
" Ayah, Laras mohon ayah. Laras sangat mencintai Reza." teriak Laras.
" Maafkan ayah sayang, sebenarnya ayah tidak tega melihatmu seperti ini. Tetapi ini semua sudah ditentukan oleh leluhur kita, dan karena itu ayah tidak bisa menentangnya. Kakekmu bahkan mengancam akan membunuhmu, jika kau masih berhubungan dengan Reza. Ayah tidak mau kehilangan dirimu, kau adalah Putri satu-satunya ayah." batin ayah Laras.
...----------------...
Rasya sini sudah tiba di rumahnya, ia pun segera menghubungi ayahnya. Dan ia memberitahukan hubungan orang yang ia sukai dengan seorang gadis bernama Naura, ayah Rasya pun segera mencari tahu identitas asli Naura.
" Aku sudah sangat tidak sabar, aku sudah sangat ingin menjadikan Arga pasanganku." ucap Rasya.
" Maaf nona muda, apakah nona yakin dengan keputusan nona?" tanya Yina yang merupakan asisten Rasya.
" Kau tenang saja Yina, aku pasti akan memiliki Arga. Kau sudah mengenalku bukan, apapun yang aku inginkan harus aku miliki." ucap Rasya dengan menggenggam lengan Yina.
" Tidak kusangka, ternyata nona ini bisa seperti nona Rasya. Padahal dia sebenarnya bukanlah nona Rasya, nona Rasya yang asli sudah meninggal. Tetapi Tuan besar sengaja merahasiakannya, dan malah membuat seorang wanita yang sangat mirip dengan nona Rasya menjadi nona Rasya. Sebenarnya aku sangat kasihan, tetapi sekarang aku tidak masalah dengan itu semua. Karena nona Rasya yang saat ini, memiliki banyak ide untuk memajukan bisnis keluarga." batin Yina.
" Aaa…" teriak Rasya yang tiba-tiba merasa kepalanya sangat sakit.
" Nona kenapa, nona duduk dulu. Saya akan mengambilkan air untuk nona." ucap Yina dengan berlari ke dapur.
Setelah cukup lama, akhirnya Yina kembali dengan membawa segelas air. Ia pun segera memberikan air tersebut kepada Rasya, dan tanpa pikir panjang Rasya langsung minumnya. Rasya masih saja terus kepikiran, apa penyebab kepalanya merasakan sakit.
" Bayangan apa yang aku lihat tadi, dan kenapa setelah melihat bayangan itu kepalaku menjadi sakit." batin Rasya.
" Nona sedang memikirkan apa?" tanya Yina.
" Aku tidak memikirkan apa-apa, kau lanjutkan saja pekerjaanmu." ucap Rasya kemudian Yina pun segera pergi meninggalkannya.
" Aku harus segera menghubungi tuan, jangan sampai dia menyadari kalau dia bukan Rasya. Dan akhirnya ia akan pergi meninggalkan keluarga besar ini, bisa-bisa aku hanya tinggal nama saja." ucap hina yang kemudian langsung mengambil telepon genggamnya.
" Halo tuan, ada kabar buruk mengenai nona Rasya." ucapnya.
" Apa yang terjadi dengan Rasya, apakah itu sangat berbahaya?" tanya tuannya untuk memastikan.
" Untuk saat ini masih belum berbahaya tuan, tetapi hal ini bisa berdampak buruk pada kehidupan selanjutnya." jelasnya dan membuat tuan besarnya itu kaget.
" Memangnya Apa yang terjadi?" tanyanya yang penasaran.
" Sepertinya dia sudah mulai mengingat siapa dirinya." jelasnya dan membuat ayah Rasya panik.
" Kalau begitu, kau harus selalu awasi dia. Jangan sampai ia mengingat siapa dirinya, dan bisa-bisa kerjasama yang di depan mata akan hilang. Kerjasama kita dengan keluarga Wilman bisa saja lenyap, padahal awal mulanya kita mencari dia adalah agar kita dapat menjalin hubungan kerjasama dengan keluarga Wilman." jelasnya dari seberang telepon.
" Baik tuan, tuan tenang saja." jawab Yina.
Yina pun semakin memperkuat menjaganya, dan ia pun taruh saja meminta Rasya untuk meminum obat-obatan. Obat-obatan itu berfungsi agar Rasya tidak mengingat siapa jati dirinya, dan agar rencana keluarga besar mereka dapat berjalan dengan lancar.
...----------------...
" Jangan sampai cewek itu tahu kalau dia bukan Rasya, rencana kerjasama dengan keluarga Wilman bisa saja batal. Padahal aku sudah lama merencanakan ini, kenapa sih harus mulai ingat di saat seperti ini." ucap Beni yang merupakan ayah kandung Rasya, dengan menggebrak meja.
Brak
" Gadis sialan itu mulai ingat." ucap Beni.
" Lalu apa rencana tuan selanjutnya?" tanya Dolly.
" Untuk saat ini kita tidak bisa banyak berkutik, tetapi kita harus memastikan. Agar dia tidak ingat, rencana kita bisa berhasil." jelas Beni.
" Perlukah saya memperkuat penjagaan, agar orang-orang yang mengenal wanita itu tidak muncul. Dan ingatan wanita itu tidak kembali tuan?" tanya Dolly yang menunggu perintah.
" Yah itu sangat dibutuhkan, karena bila dia teringat. Maka semua rencana kita akan batal, dan semua kerja keras kita akan sia-sia." jelas Beni dan Dolly pun mengangguk.
" Kalau begitu saya undur diri, saya akan segera memerintahkan para pasukan untuk menjaganya." ucap Dolly kemudian pergi meninggalkan ruangan Beni.
...----------------...
Pagi yang sangat cerah, Naura pergi ke sekolah. Dan ia pun melihat Arga, kemudian ingin menemuinya. Tetapi Arga langsung pergi, dan tidak mau bertemu dengan Naura.
" Kak Arga kenapa ya, padahal aku masih perlu penjelasan." batin Naura kemudian pergi menuju kelasnya.
" Door." ucap Natan dengan mengagetkan Naura.
" Ya ampun Natan, kau ini ngagetin aja." ucap Naura.
" Kau sedang melamuni apa?" tanya Natan.
" Aku nggak ada ngelamuni apa-apa kok." jawab Naura.
" Kamu nggak usah bohong Ra, aku bisa lihat dari sorot matamu. Saat ini kau sedang dalam masalah, kau bisa kok cerita denganku." ucap Natan dengan merangkul bahu Naura.
" Iya deh aku jujur, aku memang sedang ada masalah. Tetapi untuk saat ini, aku belum bisa cerita padamu." jelas Naura dan Natan pun mengangguk.
" Aku ngerti kok, aku akan selalu menunggumu untuk bercerita. Aku merindukan masa-masa kita dulu, di saat kita bercanda dan tertawa bersama. Aku tahu saat ini kau sedang galau, berita tentang kerenggangan hubunganmu dan juga kak Arga sudah tersebar." jelas Natan dan Naura pun kaget.
" Kau tahu dari mana?" tanya Naura yang heran.
" Kau coba baca ini." ucap Natan dengan menyerahkan telepon genggamnya.
" Kok bisa tersebar, siapa ya yang kira-kira menyebarkan?" tanya Naura yang merasa bingung.
" Tidak ada yang tahu siapa yang menyebarkan, di sini tertulis akun anonim." jelas Natan.
" Jahat banget sih dia, tapi sepertinya hubunganku dan kak Arga pasti berakhir. Apalagi setelah berita ini menyebar, dan kak Arga masih tidak mau menemuiku. Sebenarnya aku masih penasaran, apa alasan kak Arga. Tapi sepertinya, kak Arga tidak akan mungkin bisa bertemu denganku." jelasnya dan membuat Natan heran.
" Mengapa kau bisa berkata seperti itu?" tanya Natan.
" Ya karena kak Arga nggak mau ketemu sama aku, jadi kisah kami mungkin sudah berakhir." jelas Naura dengan setenang mungkin.
" Tampaknya kau sangat tenang, dan sepertinya kau tidak bersedih?" tanya Natan yang merasa heran.
" Aku sudah menembak ini semua, dan aku juga sudah menceritakan ini kepada keluargaku. Dan kini aku sudah tenang, bila memang hubunganku dan kak Arga harus berakhir. Ya berakhirlah, yang terpenting aku masih memiliki keluargaku yang mendampingiku." jelas Naura dan membuat Natan tersenyum.