
Tirta pun datang, kemudian ia duduk di samping Arga. Arga tampak ketakutan menatap wajah Tirta, sorot matanya yang sangat tajam membuat dirinya gemetaran. Tetapi ia tetap berusaha berani, Karena bila ia melarikan diri maka ia akan dianggap pengecut. Dan hubungannya dengan Naura akan ditentang oleh, dan ia tidak mau hal itu terjadi.
" Makasih ya udah jaga Ara." ucap Tirta dengan tersenyum dan membuat Arga tersentak.
" Gue nggak salah dengarkan, kak Tirta ngucapin makasih." Batin Arga.
Tirta pun merasa heran dengan sorot wajah Arga, Arga terus menatapnya dengan sorot mata yang sangat aneh seperti sedang melamun. Tirta pun menepuk bahu Arga, agar Arga tersadar dari lamunannya. Begitu Tirta menemukan tangannya, wajah Arga dalam seketika memucat. Jujur saja Tirta ingin tertawa, tetapi ia tidak berani tertawa di hadapan Arga.
Tidak lama setelah itu, Naura pun sampai dengan membawa es batu dan juga handuk basah. Tirta yang melihat kehadiran Naura, Ia pun memutuskan pergi ke kamarnya. Karena matanya juga sudah mengantuk dan ia juga merindukan istrinya.
Naura pun tampak heran, Iya terus menatap kepergian Tirta. Iya sangat bingung dengan sikap Tirta hari ini, sikapnya lembut tetapi sorot matanya mengerikan. Jujur saja sih Kak Tirta bukannya membuat ia merasa senang, tetapi sikap Tirta justru membuat ia semakin ketakutan.
Naura pun terus menatap ke arah kepergian Tirta, kemudian ia teringat dengan Arga. Ia pun langsung berlari ke arah tempat duduk Arga, dan tidak lagi memperhatikan sosok Tirta yang pergi menuju ke kamarnya. Naura pun langsung menyiapkan semua alat-alat dan mengompres lebam yang ada di wajah dan tubuh Arga, karena ia tidak mau kalau Arga menderita luka yang sangat parah.
Jeritan dan rintihan kesakitan Arga pun terdengar, hingga akhirnya membuat Tania terbangun. Tania yang penasaran dengan suara yang ia dengar, Ia pun segera turun ke bawah untuk memastikan suara apa itu. Alangkah kagetnya Tania, ketika ia melihat Naura yang sedang mengompres wajah Arga yang begitu banyak lebam.
" Apa yang terjadi, kenapa begitu banyak lebam di wajah Kak Arga?" tanya Tania yang kaget.
Keduanya pun terdiam mendengar pertanyaan dari Tania, setelah cuma lama terdiam. Akhirnya Naura pun menjelaskan kepada Tania, Tania yang mendengar pun sampai meneteskan air mata dan langsung memeluk Naura. Sungguh hari yang sangat apes bagi Naura dan Arga, padahal ini adalah momen pertama mereka keluar malam. Yang di takutkan oleh Arga bukan tentang lukanya, tetapi tidak di beri izin keluar lagi oleh Tirta. Apalagi setelah melihat wajah Tirta yang menurutnya sangat menyeramkan.
Setelah mengompres luka lebam di wajah Arga, Arga pun memutuskan untuk pulang. Ia tidak enak dengan Tirta dan juga Desi, karena ia bertamu di malam hari. Ia juga tidak ingin mendengar perkataan tidak enak dari tetangga, yang akan menceritakan ia dan Naura.
Dalam sekejap, motor Arga pun tiba di rumah. Arga langsung masuk ke dalam kamarnya, ia takut wajah lebamnya akan terlihat oleh mami dan papinya. Dan ia pasti akan mendapatkan omelan yang sangat dasyat, karena sang mami pasti mengira ia baru saja berkelahi.
...----------------...
Cahaya matahari pagi pun menimpa Arga di dalam kamarnya, ia pun ingin terbangun. Tetapi badannya terasa sakit semua dan tidak bisa digerakkan, karena waktu yang sudah siang dan tidak melihat wajah Arga . Mami Arga pun segera menghampiri Arga di kamarnya, dan alangkah kagetnya ketika melihat wajah Arga yang penuh dengan lebam. Walaupun tidak membengkak karena sudah dikompres oleh Naura.
Mami pun langsung hampir putranya itu, Iya langsung memegang wajah putranya yang penuh dengan lebam. Dan dengan wajah yang penuh amarah, Ia pun menatap putranya dan mulai membendung dengan banyak pertanyaan.
" Kau pasti habis bertengkar kan semalam?" banyak Mami dengan nada tinggi dan membuat Arga ketakutan.
" Jawab ini siapa yang berbuat seperti ini padamu?" tanya Mami yang sudah malaikat.
" Arga tidak berkelahi mami." jawabnya dengan menunduk karena takut melihat wajah Maminya.
" Nggak usah bohong Arga, kalau bukan berkelahi lalu ini bekas apa di wajahmu?" ucap Mami yang tidak percaya dengan perkataan Arga.
" Lalu Bagaimana keadaan Naura?" tanya Mami dan membuat Arga sangat terkejut, karena maminya lebih mempertanyakan keadaan Naura daripada dirinya.
" Mami, ya Anak Mami itu aku atau Naura sih?" tanyanya yang kesal karena mendengar jawaban dari sang mami.
" Yang anak mami itu dirimu, tapi yang kesayangan Mami itu Naura. Kan lagian kau kan tidak apa-apa, kalau Naura Mami kan nggak tahu keadaannya." jelas sang mami.
" Yaelah mami ini, ya udah deh aku nyerah aja. Tapi thank you ya mam, karena Mami udah restuin aku sama Naura." ucapnya dengan tersenyum.
" So pasti, Mami lebih milih kamu sama Naura dari pada sama Zia." ucap Mami dengan tersenyum.
" Kenapa sih Mami nggak suka sama Zia?" tanya harga yang penasaran.
" Oh tentang itu ya, nanti di lain waktu baru Mami ceritain." ucap Mami dan membuat Arga tanba penasaran karena tidak mengetahui alasannya.
" Ya Mami nggak enak banget, buat tambah penasaran aja." ucapnya yang kesal.
" Udah deh nggak usah dibahas, sekarang kamu bisa bergerak nggak. Kalau nggak bisa biar Mami hubungi gurumu, dan bilang kalau kau hari ini nggak bisa datang." ucapkan Mami dan mendapat tawa dari Arga.
Melihat tawa di wajah Arga, Mami pun sudah tahu jawabannya apa. Mami pun kemudian keluar dari kamar Arga, dan langsung menghubungi wali kelas Arga. Untuk memberitahu kalau Arga hari ini tidak hadir, dengan alasan Arga sedang sakit.
...----------------...
Naura kini sudah sampai di sekolahnya, ia bercanda dan tertawa bersama Tania sambil menuju arah kelas mereka. tiba-tiba saja Ryan dan Dian menghampiri mereka, Naura dan Tania merasa heran dengan ketidakhadiran Arga.
" Woi duo bestie." sapa keduanya kepada Naura dan juga Tania.
" Eh ada Kak Ryan dan Kak Dion, ngomong-ngomong Kak Arga mana ya?" tanya Tania yang tidak menemukan Arga.
" Dia sakit." ucap Dion dan sontak saja Naura dan Tania menjadi kaget.
" Apa ini mungkin gara-gara semalam ya." ucap Naura dengan wajah penuh ketakutan.
" Semalam emang kalian ngapain?" tanya Dion yang udah mulai penasaran.
Belum sempat Naura menjawab pertanyaan dari Dion, tiba-tiba saja bel pun berbunyi. Mereka pun akhirnya berlari menuju ruangan kelas mereka, karena mereka tidak ingin bertemu dengan guru BP yang piket pada saat hari ini.