
Mereka menghubungi Naura. Namun, tidak di angkat-angkat. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi Naura besok saja. Berhubung waktu sudah malam, Reza pun kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Keesokan paginya Naura melihat handphonenya dan alangkah kagetnya ia ketika melihat banyak telpon dan VC masuk dari Rangga dan juga Reza.
Ia pun segera menghubungi kakaknya itu. Namun, karena masih pagi, telponnya tidak di angkat oleh sang kakak. Dan ia tidak menghubunginya lagi, ia langsung bersiap untuk pergi ke sekolah.
Pagi Naura tampak seperti biasa. Namun, tidak dengan pagi Zia, yang sangat tidak menyenangkan baginya. Biasanya ia selalu mendapat sanjungan karena kecantikannya. Namun, kini ada seorang wanita yang lebih cantik dari dia di sekolah barunya.
Walaupun sebenarnya kini ia baru mengetahui namanya saja, setiap mendengar nama itu ia pasti akan sangat kesal. Dan pastinya ia penasaran dengan wajah wanita yang membuat harinya tidak menyenangkan.
Ia masuk ke halaman sekolah, dan langsung menuju ke kalasnya. Namun, sebelum itu ia pergi ke kelas XI ¹ terlebih dahulu yang berada di sebelah kelasnya. Ia sangat penasaran dengan wajah Naura.
Naura yang tidak tau apa-apa, ia berjalan dengan santai. Ia duduk dan mengobrol dengan sahabatnya Tania.
Zia terus memperhatikan mereka berdua, rasa iri di dalam hatinya semangkin bertambah saat melihat wajah Naura yang memang terbilang cantik.
Naura tidak memperhatikan apa-apa, dan tiba-tiba telponnya berbunyi. Ia yang sangat bahagia melihat nama yang tertera, ia langsung mengangkat telepon itu.
" Halo, assalammualaikum kak." ucapnya dengan penuh senyuman.
" Waalaikumsallam, adik kakak tersayang." jawab seseorang dari sebrang telepon.
" Ih, Kakak ini. Aku bukan anak kecil kalik." jawabnya dengan nada manja.
Zia yang melihat tingkah Naura, ia merasa memang Naura tidak hanya cantik tapi juga imut. Ia bertambah bingung, dan ia mencari cara agar dapat mengalahkan Naura.
" Tapi bagi kakak, kamu tetap adalah adik kecil Kakak. hehehe." tambah lagi pemuda itu.
" Kak Rangga." Naura marah dengan jawaban Rangga.
Zia yang mendengar nama itu, ia sangat kaget. " Apa itu kakak gue ya?" batinnya dengan tetap memandang ke arah Naura.
" Jangan marah dong dek, kan kakak sayang sama Adek." jelas Rangga untuk menghindari amukan sang adik Naura.
Tiba-tiba Dion muncul dan mengagetkan Zia, ia yang kaget pun merasa panik karena ia ketahuan oleh Dion. Ia pun segera pergi menuju ke kelasnya.
Naura yang menyadari kehadiran Dion, ia pun mengulas senyuman. Dion segera melambaikan tangan dan segera pergi menuju kelasnya.
Tidak lama setelah itu bel pun berbunyi, Naura yang kaget ia langsung meletakkan handphonenya. Ia lupa kalau masih telpon dengan Rangga.
" Naura." Teriak Rangga, yang dari tadi tidak mendapatkan respon dari Naura.
" Maaf kak, Naura lupa. hehehe." jawabnya sambil tertawa.
" Ye dasar, kalau kepala nggak lengket mungkin juga di lupakan." kelu Rangga yang sudah bosan dengan tingkah sang adik yang memang sudah sering terjadi.
" Hehehe, iya, iya maaf. Habis tadi bel bunyi, jadi uda dulu ya kak." ucapnya untuk mengakhiri telepon.
" Yauda, semangat belajarnya. Nanti kalau Uda jam istirahat kabarin ya!" perintah Rangga dan di jawab dengan "iya" kemudian sambungan telepon terputus.
Guru pun segera memasuki ruangan kelas, pelajaran pun di mulai. Namun, di tengah jam pelajaran Arga muncul dan berniat membawa Naura pergi.
" Permisi Bu." ucapnya karena melihat ada guru di ruangan itu.
" Iya Arga, ada apa ya?" tanya guru yang sedang mengajar di dalam kelas itu.
" Saya ingin memanggil Naura Bu, kebetulan kami ada urusan di ruangan kepala sekolah." jelas Arga dan mendapat anggukan dari ibu guru dan kemudian menyuruh Naura untuk keluar.
" Ya udah kalian sana pergi, ibu juga sudah dengar kalau kalian berdua akan mewakili sekolah dalam olimpiade nasional." jelas guru itu dan membuat seisi ruangan tercengang karena mengetahui kalau Naura akan mewakili sekolah mereka.
Hal ini sebelumnya tidak pernah terjadi, mereka menerka-nerka. Dan mereka berpikir kalau ini semua terjadi karena kecerdasan Naura, seorang siswi seperti Naura belum pernah ditemukan oleh mereka dan kali ini ia berada di kelas yang sama dengan mereka. Mereka sangat bahagia karena kelas mereka akan semakin melejit dengan kehadiran Naura di dalam kelas itu.
Setelah Arga dan Naura pergi, pelajaran pun kembali berlanjut. Mereka mencoba melupakan kejadian dan melanjutkan pembelajaran dengan semula. Mereka mencoba fokus kepada pelajaran karena sebentar lagi akan ada ujian.
Setelah menjelaskan di papan tulis, guru itu bercerita kepada para siswanya tentang Naura yang membuat para guru takjub.
Guru itu menceritakan tentang Naura dengan sangat semangat, bahkan identitas Naura yang sebelumnya tidak diketahui oleh mereka telah tersebar. Naura yang merupakan seorang siswi tercerdas di Bandung dan juga anak dari seorang guru yang sangat pintar dan diakui oleh dunia.
Semua berpikir kalau kecerdasan aura adalah keturunan dari ibunya yang merupakan seorang guru yang sebelumnya memenangkan olimpiade di luar negeri untuk mewakili negara.
Mereka semua semakin ingin berteman dengan Naura, dengan kronologi kisah Naura mereka mengetahui kalau Naura bukanlah orang yang memandang harta. Setelah mendengar cerita guru itu mereka tahu kalau Naura hidup dengan biasa saja.
Mereka semakin nyaman dengan Naura, mereka tidak ada yang takut lagi untuk mendekati Naura. Karena mereka tahu Naura bukanlah orang yang memilih teman, awalnya mereka mengira Naura karena anak baru karena itu dia berteman dengan siapa saja. Namun, setelah mendengar penuturan dari guru di dalam kelas itu mereka mengetahui semuanya.
Mereka semua menjadi tambah penasaran dengan kehidupan Naura, dan mereka semakin ingin dekat dengan Naura untuk mengetahui seperti apa kehidupan Naura selama ini. Dan mereka penasaran siapakah sebenarnya Ayah Naura karena sang guru tidak menceritakan kronologi kehidupan Ayah Naura.
Naura dan Arga sampai di ruang kepala sekolah, kepala sekolah memberikan kisi-kisi soal yang akan mereka ujikan di olimpiade nantinya. Naura dan Arga belajar dengan sangat giat untuk mendapatkan juara di olimpiade tersebut, karena waktu yang sudah tidak banyak mereka memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk mempelajari semua materi tersebut.
Sangking semangatnya mereka belajar, mereka berdua sampai melupakan jam istirahat. mereka sangat fokus dengan pelajaran itu dan tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitar. Siswa dan siswi yang berada di perpustakaan itu memperhatikan mereka berdua, tebakan mereka semakin melayang dan mereka semakin berharap kalau Naura dan Arga menjadi pasangan.