Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 133



Kini jam pembelajaran telah selesai, dan kini mereka kumpul di kantin. Zia datang menghampiri mereka, sontak saja mereka merasa kaget dengan kehadiran Zia. Banyak siswa pun yang merasa heran, karena tidak biasanya Zia mau bergabung dengan komplotan Naura.


" Aku boleh gabung dengan kalian?" tanya Zia.


" Oh tentu saja, silakan duduk." ucap Tania mempersilahkan.


Semuanya merasa heran dengan tingkah Tania, tetapi yang membuat mereka heran justru sikap Naura. Naura yang semalam tampak sangat akrab dengan Zia, entah mengapa hari ini ia hanya dia membisu. Semuanya menjadi heran, dan mereka pun mulai menebak-nebak.


" Ara jangan dipikirkan lagi, nanti aku akan bantu ngomong sama Kak Rangga." ucap Zia yang tiba-tiba saja angkat suara.


" Tetapi aku sangat takut sama Kak Rangga, gimana kalau kita sampai mendapat hukuman. Aku masih teringat dengan hukuman yang pernah diberikan oleh Kak Rangga, jujur saja aku masih merasa trauma dengan hukuman tersebut." ucapnya yang tiba-tiba saja berderai air mata.


Natan kini memperhatikan sikap Naura, ia pun menjadi penasaran dengan apa yang pernah terjadi dengan Naura. Dan sebenarnya ia ingin mempertanyakannya, tetapi melihat kondisi Naura ia jadi mengurungkan niatnya. Ia yakin kalau Naura pasti tidak akan menceritakannya, karena sepertinya hal tersebut membuatnya mengalami trauma.


" Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan Naura, tetapi aku hanya bisa mengatakan satu hal kepadamu. Kamu jangan terlalu memikirkan hal tersebut, karena jika kamu selalu memikirkan hal tersebut maka kamu akan jatuh sakit. Ingat kamu tidak bisa menangis, jika kamu menangis kamu akan demam." ucap Natan menginginkan Naura, dan yang mendengarnya menjadi kaget.


" Aku tidak sedang salah dengar bukan?" tanya Arya yang penasaran.


" Yang kalian dengar tidak salah, aku memang sudah menderita kondisi fisik ini sejak aku masih kecil." jelasnya dan kini semuanya tambah terkejut.


" Jadi ini alasan mengapa kamu tidak pernah menangis, padahal kau tampak sangat frustasi. Tetapi kau tidak pernah meneteskan air matamu setetes pun, dan hal itu membuatku sempat berpikir yang aneh-aneh tentangmu." jelas Zia yang memang terkejut dengan kondisi Naura.


" Ya itulah yang terjadi kepada diriku, maaf karena telah membuatmu berpikiran aneh-aneh. Tetapi aku tidak ada maksud untuk membuatmu berpikir seperti itu, aku jadi tidak ingin untuk mengalami hal seperti ini. Tetapi ini sudah terjadi kepadaku sejak aku masih kecil, dan sebenarnya yang mengetahuinya hanyalah orang-orang terdekatku saja." jelasnya kemudian dia pun menatap ke arah Natan.


" Kalau memang begitu, berarti kau sudah mengenal Natan cukup lama. Dan aku rasa sudah waktunya untuk menggantikan Arga di hatimu, mungkin Natan adalah orang yang tepat." ucap Zia yang langsung saja to the point dan mengagetkan semuanya.


Natan yang mendengar penuturan Zia, ia pun sampai tersedak minumannya. Putra tampak cemas mendengar hal tersebut, ia kini merasa kasihan kepada sepupunya itu. Ia tidak menyangka kalau hal ini akan dibahas saat ini, dan keputusannya memang berada di tangan Naura. Tetapi bila Naura memang sudah memutuskan untuk bersama dengan Natan, maka kesempatan untuk sepupunya hadir dalam hidup Naura telah tertutup dengan sangat rapat.


Dengan sigap Naura pun langsung memberikan minuman kepada Natan, sontak saja Tania dan Zia pun tersenyum melihat hal tersebut. Kini dia pun semakin berniat untuk menjalankan rencananya, ia semakin yakin kalau keduanya memang memiliki rasa yang sama. Tapi Naura masih belum menyadarinya, karena di hatinya masih tersimpan nama Arga.


" Baru saja batuk, eh udah dapat perlakuan khusus." ucap Tania dengan mengedipkan matanya.


Kini keduanya mulai menjalankan rencana, mereka berencana untuk menyatukan Naura dan juga Natan. Mereka sudah membahas hal ini tadi pagi sebelum masuk ke dalam ruangan kelas, walaupun pada saat itu Naura masih belum memperhatikan pembicaraan mereka. Karena Naura masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, karena ia takut dengan Rangga dan juga Tirta.


" Yang kau katakan itu benar Tania, gimana kalau diresmikan aja." ucap Zia dan membuat keduanya tersipu malu.


" Aduhhh…sakit Naura, tolong lepasin kami. Natan bohongi kami, kami kan cuma mau bantu kamu." ucap Tania dengan mengedipkan matanya.


" Sepertinya mereka berdua sudah mengetahui isi hatiku, dan mereka berdua berencana untuk menyatukanku dengan Naura. Sebenarnya aku sangat senang dengan niat mereka, tetapi aku tidak tahu harus mengutarakannya bagaimana. Aku tidak mau kalau Naura mengetahuinya, karena hal itu pasti akan membuat ia menjauhi diriku." batin Natan yang kebingungan.


" Naura lepaskan mereka, lagian yang mereka katakan memang adalah kebenarannya. Sebenarnya aku juga berharap kok bisa jadian dengan Natan, aku sudah sangat kasihan dengan sahabatku ini." ucap Arya yang tiba-tiba saja angkat suara dan menepuk pundak Natan.


" Apa-apaan sih kamu Arya, malu tahu diliatin sama semua orang." ucap Natan yang kemudian langsung melihat sekitar.


" Untuk apa harus merasa malu, lagian yang aku katakan adalah kebenaran. Aku sudah bosan mendengar curhatan mu, kadang kamu bersedih karena dicuekin. Dan terkadang kamu merasa bahagia dengan melihat senyumannya, sungguh kau adalah manusia yang sangat aneh." ucap Arya dan Natan pun menjadi sangat kesal kepada sahabatnya itu karena telah membongkar rahasianya.


" Sepertinya kalian berdua memang sangat cocok, kalian juga sudah mengenal cukup lama. Bagaimana kalau diresmikan saja, nggak usah yang mahal-mahal makan-makan aja." usul Zia.


Kini keduanya menunduk mendengar perkataan temannya, keduanya sama-sama tersipu malu. Mereka berdua tidak menyangka, kalau sahabat mereka akan membongkar rahasia mereka. Dan bahkan mereka membongkarnya di hadapan orangnya langsung, hal itu sungguh membuat keduanya sangat malu.


" Ya ampun kalian berdua sangat lucu, sama-sama suka tetapi sama-sama gengsi." ucap Arya.


" Kalau begitu kita tunggu aja tanggal jadinya, mudah-mudahan saja dalam waktu dekat. Aku sih berharapnya hari ini juga, agar saudaraku yang cantik ini bisa dengan tenang menghadapi Kak Rangga." jelas Zia.


" Tunggu dulu, apa hubungannya dengan kabar jadian mereka dengan Kak Rangga?" tanya Tania yang tiba-tiba saja lemot.


" Ya ampun Tania, kenapa di saat seperti ini tiba-tiba kau menjadi lemot. Hal ini itu bisa berdampak bagi mood Naura, dan jika Naura bahagia pastinya Kak Rangga tidak akan memarahinya. Apalagi ketika Kak Rangga tahu kalau Naura pergi bersama dengan pangeran berkuda putihnya, bukannya mendapat amarah Naura pasti justru mendapat hadiah." jelasnya dan Tania pun mengangguk.


" Kenapa aku baru menyadarinya ya, hal itu justru akan berdampak sangat baik. Bukan hanya kak Rangga saja yang akan luluh, tetapi aku yakin kak Tirta juga pastinya akan luluh. apalagi kalau Nathan yang langsung menemui mereka, sudah aku pastikan Naura pasti terhindar dari hukuman.


# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.


1. Rela Walau Sesak


2. Derai Yang Tak Terbendung


3. Sepahit Sembilu


4. Azilla Aksabil Husna