Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 81



" Iya bunda, enak banget." jawabnya.


Tirta dan Desi pun tertawa mendengar ucapan Ara, karena kini Ara seperti anak kecil yang baru mendapatkan makanan yang enak. Bunda langsung menatap keduanya karena tertawa, dalam sekejap mereka pun terdiam. Sorot mata tajam bunda membuat keduanya ketakutan.


Ara dan Tata pun menghabiskan makanan yang ada di meja makan, setelah itu mereka langsung pergi untuk tidur. Karena bunda sudah memerintahkan mereka, apalagi esok hari mereka berdua harus masuk sekolah.


Setelah keduanya pergi, bunda puk mengajak Tirta dan juga Desi untuk berbicara di ruang kerja Tirta. Karena bunda takut akan terdengar oleh Ara atau pun Tata.


" Tirta, Desi, Bunda nggak nyangka kalau Ara sampai seperti itu. Bunda kira awalnya dia seperti anak biasa, tapi dia begitu kurus." ucap bunda.


" Ya begitulah bunda, bahkan lebih kurus lagi pada saat ia pertama datang ke sini bunda." ucap Tirta.


" Memang dia mengalami hal yang begitu pahit, dan ibu tirinya sangat kejam sepertinya." ucap bunda.


" Bunda jadi penasaran dengan ibu tirinya." tambah bunda.


" Kebetulan Tirta punya fotonya Bun." ucap Tirta dengan menunjukkan foto ibu tiri Naura.


" Apa, dia yang jadi ibu tirinya Ara." ucap Bunda tidak percaya, keduanya hanya mengangguk saja.


" Bunda kenal dengannya?" tanya Desi dengan ekspresi takut.


" Tirta kau tau kan kalau bunda ini bukan ibu kandungmu." ucap bunda dan membuat Desi kaget.


" Iya bunda Tirta tau itu, dan Tirta nggak masalah tentang itu. Karena bunda selalu memperhatikan Tirta, dan kak Teresa. Dan bunda nggak pernah membandingkan kami bertiga." jawabnya dan kini Desi tambah kaget.


" Desi, bunda tau kau pasti kaget. Tapi itulah kenyataannya sayang, tetapi walaupun begitu bunda nggak akan membandingkan siapa diantara kalian. Karena bagi bunda, kalian itu sama." ucapnya, dan Desi langsung memeluk ibu mertuanya itu.


" Makasih bunda." ucapnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


" Bunda, lalu apa hubungannya ibu tiri Ara dengan semua ini?" tanya Tirta yang penasaran.


" Sebenarnya, ibu tiri Ara ini adalah adik dari Mami mu Tirta." ucap Bunda dan tiba-tiba saja Tirta seperti tersambar petir.


" Maksud Bunda, ibu tiri Ara ini adalah Tante aku." tanyanya untuk memastikan.


" Iya bener sayang." ucap bunda yang kini sudah berada di dekat Tirta dan mengelus rambutnya.


" Sungguh aku merasa malu bunda, orang yang selalu aku cari. Yang merupakan adik dari Mamiku satu-satunya, ternyata setega itu sama adik aparku." ucapnya yang tidak percaya, kemudian langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Desi pun yang melihat tingkah suami ia juga menjadi bingung, ia ingin keluar mengejar suaminya atau tetap didalam. Karena ibu mertuanya masih berada di sana, perlahan ia melihat ke arah Bunda. Bunda yang menyadari itu, ia langsung saja mengangguk. Desi pun akhirnya langsung pergi mengejar suaminya, dan kini ia menemukan suaminya di taman belakang rumah.


" Mas kenapa menangis?" tanyanya yang baru saja sampai di taman.


" Sudahlah mas, semua sudah terjadi. kini biarkan semuanya berjalan sesuai dengan takdir, dan untuk mas sendiri. Ikuti saja kata hati mas, tidak usah pedulikan aku dan juga Ara. Karena mas memiliki hubungan darah dengan ibu tiri dari Ara, aku tidak akan marah jika mas mau mendekatinya dan juga memperbaiki hubungan mas dengannya." jelas Desi dan membuat Tirta menjadi semakin berderai.


" Terimakasih Desi sayangku, aku akan mencobanya." ucapnya dengan tersenyum.


" Nah ini baru mas Tirta yang aku kenal, sekarang mas nggak usah pikirin itu lagi. Dan sekarang kita masuk ke dalam yuk!" ajaknya dan mereka langsung pergi menuju kamarnya.


...----------------...


" Bunda tahu ini menyakitkan bagimu Tirta, tetapi Bunda tidak bisa menyembunyikannya. Cepat atau lambat, kau harus tahu siapa tantemu. Karena kau harus menemuinya, sesuai dengan pesan mamimu dulu." batin Bunda yang kini melihat pemandangan taman belakang dari ruang kerja Tirta.


Hari semakin larut, dan Bunda semakin hanyut dalam lamunan. Bunda teringat dengan pesan dari mami Tirta, untuk selalu menjaga Tirta dan Teresa. Dan tidak akan membedakan kedua anaknya itu dengan anaknya, dan juga harus menyatukan hubungan Tirta dan Teresa dengan keluarganya.


" Bulan aku sudah menepati janjiku, tetapi aku tidak yakin Tirta mau menerimanya. Apalagi setelah kejadian yang terjadi, kejadian yang telah menggores hatinya. Karena kejadian itu telah menggores hati istrinya, dan juga adik iparnya." batin Bunda sambil mengingat wajah Mami bulan.


Ayah yang tidak menemukan bunda akhirnya ayah pun mendatangi ruang kerja kerja Tirta, dan ayah menemukan bunda sedang berdiri menatap ke arah luar. Ayah terus memanggilnya bunda, tetapi tidak mendapatkan respon. Ayah pun akhirnya mendekati Bunda.


" Bunda, sejak tadi ayah panggil kenapa nggak jawab." ucap ayah dengan memeluk bunda dari belakang.


" Eh ayah, bunda minta maaf." ucapnya.


" Bunda sedang mikirin apa?" tanya ayah.


" Bunda tiba-tiba keingat sama bulan." ucapnya.


" Udahlah bunda, memang apa yang membuat bunda keinginan sama Maminya Tirta?" tanya ayah.


" Tadi kami membahas tentang ibu tiri Ara, dan ternyata dia adalah adik dari bulan." jawab Bunda dan membuat Ayah kaget.


" Nggak mungkin, adiknya bulan itu baik Dan lemah lembut. Tapi kan ibu tirinya orang jahat dan kejam." jelas Ayah yang tidak percaya.


" Bunda awalnya juga kaget ayah, tapi itulah kenyataannya. Dan saat ini Tirta sedang berada di dilema, iya tidak tahu harus memihak kepada siapa. Di satu sisi ada tantenya yang sangat dia rindukan, dan di satu sisi ada adik ipar kesayangannya." jelas bunda dan ayah hanya mengangguk.


" Jangankan Tirta, Ayah pun juga merasa bimbang dan tidak percaya Bunda." jawab ayah dengan menjalankan kepalanya.


" Menurut ayah, kita beri tahu Teresa atau tidak. Karena dia kan sangat merindukan tantenya, ya walaupun harus bertemu dalam situasi saat ini." tanya bunda meminta persetujuan ayah.


" Untuk saat ini lebih baik tidak kita beritahu Bunda, kita biarkan Tirta tenang terlebih dahulu. Setelah Tirta sudah tenang, baru Setelah itu kita beri tahu Teresa." jelas Ayah dan Bunda hanya mengangguk.


" Yang ayah katakan memang benar, mungkin itu lebih baik." ucap Bunda sambil memikirkan perkataan ayah.


" Sudahlah Bunda jangan dipikirkan, mending sekarang kita kembali ke kamar Kita. Sudah cukup kita di sini, ini adalah ruangan tempat Tirta menenangkan diri. Biarkan Tirta memakainya untuk menenangkan diri, karena bila dia menenangkan diri di luar Desi pasti akan cemas." jelas Ayah sambil membawa Bunda menuju kamar mereka.