebenarannya." jelas Pak Doni dan hanya dijawab anggukan oleh mereka berdua.


" Apa yang dikatakan oleh Pak Doni, ada benarnya juga." batin lusi.


Lusi kemudian menatap arah Tama, ia meminta untuk kejelasan. Dan ia tak ingin semua fansnya kabur gara-gara tama, ya walaupun sebenarnya ia tidak ada menyukai salah satu dari fansnya itu.


Tama tidak merespon, ia kemudian langsung pergi meninggalkan Lusi di dalam ruangan BK. Lusi sangat kaget melihat respon Tama, iya masih duduk terdiam dan menatap ke arah pintu keluar.


Pak Doni pun menyadarkannya, Kemudian menyuruhnya untuk kembali ke ruangan kelasnya. Bukan karena apa Pak Doni menyuruhnya kembali. Namun, karena jam istirahat telah selesai. Dan kini Pak Doni akan melanjutkan pembelajaran. Dan ia tidak mungkin untuk meninggalkan Lusi sendirian di ruangan. Namun, lebih tidak mungkin lagi ia bersama dengan Lusi di ruangan itu, dan lagian Lusi juga harus mengikuti proses pembelajaran selanjutnya.