
Rangga dan Reza memperhatikan kekasihnya, dan mereka juga menjadi heran dengan tingkah kekasih mereka. Keduanya terus menatap ke arah Naura, dan hal itu membuat Naura menjadi tidak nyaman.
Rangga pun menyadarkan kekasihnya yang sejak tadi memperhatikan Naura.
" Sayang, kenapa, ada sesuatu ya?" tanya Rangga yang penasaran dengan kekasihnya.
" Tidak ada apa-apa sayang, hanya saja...'' ucap wanita itu yang tiba-tiba di potong.
'' Hanya Apa?'' tanya Rangga yang sedang panik.
'' Gue insecure sama Naura." jawab wanita itu yang bernama Karin.
Tanpa sadar kekasih Reza pun juga ikut mengangguk. Rangga dan Reza menjadi ingin tertawa melihat tingkah kekasih mereka. Berbeda dengan Naura yang justru merasa bersalah.
'' Kalian ini ya, dekat sama yang cantik insecure. Dekat sama yang jelek kalian ledek, apa si mau kalian?'' jelas Reza yang sudah mulai kesal.
'' Namanya juga cewek.'' jawab Laras pacar Reza.
'' Kalian ini, memang sulit untuk di mengerti." ucap Reza dengan menggelengkan kepalanya.
'' Kalau mudah di mengerti namanya bukan cewek, ya kan kak. hehehe.'' jelas Naura dan menatap ke arah kedua calon kakak iparnya.
Mereka bertiga pun tertawa bersama, kini Rangga dan Reza di buat tambah kebingungan. Karena mereka tidak mengetahui apa yang sedang di tertawakan oleh ketiga wanita itu.
Rangga dan Reza yang merasa kebingungan, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan ketiga wanita itu. Ketiganya masih asik tertawa dan mengobrol.
'' Hai kak, kakak kan uda tau nama ku. Jadi aku boleh tau siapa nama kakak berdua nggak?" tanya Naura dengan penuh harapan.
'' Gue Karin, kalau dia Laras.'' ucap Karin.
'' Oh kak Karin dan kak Laras, aku Naura kak.'' ucap Naura sambil menyalami keduanya, dan mereka hanya mengangguk pertanda mengerti.
'' Naura kami boleh tanya-tanya nggak?" ucap Karin yang memang sudah tidak sabar.
'' Boleh kak.'' ucap Naura, dan keduanya tersenyum lebar.
Naura yang melihat senyuman di wajah Karin dan Laras, ia merasa bingung dan pikirannya mulai menebak-nebak apa yang sedang di pikirkan oleh kedua calon kakak iparnya itu.
'' Menurut Lo, sebenarnya Rangga dan Reza itu gimana? dari sudut pandang wanita bukan adik.'' tanya Karin dengan tegas.
'' Menurut ku si kak Rangga dan kak Reza itu orang baik, pengertian, dan penyayang.'' jelas Naura.
'' Yang Lo bilang bener si, tapi kayaknya Lo masih pakai sudut pandang adik deh. Kalau pengertian dan penyayang ke Lo, ya uda pasti la. Kan Lo adiknya.'' ucap Laras yang sudah agak kesal.
'' Eis kakak salah, aku tu bukan adiknya kak Rangga dan kak Reza.'' ucap Naura dan mengangetkan mereka berdua.
'' Lalu Lo siapa kalau bukan adik mereka?'' tanya Karin yang penasaran.
'' Mau jadi adik, maksudnya gimana si. Kita nggak ngerti.'' ucap Karin dan mendapat anggukan dari Laras.
'' Gini loh kak, dulu papinya kak Rangga dan kak Reza itu pernah menjalin hubungan dengan bunda aku. Cuma hubungan mereka nggak berlanjut alias putus.'' jelas Naura.
keduanya hanya menjawab ''oh'' secara bersamaan dan juga menganggu, pertanda mereka mengerti apa yang dimaksud oleh Naura.
'' Terus kenapa sekarang Rangga dan Reza masih menganggap mu adik. Bisa jelaskan mengapa kedua orang tua kalian bisa putus!'' ucap Karin yang penasaran.
'' Kalau itu nggak tau kak, tapi yang jelas sampai sekarang hubungan ku dengan kak Rangga dan kak Reza masih baik. Walaupun bunda ku sudah meninggal.'' ucap Naura dengan tanpa sengaja meneteskan air mata.
'' Eh maaf, kami nggak tau.'' ucap Laras sambil mengelus punggung Naura.
'' Gak apa kak, aku aja yang tiba-tiba teringat dengan bunda. Tapi gak apa-apa semua sudah berlalu dan hidup harus berjalan, semangat.'' ucapnya dengan senyuman.
Karin dan Laras yang melihat tingkah Naura menjadi mengerti apa yang membuat kekasih mereka bisa seakrab dan sesayang itu pada Naura, walaupun Naura bukan adik kandung mereka. Mereka pun memeluk Naura dan meminta Naura untuk menjadi teman mereka.
Dengan senang hati Naura menerima tawaran dari Karin dan Laras. Ia pun tersenyum dengan lebar, bahkan orang yang melihat senyum itu juga ikut bahagia.
Tanpa sepengetahuan siapapun Arga juga sedang berada di cafe tempat Naura, Karin dan Laras sedang mengobrol. Arga melirik ke arah suara yang ia kenal, dan benar saja itu adalah Naura. Sang pujaan hatinya, yang sudah beberapa hari menghindarinya.
Tidak butuh waktu lama, Arga pun segera menghampiri Naura. Namun, saat ia belum sampai ada seorang pemuda yang mendatangi meja Naura. Tanpa basa-basi ia langsung memeluk Naura dan membuat niat awal Arga untuk menemui Naura menjadi tertunda.
Arga yang sudah emosi memiliki kembali ke meja nya, Dion dan Ryan yang melihat tingkah Arga pun merasa aneh. Sebenarnya mereka melihat wajah Arga yang penuh senyuman, dan berbeda dengan kini yang seperti kain kusut.
Mereka pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Arga, ada apa sebenarnya. Dan itu semua dapat membuat atmosfer di dalam diri Arga berubah tiba-tiba.
'' Ga, sebenarnya ada apa?'' tanya Dion yang sebenarnya sudah ketakutan karena melihat wajah Arga yang sangat menyeramkan.
'' Gak usa tanya-tanya, nggak bisa lihat apa gue lagi emosi. Atau Lo mau jadi makanan gue.'' ucap Arga yang masih emosi dan membuat kedua temannya ketakutan.
Repleks Dion pun menutup mulutnya, dan memberikan kode kedipan kepada Ryan untuk merubah situasi yang terjadi saat ini. Ryan pun mulai mencari topik untuk mencairkan suasana yang mencekamkan itu.
Namun, walaupun mereka telah berusaha. Tetap saja sikap Arga tidak berubah, tiba-tiba saja telpon Arga berbunyi dan ternyata yang menelpon itu adalah mamanya. Setelah mengangkat telepon, ia tampak terburu-buru sampai tidak menyadari Dion dan Ryan masih berada di dalam cafe
Awalnya Dion ingin marah, tapi ketika ia mengingat kalau sebelum pergi Arga mendapatkan telpon dari mama. Seketika ia pun ikut panik dan mulai berpikir yang aneh-aneh tentang mama Arga. Mereka langsung mencari taxi dan segera pergi ke rumah Arga.
Ketika sampai mereka langsung berhadapan dengan pembantu di rumah Arga yang kini tengah membawa koper besar. Mereka pun mencoba bertanya kepada pembantu itu.
'' Bik kenapa bibik bawak koper?'' tanya Dion yang penasaran.
'' Nyonya deh, nyonya..'' ucapnya dengan napas terengah-engah.
'' Bibik sekarang tarik napas dulu, baru kita ngomong pelan-pelan.'' ucap Ryan yang melihat bibik seperti sedang panik.
Bibik pun melaksanakan apa yang dikatakan oleh Ryan, setelah cukup tenang bibik pun menceritakan apa yang membuatnya panik.