
" Lo nggak lagi sedang bercanda kan?" tanyanya yang tidak percaya.
" Nggak Tata, memang itu yang disampaikan oleh kak Tirta." jawabnya, dan kini Tania justru melompat-lompat kegirangan.
" Kalau gitu sekarang kita pulang." ucapnya dengan langsung menarik tangan Naura, Naura tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam dan mengikuti Tania.
Tania tampak tidak merespon siapapun, Ia langsung menarik Naura keluar dari rumah Arga. Dan alangkah kagetnya Naura, ketika ia keluar dari rumah Arga. Kini sudah ada kakak sambung Naura di sana, dan sontak saja sang kakak sambung langsung memeluk Naura. Karena ia sangat merindukan adik kesayangannya itu.
" Adek kok bisa di sini, bukannya adik di bawah sama paman Sandy ke Mila." ucapnya yang masih tidak percaya karena melihat Naura.
" Aku tuh nggak jadi dibawa ke Milan Kak, tapi aku dipindahkan ke rumah kakak sepupu aku. Yaitu anaknya Paman Sandy." ucapnya dengan tersenyum.
" Tunggu dulu, jangan bilang anak pamanmu itu kakak iparnya Tata." tebak sang kakak dan Naura hanya mengangguk saja.
" Iya yang kakak katakan benar, dan sekarang sudah waktunya kami pulang." jawabnya dengan tersenyum.
" Sungguh-sungguh aneh, tapi nggak apa-apa. Dengan begini, kakak masih bisa sering ketemu dengan kamu dek." ucapnya dengan senyum yang terukir sangat lebar.
" Kangen-kangenannya nanti ya, sekarang kami berdua harus pulang. kalau nggak bisa bahaya." jelas Tania dan menyadarkan sang kekasih.
" Ya udah kalau begitu cepat masuk, biar kakak antar kalian pulang." ucapnya dengan membukakan pintu untuk Tania dan juga Naura.
Mereka pun segera pergi menuju rumah Tirta, dan benar saja sesuai dengan tebakan mereka. Kalau kini Tirta dan Desi sudah berada di depan rumah, dan menanti kepulangan kedua adik kecilnya. Desi menatap keduanya dengan senyum ramah, tetapi tidak dengan Tirta yang menatap dengan sinis.
Keduanya menjadi takut, tetapi mereka tidak mungkin pergi dari sana. Mereka berdua menyadari kesalahannya, seharusnya mereka menghubungi Tirta terlebih dahulu. Sebelum pergi ke mana-mana, dan tidak membuatnya marah.
" Maafkan kami Kak, kami tahu kami salah." ucap Ara yang memberanikan diri.
" Udahlah Ara, ini tidak sepenuhnya kesalahanmu. Lagian Kalian kan memang terbiasa untuk pergi, dan kakak juga mengetahui itu. Tetapi yang membuat Kakak kesal hari ini, karena si anak manja itu tidak mengangkat teleponnya." ucap Tirta dengan menatap ke arah Tania.
" Udahlah mas jangan marah-marah, sebentar lagi ayah dan bunda akan tiba. Kan tidak enak kalau dilihat Ayah sama Bunda." ucap Desi untuk menenangkan suaminya.
" Iya, untuk kalian berdua kali ini Kakak maafkan. Tapi jika ada lain kali, awas aja kalian berdua." ucapnya dengan menatap keduanya sinis, kemudian langsung pergi menaiki mobil yang ada di depan rumah.
" Ara gimana dong." ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Udah jangan sedih, aku yakin kok kak Tirta kayak gitu karena sayang sama kita." balasnya dengan tersenyum.
" Bukan masalah besar, tapi aku memang salah." jelas Tania kepada sang kekasih.
" Ya udah kalau gitu, gue pamit pulang dulu ya. Sepertinya suasana di sini lagi tegang, Gue nggak enak ganggu." jelasnya.
Naura dan Tania hanya mengangguk saja, tidak butuh waktu lama mobil itu pun langsung melesat dengan kecepatan tinggi. dan menghilang dari rumah Tirta, Naura dan Tania sudah terbiasa dengan tingkahnya. yang mereka khawatirkan hanyalah satu, yaitu keamanannya.
Keduanya pun langsung masuk ke dalam, dan kini langsung membersihkan diri di dalam kamarnya masing-masing. Tidak lama setelah keduanya membersihkan diri, terdengar sebuah suara yang memanggil-manggil Tania. Tania yang merasa sangat bahagia, ia pun langsung berlari dan mencari sumber suara itu.
Dan benar saja sesuai dengan tebakannya, suara itu adalah suara bundanya. Ia pun langsung memeluk bundanya, dan tanpa sadar air matanya pun menetes. Tirta dan Desi bukannya menyemangatinya, keduanya justru meledek adik manjanya itu.
Naura yang merasakan adanya keributan, Ia pun segera keluar dari kamarnya. Ia pun melihat Tania sedang berpelukan dengan bundanya, Naura awalnya enggan untuk bergabung. Tetapi tiba-tiba saja Desi memanggilnya, dan akhirnya mau atau tidak mau. Dia terpaksa harus turun ke bawah, dan berkenalan dengan kedua orang tua dari Tirta dan juga Tania.
" Ini toh yang namanya Ara?" tanya Bunda Tania.
" Iya tante, saya Ara." jawabnya dengan ada canggung.
" Jangan panggil tante dong, Ara kan temannya Tania dan juga adiknya Desi. jadi Ara panggilnya Bunda aja ya, sama kayak Tania." ucapnya dan langsung menarik Naura ke dalam perutnya.
Naura awalnya kaget, Ia dia membisu tanpa suara. Tetapi lama-kelamaan ia merasa nyaman dengan pelukan sang Bunda, ia merasakan kehadiran Bundanya kembali. Dan senyuman terukir dengan sangat lebar di wajahnya, Desi dan Tirta yang melihat senyuman itu merasa sangat bahagia.
Desi yang sudah tahu sifat Naura, dari awal ia sudah menebaknya. Kalau Naura pastinya akan nyaman bersama dengan ibu mertuanya itu, dan benar saja tebakannya memang sangat benar. Kini tiba-tiba Bunda langsung membawa kedua putrinya itu ke meja makan, dan dengan sigap langsung meminta pelayan menyuguhkan makanan yang sudah ia bawa.
" Ara dan Tata, tadi bunda membeli sesuatu. dan Bunda yakin kalian berdua pasti suka." ucap Bunda dengan mengelus kepala keduanya.
Tidak butuh waktu lama, makanan yang dibeli oleh Bunda sudah tersaji di meja makan. Tania sangat merindukan makanan itu, ia pun langsung mengambilnya dan melahapnya tanpa nasi. Naura yang tidak mengetahui nama makanan itu, ia pun merasa bingung harus berkata apa.
" Ara nggak suka ya sama makanannya?" tanya bunda yang memperhatikan Naura tidak makan.
" Maaf bunda, bukannya Ara tidak suka. Hanya saja Ara tidak tahu nama makanan ini, dan Ara takut kalau Ara alergi Bunda." jelasnya dengan perlahan dan ekspresi takut.
" Tenang saja Ara, semua makanan yang tersaji di atas meja tidak ada satupun yang mengandung unsur yang akan membuat kamu alergi." jelas Desi yang baru saja, dan kini arah tersenyum dengan sangat lebar. Bunda yang melihat tingkah Ara juga ikut tersenyum, bahkan ia tidak menyangka kalau anak selucu dan seimut Naura bisa mengalami nasib yang buruk.
Naura pun langsung mengambil makanan itu, karena ia yang sangat penasaran, ia pun langsung melahapnya. Dan benar saja, ia menjadi ketagihan dengan makanan itu. Bunda yang melihat ekspresi Naura menjadi tersenyum.
" Enakkan, ini semua makanan kesukaan Tata. Dan tampaknya mulai sekarang juga akan menjadi makanan kesukaan Ara." ucap bunda dengan tersenyum.