Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 97



" Tentu om, om tenang saja. Aku akan selalu menjaga hati Zia, agar ia tidak meninggalkanku. Dan kejadian seperti masa lalu nggak akan terjadi lagi, aku janji Om." ucap Riko.


" Saya pegang ucapan mu, tapi kau juga jangan buat hal buruk." ucap Jarot.


" Papi tenang aja, Riko nggak mungkin berbuat seperti itu sama Zia. Zia percaya sama Riko papi, dan Zia yakin jika memang Riko adalah jodoh Zia. Zia dan Riko akan terus bersama, walaupun pastinya akan banyak tantangan yang muncul di dalam hubungan kami." jelas Zia dan Jarot hanya mengganggu.


" Tampaknya putri kecil papi sudah sangat yakin, kalau begitu papi tidak bisa berkata apa-apa. Papi hanya berpesan satu hal, jangan lakukan sesuatu yang akan membuat kalian menyesal di kemudian hari." jelas Jarot.


" Baik om, saya akan selalu mengingat pesan om. Dan saya janji akan menjaga Zia, karena jujur saya sangat sulit untuk mendapatkan Zia om. Karena itu saya tidak ingin kehilangan Zia om, dan saya akan berusaha agar dia selalu ada dalam dekapan saya. Dan saya akan menjaganya agar tidak ada satu orang pun yang berani melukainya, dan dia akan selalu aman bersama dengan saya." janji Riko kepada Jarot papi Zia.


" Kalau begitu saya titip Zia, dan mudah-mudahan saja apa yang kau katakan adalah kebenarannya." ucap Jarot dengan tersenyum.


" Halo Zia sayang, kebetulan nih masakan Mami udah matang. Yuk kita makan sama-sama." ucap mami Riko yang baru saja muncul.


" Iya mami, Zia matikan telepon dulu ya." ucapnya dengan tersenyum.


" Memangnya dia lagi teleponan sama siapa?" tanya mami Riko.


" Zia lagi telepon sama papi." jawabnya.


" Oh lagi teleponan sama Jarot, mami boleh ngomong sama papinya dia?" tanya Mami.


" Gimana pi, tapi mau ngomong nggak sama maminya Riko?" tanya Zia untuk memastikan.


" Boleh, kebetulan papi juga penasaran sama keluarganya Riko." jawab Jarot kemudian Zia langsung menyerahkan teleponnya kepada mami Riko.


" Halo Jarot, apa kabarmu?" tanya mami Riko.


" Aku nggak salah lihat kan, ini Dini teman SMA aku." ucap Jarot yang tidak percaya.


" Ini beneran aku loh, uda lama ya kita nggak ketemu." ucap Dini.


" Iya, uda lama banget. Eh ternyata sekarang anakku malah sama anakmu, Nggak nyangka ya. Lama-lama kisah kehidupan kita kayak di novel-novel ya, hehehe." ucap Jarot sambil tertawa.


" Iya bener banget, aku aja kaget waktu tau Zia itu anakmu. Dan aku sudah menanti-nanti hal ini, dan sesuai dengan tebakan ku kau juga kaget." ucap Dini.


" Wah-wah kalian nggak enak banget ya, aku jadi teringat masa-masa SMA kita loh." jawab Jarot.


" Masa sewaktu kau di tolak sama Fiona, hehehe." ucapnya sambil tertawa.


" Eh, jangan ingat-ingat masa itu lah. Itu kisah yang sangat memalukan, kalau mau ingat yang lain aja lah." ucap Jarot.


" Nggak mau, kisah itu sangat lucu. Dan selalu membuat aku tertawa ketika mengingatnya." ucap Dini.


" Sepertinya kita malah jadi orang aneh ya beb." ucap Riko.


" Ya namanya juga reunian, ya biarin ajalah." jawab Zia.


...----------------...


Tok


Tok


Tok


Keduanya pun langsung masuk, dan mereka duduk di kursi yang ada di hadapan Rangga.


" Eh kalian, ada apa ya?" tanya Rangga.


" Kak, kak Karin sangat penasaran dengan kak Desi." ucap Naura.


" Jadi?" tanyanya yang masih belum mengerti niatan adiknya itu.


" Jadi Ara dan kak Karin mau ke rumah kak Desi, kakak ngizinin nggak?" tanya Naura dengan lembut.


" Besok aja ya dek, kakak nggak bisa antar sekarang. Kakak juga takut terjadi apa-apa kalau kalian pergi hanya berdua." jawab Rangga.


" Yuada, tapi janji ya besok kakak antar aku sama kak Karin ke rumah kak Desi." ucap Naura dengan tatapan sinis.


" Iya anak manja." jawabnya dengan mencubit pipi Naura.


" Sakit tau kak." ucap dengan berusaha melepaskan cubitan Rangga di pipinya.


" Masa gitu aja sakit, kakak nggak percaya." ucapnya, kemudian ingin mencubit kembali. Tetapi Naura pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.


" Ara, maaf bukannya kakak nggak kasih izin. Cuma keadaan di luar sedang berbahaya, dan aku nggak mau kehilangan kalian." batin Rangga.


Naura dan Karin kini berada di kamar Naura, dan Karin pun melihat seisi ruangan itu. Tetapi tidak ada apa pun disana, kecuali boneka tedy kesayangannya dan juga sebuah foto.


" Itu foto siapa?" tanya Karin.


" Itu foto bundaku kak." jawab Naura dan kemudian ia langsung foto tersebut.


" Bunda Kamu sangat cantik ya." puji Karin dengan mengelus foto tersebut.


" Terima kasih kak, tapi sayang semuanya tinggal kenangan." jawab Naura yang tanpa sadar meneteskan air matanya.


" Kamu nangis?" tanya Karin yang tidak percaya.


Naura tidak menjawab pertanyaan dari Karin, ia hanya menundukkan kepalanya kemudian tersenyum memandang foto bundanya.


" Andai saja bunda masih ada di sini, Ara pasti seneng banget bunda." batin Naura.


" Ternyata Ara bisa nangis, aku kira dia tidak pernah menangis. Wajahnya yang tampak tegar dan selalu tersenyum, ternyata itu semuanya sebuah topeng. Dan topeng itu, berhasil menipu semua orang yang ada di dekatnya." batin Karin dengan mengelus kepala Naura.


" Menangislah sepuasmu, bila butuh teman curhat ada aku disini. Jangan pendam semua kesedihanmu, karena itu akan menjadi luka yang terdalam." jelaskan dan Naura pun semakin berderai.


" Syukurlah, akhirnya kau bisa menangis dengan lepas. Karin, terima kasih sayang. Kau bisa menenangkan Ara, dan aku yakin ini semua adalah jalan yang ditunjukkan oleh sang pencipta. Yang membuktikan, kalau kau adalah orang yang tepat untukku." batin Rangga yang kini berada di depan pintu kamar Naura.


" Maaf ya kak, kakak jadi menyaksikan aku menangis. Padahal niat awalnya kita mau ngobrol, sambil bercanda dan tertawa." ucap Naura dengan senyum yang terpaksa.


" Jangan tersenyum, senyummu itu adalah topeng. Dan jujur saja aku tersakiti, karena awalnya aku mengira itu adalah wajah aslimu. Tapi ternyata semua terkaan ku salah, dan yang aku lihat selama ini hanyalah sebuah topeng yang kau gunakan." jelaskan Karin dan Naura pun langsung memeluknya.


" Maafkan aku kak, aku hanya tidak ingin mendapat tatapan kasihan. Aku tidak ingin dikasihani, aku ingin orang yang dekat denganku karena mereka memang sayang padaku. Bukan karena merasa kasihan padaku, karena itu akan sangat menyakitiku." jelas Naura dan Karin mungkin meneteskan air matanya.


" Baik kalau itu kemauanmu, tapi tolong jangan sembunyikan itu dariku. Karena jujur aku juga merasa tersakiti, karena awalnya aku kira kau sangat bahagia. Tetapi semua itu hanyalah sebuah topeng yang kau gunakan. Terserah bila kau ingin menggunakan topeng itu di luar, tapi tolong jangan gunakan topeng itu di hadapanku." jelaskan dan Naura pun mengangguk.