
Tiba-tiba saja dokter pun keluar dari ruangan.
" Siapa keluarga bapak Lukman?" tanya dokter itu.
" Saya dok." ucap Natan.
" Baik, kondisi bapak Lukman sekarang sudah membaik. Tapi mohon dijaga ya, jangan sampai kecapean." ucap dokter tersebut.
" Baik dok, terimakasih." ucap Natan.
" Dimas, Kinan. Ayo ikut ayah dulu." ucap dokter tersebut dan keduanya pun segera mengikutinya.
" Itu tadi anak dokter itu?" tanya mamang.
" Iya mang, dan sebenarnya tadi kami juga udah konfirmasi sebelum ke sini. Jadi begitu eyang sampai, eyang langsung ditangani." jelas Natan.
" Lalu, Bagaimana bisa dear Natan kenal sama dokter tersebut?" tanya mamang yang penasaran.
" Kebetulan mereka temannya Ara mang." jelas Natan.
" Nggak nyangka nona Ara punya teman sehebat itu, nona Ara pintar. pasti teman-teman non Ara semuanya hebat dan juga pintar, mamang doain cita-cita nona Ara tercapai." ucap mamang.
" Amin, makasih mang." balasnya.
...----------------...
" Itu tadi Ara kan?" tanya ayah kepada kedua anaknya.
" Iya ayah itu tadi Ara." jawab Kinan.
" Ternyata benar yang mami kalian bilang, kalian masih berhubungan dengan Ara. Sebenarnya ayah malas membahas hal ini, dan sebenarnya ayah tidak masalah kalian berteman dengan siapapun. Hanya saja kalian mengerti mami kalian kan, jadi ayah mohon kalau bisa kalian turuti perintah mami." jelas ayah.
" Tapi Ara sudah bukan Ara yang dulu ayah, dan sekarang Ara satu level dengan kita." ucap Kinan.
" Maksud kalian bagaimana, ayah tidak mengerti dengan yang kalian bilang." ucap ayah.
" Sekarang Ara sudah tinggal bersama dengan keluarga dari mamanya, dan pamannya Ara itu pemilik perusahaan besar. Dan bahkan Ara memiliki saham yang cukup besar di perusahaan itu sebagai ahli waris, dan kini Ara tinggal di rumah kakaknya yang juga merupakan seorang CEO yang hebat." jelas Dimas dengan menunjukkan biografi kehidupan Naura yang sudah ada di internet.
" Ayah tidak menyangka, ternyata Ara sekarang sehebat ini. Bahkan nama kakaknya saja sudah terkenal, sekarang ayah tidak akan melarang kalian berteman dengan Ara. Dan ayah akan mencoba berbicara dengan mami kalian, agar mami kalian mau menerima Ara." ucap ayah dengan melihat biografi kehidupan Naura.
" Terima kasih Ayah." ucap keduanya serentak.
" Iya, sekarang kalian temuin arah ya. Pasti dia cukup sedih, karena ayah lihat tadi sepertinya dia sedih." ucap ayah.
" Yang ayah katakan memang benar, kakek Lukman adalah kakek dari Natan. Dan Natan adalah sahabat Ara setelah kita pindah, dan kabarnya Ara sangat dekat dengan kakek Lukman." jelas Dimas.
" Kalau begitu, Ara pasti sangat bersedih. Lebih baik kalian temani Ara dan juga Natan, karena kondisi kakek Lukman belum cukup baik." jelas Ayah kemudian mereka hendak pergi.
Tiba-tiba saja ada seorang perawat hadir, ia pun mengabari kalau ada pasien gawat darurat yang hadir.
" Dokter Veri, ada seorang pasien gawat darurat." ucap perawat tersebut.
" Baik, ayo kita segera ke sana." ucap dokter Veri, kemudian langsung mendahului kedua anaknya.
" Setiap saat kita selalu dikacangin, apalagi kalau ada pasien mau darurat kayak gini." ucap Kinan.
" Sudahlah dek, ini itu taruhannya nyawa. Dan ayah harus bertanggung jawab kepada nyawa itu, karena ayah adalah seorang dokter." jelas Dimas dengan mengelus kepala adiknya.
" Iya sih ayah memang bertanggung jawab kepada nyawa itu, tetapi ayah sering tidak memiliki waktu terhadap kita. Bahkan kita saja tidak terlalu dekat dengan ayah, dan untuk berbicara dengan ayah saja kita terkadang tidak merasa nyaman." ucap Kinan dan Dimas hanya mengangguk.
" Ya sudah la dek, itu sudah takdir kita. Hahaha." ucap Dimas sambil tertawa, dan Kinan pun ikut tertawa.
...----------------...
" Beb, masakan mu memang enak. Aku sampai mau tambah lagi." ucap Leo.
" Kalau gitu main kerumah, biar aku masakin." ucap Tania dengan tersenyum.
" Yauda, nanti aku sering main. Biar bisa ngerasain rasa masakan mu." ucap Leo.
" Hadu sakit." ucapnya kemudian langsung berlari, dan Tania pun mengejarnya.
" Enak banget ya punya pacar." ucap Farel.
" Iya, jadi pengen." ucap Irfan, kemudian keduanya pun berpelukan.
...----------------...
Tiba-tiba saja handphone Naura pun berdering, dan ternyata Desi yang menelponnya.
" Halo Ara, kau dimana sekarang sayang." ucap Desi mengawali pembicaraan.
" Ara lagi di rumah sakit kak." ucapnya.
" Apa." teriak Desi dan membuat Tirta kaget.
" Ada apa sayang?" tanya Tirta yang baru saja tiba setelah mendengar teriakkan Desi.
" Ara ada di rumah sakit." jawab Desi dengan mata berkaca-kaca, kemudian ia pun segera mengubah handphone Desi.
" Ara coba jelaskan ke kakak, apa yang terjadi sayang." ucap Tirta dengan setenang mungkin.
" Kakak tenang aja, aku baik-baik saja kok." jawab Naura dan membuat keduanya menjadi tenang.
" Lalu siapa yang sakit?" tanya Tirta.
" Yang sakit itu eyang Lukman." jawabnya jujur.
" Eyang Lukman itu siapa?" tanya Tirta.
" Eyang Lukman itu eyangnya sahabat Ara kak." jawabnya.
" Oh begitu, lalu siapa nama teman mu?" tanya Tirta yang dari seberang telepon.
" Nama teman Ara itu Natan." ucap Naura.
" Ok namanya Natan, sekarang kau sedang di rumah sakit apa?" tanya Tirta.
" Aku lagi di rumah sakit B kak." jawab Naura.
" Ok, kakak akan segera meluncur ke sana." ucap Tirta, kemudian mematikan sambungan telepon.
Tirta dan Desi pun segera pergi menuju rumah sakit, mereka berdua sangat ingin melihat wajah kakak Lukman. Dan bagaimana kondisi kakek Lukman, dari cara bicaranya Naura dapat dipastikan kalau Naura sangat dekat dengan Natan dan juga kakek Lukman. Itulah yang menjadi penyebab utama Tirta dan Desi menjadi penasaran.
Tidak memerlukan waktu yang lama, kini keduanya telah sampai. Dan mereka menanyakan pada resepsionis, dimana keberadaan kakek Lukman. Dan akhirnya mereka di arahkan ke ruang ICU, mereka pun bergegas ke sana. Dan benar saja, kini mereka melihat Naura yang sedang duduk disamping oleh 2 orang pemuda dan seorang gadis.
" Ara." panggil Desi.
" Kakak." ucapnya kemudian langsung berpelukan.
" Bagiamana keadaan kakek temanmu itu?" tanya Desi.
" Kakek Lukman masih di dalam, tadi keadaannya sudah sempat membaik. Tapi masih belum bisa dikunjungi kak." jelas Naura.
" Yauda, jadi mana yang namanya Natan?" tanya Desi.
" Saya kak." jawab Natan, dan ia langsung berdiri kemudian menghampiri Naura beserta kakaknya.
" Oh jadi kau yang namanya Natan, lalu mereka siapa?" tanya Desi.
" Mereka Kinan dan juga kak Dimas, dan mereka adalah siswa lesnya bunda kak." ucap Naura.
" Oh jadi mereka Didi dan Kiki." ucap Desi dengan tersenyum.
" Iya kak, kakak kenal dengan kami." ucap Dimas.
" Tante Tiara atau bundanya Naura, dulu tuh sering banget cerita tentang kalian." ucap Desi.