
" Biarin aja, lagian Naura yang nganterin ke rumah ku." jawab Tania.
" Yang benar Ra?" tanya Natan yang penasaran.
" Iya, kebetulan paman aku datang. Jadi aku main ke rumah kakak sepupu ku, jadi sekalian aja." jelasnya.
" Tunggu dulu, apa hubungannya kakak sepupumu dengan Tania?" tanya Natan yang penasaran.
" Ya karena, kakak sepupuku itu adalah kakak iparnya Tania." jelas Naura dan mereka semua tersentak.
" Dunia ini memang sempit ya." jelas Nanta yang tidak percaya.
" Ya begitulah, awalnya aku juga kaget. Tapi mau gimana lagi, inilah takdir yang sudah di tuliskan untukku." jelasnya dengan tersenyum.
" Sepertinya kau sudah pasrah ya Ra?" ucap Arya dengan menatap wajah Naura.
" Bukan pasrah, hanya saja menerima takdir saja. Karena percaya juga kita memberontak, karena hal tersebut sangat percuma." jelasnya.
" Yang kau katakan memang benar, kalau begitu sekarang suda move on belum dari Arga?" tanya Arya dan membuat suasana menjadi mencekamkan.
" Auuuu" teriak Arya, karena Natan mencubitnya.
" Sakit tau." tambahnya.
" Makannya kalau ngomong itu di jaga, baru juga beberapa hari. Mana mungkin bisa secepat itu." ucap Natan dalam bahasa isyarat dan menatap tajam ke arah Arga.
" Aku minta maaf ya Ra." ucapnya yang baru tersadar akan kesalahannya.
" Nggak apa-apa, lagian kisah ku dengannya sudah berlalu. Dan memang sudah saatnya aku melupakannya, tapi kalau untuk mencari yang baru mungkin tidak untuk saat ini." jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
" Kami ngerti kok Ra, jangan di pikirkan omonganmu si Arya lagi ya. Lebih baik kita senang-senang, gimana menurutmu?" usul Natan.
" Boleh aja si, tapi aku nggak bisa malam-malam." jelasnya dengan membayangkan wajah kemarahan Rangga.
" Kalau tentang itu, kau tenang saja. Kita nggak akan pulang malam kok, lagian aku masih harus menjaga Kakek." jelas Natan.
" Ngomong-ngomong tentang Kakek Lukman, bagaimana kondisinya sekarang?" tanyanya yang penasaran.
" Alhamdulillah, Kakek saat ini baik-baik saja. Dan sebenarnya aku mau ngucapin terimakasih, kalau bukan karena dokter Veri aku nggak tau bagaimana keadaan Kakek sekarang." jelas Natan yang tanpa sadar berderai air mata.
" Ini semua adalah jalan takdir, aku juga nggak tau bisa terjadi seperti ini. Lagian semaunya bukan di rencanakan, tetapi itulah takdir yang memang tidak ada yang mengetahuinya." jelas Naura dengan tersenyum.
" Yang kau katakan memang benar, oh iya kau punya kontaknya anak dokter Veri kan, bagi dong aku aku ngucapin terimakasih sama dia." ucap Natan.
" Oh itu ya, bentar ya aku kirim." ucap Naura dengan langsung membawa kontak di handphone dan mengirimkan nomor anak dokter Veri.
" Loh, kenapa namanya Kiki? Bukannya namanya Dimas ya?" tanya yang kaget dengan nama yang tertera.
" Iya namanya kak Dimas, tapi aku nggak punya kontaknya. Yang aku punya, cuma punya Kinan." jelasnya.
" Yauda nggak masalah, tapi aku pastinya aka canggung. Kau kan tau, aku sangat sulit berbicara dengan perempuan." jelasnya dan Naura pun tertawa, sambil mengingat kenangan masa lalu.
" Jangan tertawa dong Ra, aku jadi malu tau." jelasnya dengan berusaha menghentikan tawa Naura.
" Maaf Natan, aku nggak bisa nahan. Habisnya tiba-tiba aku teringat momen masa lalu, hal itu sungguh sangat lucu." jelasnya.
" Uda deh, sekarang kita mau bahas apa. Plis jangan bahas lagi mengenai hal tersebut." jelasnya yang malu karena menjadi pusat perhatian.
" Aku jadi penasaran, bisa di spil nggak?" tanya Arya yang penasaran.
" Oh tidak bisa, ini itu rahasia kami. Jadi kalian nggak boleh tau." ucap Naura dengan menggunakan jarinya pertanda tidak boleh, dan Natan pun mengangguk.
" Kalau ini kasusnya bedah, jadi nggak boleh ada yang tau. Nantinya kau juga akan mengetahuinya, karena ia masih mengalaminya hingga sekarang." jelasnya dan Arya pun langsung menatap ke arah Natan.
" Nanti kalau aku uda siap pasti akan ku ceritakan." jelasnya dan Arya pun mengangguk, ia sebenarnya sudah mengetahui beberapa hal tentang Nanta. Oleh karena itu, ia menjadi tenang saja mendengar hal tersebut. Karena ia tau kalau Natan tidak akan pernah berbohong kepadanya.
" Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa sih, kenapa aku jadi penasaran ya." batin Rasya yang mengikuti Naura.
" Dari pada aku bosan dan nggak tau mau kemana, lebih baik pulang nanti kita lihat Kakek. Menurutmu bagaimana?" tanya Naura dan mereka semua pun langsung mengangguk.
...----------------...
" Biasanya di jam segini aku akan sama Naura, tetapi kini berbeda. Hari ini menjadi sangat sepi, karena ketidak hadiran mu. Aku minta maaf ya Ara, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa." batin Arga.
" Woy." ucap Dion mengagetkan Arga.
" Ya ampun, kau buat kaget aja." ucapnya dengan menatap tajam ke arah Dion.
" Ya maaf, habisnya kau ngelamun terus." jelas Dion.
" Sudahlah, dia yang mutusin dan dia juga yang gamon." ucap Ryan dengan menggelengkan kepalanya.
* Gamon : gagal move on.
" Mana ada aku gamon ya." ucapnya dengan menatap Dion dan Ryan.
" Yakin, awas kemakan omongan sendiri." goda Ryan.
" Yakinlah, dan aku nggak akan mungkin gamon." jelasnya tapi sebelumnya di dalam hatinya tersakiti.
" Ya sudah, terserah deh. Aku juga sudah malas membahas, ayo Dion kita ke kantin. Kebetulan Naura baru pulang dari Singapura loh." jelas Ryan kemudian mereka keluar dari ruangan kelas itu.
" Naura sudah pulang dari Singapura ternyata, sebenarnya aku sangat merindukannya. Tetapi aku tidak bisa membahayakan mu, aku tidak ingin melihatmu tersakiti Ra." batinnya dengan berderai air mata.
...----------------...
Ryan dan Dion kini sudah tiba di kantin, mereka berdua langsung menghampiri Naura dan juga teman-temannya. Dan alangkah kagetnya mereka ketika melihat Putra, Putra tampak berbaur dengan Naura. Padaherang sebenarnya ia adalah sepupu dari Arga, yang merupakan mantan pacar dari Naura.
" Putra, ngapain kau di sini?" tanya Ryan yang kaget.
" Ya lagi kumpul sama teman-temanku lah." jawabnya dan keduanya tambah kaget.
" Ra, kau tau kalau dia itu sepupunya Arga?" tanya Dion dengan menatap Naura.
" Aku tau soal itu, tetapi itu kan tidak bisa menghalangi pertemanan ku dengan dengannya bukan." jawab Naura dengan santai.
" Yang kau katakan benar si, tapi aku nggak nyangka kau masih mau berteman dengannya. Padahal dia adalah sepupu dari Arga, orang yang telah menyakiti hatimu." jelas Dion dengan menggelengkan kepalanya.
" Udahlah jangan di bahas, nanti mood ku jadi hancur." jelas Naura yang tiba-tiba saja berubah ekspresi.
" Yauda, kami nggak akan bahas dia lagi. Lagian sepertinya dia sedang gamon, hehehe." ucapnya dan kemudian mereka berdua tertawa.
# Hai teman-teman, maaf ya nafras baru up. Nafras lagi sibuk ni, nafras akan usahakan up tiap hari. Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Rela Walau Sesak
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna