Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 112



" Tentu saja saya memanggil paman." ucap Naura.


" It's tidak, panggil aku ayah. Jangan paman, atau kau pergi dari rumah ku." ucap ayah Karin dengan tatapan sinis dan membuat suasana menjadi tegang.


" Eh…" ucap Naura yang sedang bingung.


" Sudahlah panggil saja, aku juga senang kok punya adik." ucap Karin dengan tersenyum.


" Bener, kami juga senang. Apalagi adiknya seimut kau." ucap awas dengan mencubit pipi Naura.


" Iya uti." ucap Maura dengan tersenyum.


" Tuh kan, Maura aja uda panggil kau uti. Jadi kau sudah menjadi bagian keluarga ini, jadi panggilnya jangan paman lagi." jelas ayah Karin.


" Terimakasih paman, eh maksudnya ayah." ucapnya dengan berderai air mata.


" Eh jangan nangis, nanti cantiknya hilang." ucap Rangga kemudian langsung memeluk adik kesayangan itu.


Semuanya sontak tertawa melihat Naura, tetapi tidak dengan Putri dan Zia. Keduanya tampak tidak suka dengan Naura, menurut mereka Naura sedang mencari perhatian saja. Tetapi yang sebenarnya mereka belum mengenal Naura, dan tidak tau kisah kehidupan Naura.


" Naura aja yang di pandang, aku juga adik kak Rangga. Bahkan akulah adik kandungnya, kenapa semuanya justru memuji dia sih." batin Zia yang emosi.


" Apa sih hebatnya anak ini, aku lihat dia juga biasa aja. Masih cantikan juga Zia, dia mah nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Zia." batin Putri yang kesal.


Mereka semua pun melanjutkan sarapan, dan hari ini adalah hari pengangkatan Naura menjadi bagian keluarga Karin. Semuanya sangat menyayangi Naura, mereka sangat bahagia melihat senyuman Naura. Dan berharap senyuman itu tidak akan luntur.


Setelah selesai sarapan, mereka semua kini berendam di kolam renang yang sudah di beri bunga. Ini adalah salah satu ada yang akan di lakukan, biasanya bunganya akan di taruh di gentong air. Tetapi untuk mempersingkat waktu, bunganya langsung di taruh di kolom renang.


Kini Rangga dan Karin langsung saja masuk ke dalam kolam renang, kemudian ayah dari mereka langsung memandikan mereka dengan gayung yang sudah di sediakan. Cukup lama juga mereka berendam, hingga akhirnya ritual pun selesai. Kini keduanya langsung di giring ke kamar masing-masing untung mengganti pakaiannya, kemudian mereka akan melanjutkan ritual adat berikutnya.


Satu harian di khususkan untuk acara adat, tanpa terasa hari sudah mulai petang. Dan adat masih belum selesainya, semua masih terus melakukan acara adat. Mereka hanya berhenti ketika waktunya shalat saja, setelah itu melanjutkan acara adat kembali.


Tak terasa kini sudah pukul 23.00 WIB, semuanya sudah mulai kelelahan. Dan acara adat akhirnya pun selesai, kini semuanya kembali ke kamarnya masing-masing. Dan istirahat untuk acara esok hari, yaitu acara akad nikah Rangga dan juga Karin.


Kini semuanya sudah terlelap, tetapi tidak dengan Naura dan Maura. Keduanya masih sibuk berbincang, terutama Maura yang enggan untuk dilepas oleh Naura. Maura selalu menggenggam tangan Naura, agar Naura tidak pergi.


" Uti, nanti setelah uti Karin sama Om Rangga nikah. Uti juga akan ninggalin Maura?" tanya Maura dengan ekspresi sedih.


" Maafin uti sayang, tapi uti harus balik ke Indonesia. Uti kan masih sekolah di sana, nanti hari libur uti main ke sini lagi. Kalau nggak Maura juga bisa main ke rumah uti, uti akan selalu menyambut kedatangan Maura." ucap Naura dengan tersenyum dan mengelus kepala Maura.


" Hanji ya liburan uti ke sini." ucap Maura dengan mengulurkan jari kelingkingnya.


" Kan kalau uti nggak ke sini, berarti Maura yang ke rumah uti." ucapnya dengan tersenyum kemudian langsung menyatukan jari kelingkingnya dengan kelingking Maura.


" Maura takut nggak diizinin ayah." ucapnya dengan ekspresi sedih.


" Maura tenang aja, ayah Maura pasti izinin kok. Nanti uti yang ngomong, biar kapanpun Maura kangen sama uti, Maura bisa langsung terbang ke Indonesia." jawab Naura dengan tersenyum.


" Uti memang yang terbaik." ucapnya dengan tersenyum dan juga memberikan kedua jempolnya.


" Tentu dong, uti Ara gitu." ucapnya dengan menyombongkan diri.


...----------------...


Tak terasa kini sudah jam 4 subuh waktu setempat, kini semuanya tengah di sibukkan dengan persiapan akat nikah Karin dan Rangga. Untungnya MUA sudah datang, Karin sedang di rias. Sedangkan Naura sedang membantu persiapan, dan tanpa sengaja Naura bertabrakan dengan seorang pemuda.


" Maaf kau tidak apa-apa kan?" tanya pemuda tersebut yang merupakan orang WO.


" Saya tidak apa-apa kok mas, saya juga yang salah." ucap Naura dengan membersikan bagian tubuhnya yang kotor karena terjatuh.


" Beneran kau tidak apa-apa?" tanya pemuda itu untuk memastikan.


" Iya aku tidak apa-apa." jawab Naura dengan tersenyum.


" Syukurlah kalau kau tidak apa-apa, perkenalkan namaku Fahmi." unsur pemuda itu dengan mengulurkan tangannya.


" Oh, namaku Naura." jawab Naura dengan tersenyum dan juga menjabat uluran tangan tersebut.


" Namanya sangat indah, seindah rupanya." batin Fahmi.


" Halo mas Fahmi." ucap Naura dengan melambaikan tangannya di depan wajah Fahmi yang tampak sedang melamun.


" Eh iya." ucapnya yang baru tersadar.


" Tolong dilepas dong tangan saya." ucap Naura masih dengan tersenyum.


" Maaf saya tidak sengaja." ucapan muda tersebut kemudian langsung melepaskan genggamannya.


" Tidak apa-apa mas, kalau begitu saya pergi dulu ya." ucap Naura.


Fahmi tidak menjawab perkataan Naura, ia hanya mengangguk dan menatap kepergian Naura. Hingga ia pun terkejut, ketika iya dipukul bahunya oleh temannya.


" Ya ampun Jere, kau ini membuatku kaget saja." ucap Fahmi.


" Hahaha, maaf deh Fahmi. Habisnya kau melihat apa sih, sampai pandanganmu tidak mau lepas dari sana." ucap Jere yang penasaran.


" Aku baru melihat bidadari, ia cantik dan sangat lembut." jelas Fahmi dengan membayangkan wajah Naura.


" Pantas saja kau tidak mau lepas dari sana, dapat namanya tidak?" tanya Jere yang penasaran.


" Dapat dong, namanya Naura." jelas Fahmi dan sontak saja Jere kaget.


" Aku nggak salah dengar, dia itu masih kecil Fahmi. Nggak nyangka kamu sukanya sama bocil kayak gitu, kamu kalau mau nikah sama dia masih nunggu belasan tahun lagi." ucap Jere yang membuat Fahmi kaget.


" Belasan tahun, orang dia sepertinya seumuran sama kita." ucap Fahmi dan Jere masih tidak percaya.


" Sebentar apaan, dia itu masih bocil masih SD." jelas Jere dengan menggelengkan kepalanya.


" Nggak mungkin Jere, jelas-jelas dia sepantaran sama kita. Nanti orang yang kita maksud berbeda?" ucap Fahmi dan Jere pun mulai berpikir ulang.


Tiba-tiba saja Maura datang menghampiri mereka, ia yang sempat mendengar perdebatan keduanya tertawa dengan cukup hebat. Ia sudah mengetahui apa yang dimaksud oleh keduanya, salah satu diantara mereka mengira itu adalah Naura dan salah satunya mengira itu adalah ia.