
Keduanya yang mendengar perkataan pak Asep, mereka baru menyadari kalau waktu sudah menunjukkan sore hari.
'' Yang di katakan pak Asep bener, ayo kita istirahat dulu.'' ucapnya dengan menggenggam tangan Naura.
Naura yang sedang digenggam tangannya, ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya terus mengikuti langkah Arga dan pak Asep menuju rumah. Kini Naura tersenyum bahagia, karena Arga tidak pernah melepaskan genggamannya. Tetapi ia masih bingung, karena sebenarnya ia dan Arga tidak ada mengatakan jadian. Jadi ia bingung, tentang hubungannya dengan Arga.
Naura terus hanyut dalam lamunannya, hingga ia tidak menyadari kalau mereka telah sampai di rumah persinggahan keluarga Arga.
'' Den, kalau gitu saya pamit pulang ya.'' ucapnya kemudian pergi meninggalkan Naura dan Arga.
Arga yang menyadari kalau Naura sejak tadi terdiam, ia pun mulai memanggil nama Naura.
'' Naura, Naura, Naura sayang.'' ucapnya dengan memegang bahu Naura.
'' Eh iya, ada apa ya.'' ucapnya yang baru tersadar.
'' Ia sangat imut.'' batinnya sambil tersenyum.
Naura yang melihatnya Arga tersenyum, ia pun mulai curiga. Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya, Naura pun penasaran dan mulai menanyakannya.
'' Kak Arga kenapa tertawa?'' tanyanya yang penasaran.
'' Nggak, nggak ada apa-apa.'' ucapnya dengan setenang mungkin.
'' Nggak mungkin, jujur aja Napa. Aku jadi penasaran tau.'' ucapnya yang memang sangat penasaran.
'' Nggak ada Ara.'' ucapnya kembali.
'' Is nggak enak, yauda la. Oh iya pak Asep kemana ya kak?'' tanyanya sambil melihat sekeliling.
'' Pak Asep uda pulang.'' ucapnya dan membuat Naura panik.
'' Uda pulang, terus kita di sini...'' ucapnya yang tiba-tiba terhenti karena panik.
'' Iya, kita hanya berdua. Kenapa Naura?'' tanyanya yang penasaran.
'' Ngapain lihat, terus kapan kita pulang. Apa nggak bisa kita pulang sekarang?'' tanyanya yang masih di landa kepanikan.
'' Lo kenapa Ra, kita tu nggak bisa pula sekarang. Suasana di luar uda gelap, jalanan juga berkabut.'' ucapnya dengan santai.
'' Jadi maksud kakak, kita menginap di sini gitu?'' tanyanya untuk memastikan.
'' Iya.'' ucapnya dengan santai, dan membuat Naura tambah panik.
'' Lo kenapa Ra, yuk gue antar ke kamar Lo.'' ucapnya dengan mengulurkan tangannya.
Naura yang masih panik dan bingung, ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan wajahnya kini memucat, ia masih bingung harus masuk atau tidak.
'' Aku masuk apa nggak ya, kalau masuk aku nggak tau apa di dalam. Tapi kalau nggak masuk aku kedinginan.'' batinnya yang sedang bimbang.
'' Ayo Ra, nanti ke buru hujan.'' ucap Arga yang melihat ke awan.
Naura yang mendengar perkataan Arga, akhirnya ia mau tidak mau harus masuk ke dalam rumah Arga. Mereka pun melangkahkan kaki menuju ke kamar, setibanya di depan pintu kamar.
'' Naura, ini kamar Lo. Kalau butuh apa-apa tinggal panggil aja ya, gue ada di kamar sebelah.'' ucapnya dan mendapatkan anggukan dari Naura.
Naura pun langsung masuk ke dalam kamarnya, ia menyukai kamar dengan ornamen biru itu. Dan kamar itu terkesan elegan dengan dekorasi yang sederhana, dan membawa kenyamanan baginya. Jujur saja setelah melihat ornamen yang ada, rasa lelahnya lenyap begitu saja.
'' Rasa lelah ku menjadi hilang dengan melihat ornamen dan perpaduan warna yang pas.'' ucapnya dengan tersenyum lebar.
Sekarang kita beralih pada Leo dan Tania yang kini sedang bermesraan di sebuah cafe, setelah tadi mendengar kabar kedekatan Naura dan Arga mereka memutuskan untuk meraya.
'' Gue uda nggak sabar, buat kasih tau Naura yang sebenarnya.'' ucapnya dengan bahagia.
'' Tapi beneran mereka udah jadian?'' tanya tanya yang sebenarnya masih tidak percaya.
'' Tapi Naura belum ada cerita sama gue loh.'' ucapnya yang masih belum mendapatkan kabar apa-apa.
'' Mungkin saling bahagianya Ia lupa, nanti kita juga dapat kabarnya kok.'' ucap Leo meyakinkan Tania kembali.
Tania tidak menjawab apapun, Iya hanya mengangguk pertanda iya. Yang dikatakan oleh Leo memang ada benarnya, karena mereka memang tidak mengetahui situasi Naura saat ini.
'' Gimana kalau setelah dari sini kita telepon Naura!'' usul Leo.
'' Boleh, tapi nanti lo jangan bersuara ya!'' ucapnya meminta kepada Leo.
'' Iya aman itu, apa sih yang nggak buat Lo Tan.'' ucapnya dengan tersenyum lebar.
Tania yang melihat interaksi Leo, ia pun juga ikut tersenyum. Ia juga merasakan kebahagiaan yang Leo rasakan, dan memang sudah saatnya mereka mengakhiri keterpuraan itu. Karena sejujurnya mereka berdua saling menyakiti, dan sekarang sudah waktunya mereka berbahagia bersama.
Tak terasa acara makan mereka pun selesai, Mereka pun memutuskan untuk menelepon Naura. Kini Tania mengambil telepon genggamnya dari dalam tas, dan mulai mencari kontak Tania yang ia save dengan nama sahabat. Telepon pun berdering, tidak lama dari situ terdengar sebuah suara dari seberang telepon.
'' Halo Tata.'' ucap Naura dengan lembut.
'' Halo sayangku, gimana-gimana?'' tanya tanya yang sudah penasaran.
'' Apanya nih yang gimana?'' tanya Naura kembali.
'' Ya kelanjutan hubungan lo sama Kak Arga lah.'' jawabnya yang sudah sangat penasaran.
'' Kamu bingung, aku juga bingung.'' ucapnya yang memang sedang bingung.
'' Ara, jangan main-main. Gue penasaran ni.'' ucap Tania yang kesal dengan Naura.
'' Beneran Lo Tata, kak Arga si mulai manggil ''sayang'' tapi dia nggak ada bilang kalau kami jadian. Kan aku jadi bingung.'' ucap Naura dan Tania pun mengangguk.
'' Oh karena itu, kalau gitu coba Lo pancing biar kak Arga ngomong.'' perintah Tania.
'' Pancing, gimana caranya?'' tanya Naura.
'' Gimana ya, nanti deh gue pikirin dulu.'' balas Tania yang memang juga sedang bingung.
'' Yauda, nanti kasih tau ya. hehehe.'' ucapnya dengan sambil tertawa.
'' Iya bestie, aman itu. Kalau gitu dah.'' ucapnya.
'' Dah.'' balasnya, kemudian sambungan telepon pun mati.
Tania dan Leo pun melanjutkan obrolannya tentang Naura dan Arga.
'' Lo uda dengar kan tentang hubungan kak Arga dan Naura yang masih ambigu itu.'' ucap Tania.
'' Iya, gue juga dengar. Itu anak memang susah banget, padahal uda di ajarin.'' ucap Leo yang frustasi dan memukul kepalanya sendiri.
'' Kayaknya harus ngomong ulang deh sama kak Arga, mungkin dia belum ngerti.'' saran Tania.
'' Iya bener juga.'' ucap Leo, kemudian ia mengambil teleponnya dan hendak menelpon Arga.
Tidak membutuhkan waktu lama telpon pun tersambung.
'' Halo Arga.'' ucapnya memulai percakapan.
'' Halo juga kak.'' jawabnya santai.
'' Ada yang mau gue tanyain ni sama Lo.'' ucapnya to the point.
'' Soal apa ya Kak?'' tanahnya yang memang tidak mengetahui.
'' Soal perkembangan hubungan Lo dengan Naura.'' tanyanya kembali dan membuat Arga kebingungan karena ia sudah mulai menebak perkataan dari Leo.