
'' Perkembangan gimana Kak?'' tanyanya kembali.
'' Ya perkembangannya, lo udah jadian belum sama Naura?'' tanyanya kembali dengan nada tegasnya.
'' Oh soal itu ya Kak.''
'' Ya iyalah, menurut lo apalagi. lo jangan main-main ya sama adek gue.'' ucap Leo memperingati.
'' Gue nggak main-main kok kak, gue serius sama adek lo.'' ucapnya dengan tegas.
'' Kalau gitu, lo udah tembak adik gua apa belum?'' tanya Leo memastikan.
'' Soal itu...'' ucapnya yang terhenti.
'' Lo harus cepat tempat dia, kalau nggak gue mau kenalin dia ke orang lain.'' ucap Leo dengan menegaskan kata orang lain.
Mendengar ucapan dari Leo, kini Arga panik dan takut kehilangan Naura. Ia kini sudah ingin berlari ke kamar Naura, tetapi ia masih ingat kalau ia sedang telepon dengan Leo. Yang dikatakan oleh Leo memang ada benarnya, sebagai seorang kakak Leo pasti ini yang terbaik untuk adiknya.
'' Gue serius kak, saya janji secepatnya saya akan tembak Naura.'' ucap Arga dengan penuh percaya diri.
'' Oke kalau gitu gue tunggu kabar baiknya ya, dan ingat jangan pernah lo sakiti adik gue.'' ucap Leo dengan tegas.
Sambungan telepon akhirnya mati, Leo dan Tania yang sempat mendengar perkataan Arga. Mereka berdua tertawa dengan sangat lebar, karena mereka mendengar suara ketakutan pada saat teleponan dengan harga tadi. Dan menurut Tania itu adalah momen yang sangat langka, selama ia kenal dengan Arga tidak ada yang bisa membuatnya takut kecuali Leo.
'' Lucu banget tadi Kak Arga.'' ucap Tania dan membuat Leo bertanya-tanya.
'' Apanya yang lucu?'' ucapnya yang memang tidak mengerti.
'' Si penguasa yang terkenal galak dan cuek itu, dengan mudahnya ia tunduk sama Lo.'' dengan mengumpamakan Arga sebagai si penguasa.
'' Ya takutlah dia, kalau sampai nggak gue kasih restu kan bisa gawat dia.'' ucap Leo dengan Sambong.
'' Iyalah tuh, yang sekarang jadi kakaknya Naura.'' ucapnya dengan meledek.
'' Uda dong sayang, gue antar pulang yuk. Uda malam nih, nanti Kak Tirta marah loh.'' ucapnya dan membuat Tania tiba-tiba saja melihat wajah marah Tirta.
'' Ih ngapain sibuk sama Kak Tirta sih, kan gue jadi teringat wajah merahnya. kalau gitu Ayah pulang sekarang sebelum nanti kita kenak amuk.'' ajak Naura yang memang sudah ketakutan.
Mereka berdua pun segera pergi menuju mobil, mobil pun melaju dengan kecepatan yang cukup kencang. Setibanya di rumah Tania, tebakan keduanya memang benar. Kini Tirta telah menunggu Tania di depan rumah, dengan sigap mereka berdua pun turun. Kemudian Leo meminta izin untuk pulang kepada Tirta.
'' Dari mana aja dek, kenapa baru pulang sekarang?'' tanya Tirta dengan lembut.
'' Tadi kami makan malam dulu kak.'' ucapnya dengan setan yang mungkin.
'' Oh ya udah, kalau gitu sekarang masuk udah malam.'' perintah Tirta kepada adiknya.
Tanpa berkata apa-apa, Tania langsung masuk ke dalam dan pergi menuju kamarnya.
'' Ya udah tapi lain kali jangan diulangi ya, saya panik tahu adik saya belum pulang.'' ucap Tirta yang memang sangat panik.
'' Iya Kak maaf, kalau begitu saya izin pamit dulu ya Kak.'' ucapnya kemudian menyalin tangan Tirta dan setelah itu masuk ke dalam mobilnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Leo tiba di rumahnya sendiri. Kini ia masuk dengan terburu-buru, karena ia ingin berbicara dengan adiknya Naura.
'' Naura, Naura.'' panggil Leo, tetapi yang keluar malah ayahnya.
'' Leo ngapain kamu panggil Naura?'' tanya sang ayah yang baru saja turun dari tangga.
'' Eh ayah, Leo mau bicara sama naura ayah.'' jelasnya pada sang ayah.
'' Oh begitu, tapi sayangnya Naura lagi tidak ada di rumah.'' balas sang ayah.
'' Apa, dia belum pulang udah jam segini. Ke mana sih itu anak, awas aja nanti kalau pulang kakak hajar dia.'' ucapnya yang emosi karena sang adik tidak ada di rumah.
'' Ngapain kamu hajar Naura, lagian dia udah izin kok.'' jelas sang ayah dan membuat Leo terheran-heran.
'' Izin ayah, memang dia pergi ke mana?'' tanyanya Ya begitu penasaran.
'' Ia sedang pergi ke Bogor.'' jawab sang ayah singkat kemudian meninggalkan Leo.
'' Ayah tunggu, Naura ngapain ke Bogor?'' ucapnya sambil mengejar sang ayah.
'' Mending kamu tanya aja besok sama dia, Ayah mau tidur ngantuk. Besok Ayah harus kerja.'' ucap sang ayah yang langsung menuju ke arah kamarnya dan tidak memperdulikan Putra sulungnya lagi.
'' Ya Ayah, kebiasaan nggak pernah jawab. Kan capek harus nunggu esok, tapi ya udahlah mau gimana lagi.'' keluhnya sambil menaiki anak tangga ke arah kamarnya.
Sesampainya Leo di kamarnya, Iya masih memikirkan perkataan sang ayah. Sang ayah dengan santainya mengatakan adiknya sedang ada di Bogor, tetapi kini yang sedang ada dalam pikirannya. Adiknya di Bogor sedang bersama dengan siapa, dia mulai menerka-nerka. Dan tiba-tiba saja muncul sebuah nama, yah nama itu adalah Arga. Dan jujur hal itu membuatnya kepalang panik.
Ia kini mondar-mandir di dalam kamarnya, Ia masih memikirkan tentang sang adik. Ia takut kalau yang ia pikirkan adalah benar, kini sang Adik sedang bersama seorang pemuda di luar kota. Ia sebagai kakak tentunya merasa takut terjadi sesuatu kepada adiknya, tetapi ia heran kenapa ayahnya tampak begitu santai.
Sebenarnya ada apa ini, ayahnya seperti tidak peduli dengan adiknya. Leo tambah penasaran dan tidak bisa tertidur, Iya terus memikirkan keadaan adiknya. Hingga tanpa terasa pagi pun datang, cahaya matahari menimpa wajahnya dari sela-sela jendela. Matanya tampak hitam dan mengkerut, karena ia tidak bisa tidur memikirkan adiknya.
Leo bergegas membersihkan dirinya, kemudian ia segera turun ke bawah untuk menemui sang ayah. Banyak pertanyaan yang ingin Ia tanyakan, terutama dengan siapa sang adik berada di luar kota. Dan mengapa juga ayahnya tampak begitu santai, dan merasa sang adik sangat aman. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh sang ayah.
'' Ayah Leo bisa minta waktunya sebentar?'' Leo meminta izin untuk berbicara kepada sang ayah karena waktu sudah menunjukkan waktunya sang ayah berangkat bekerja.
'' Boleh tapi jangan lama-lama ya, karena ayah harus berangkat bekerja.'' ucap sang ayah to the point saja.
'' Ayah, semalam ayah bilang Naura lagi ada di Bogor. Kalau boleh tahu Naura sama siapa ya Ayah, dan Kenapa ayah tampaknya begitu santai. Seperti ayah telah mempercayakan Naura kepada seseorang yang begitu Ayah percayai.'' ucap Leo yang memang sangat panik.
'' Kakak panik ya?'' jawab ayah yang malam memberikan pertanyaan.
'' Tentunya Kakak panik ayah, sebagai seorang kakak. Kakak panik mengetahui adik kakak tidak ada di rumah.'' ucapnya memang sedang dalam kepanikan.