
Dan bahkan gambaran tentang perlakuan Zia kepada masih teringat dalam benaknya, dalam seketika ia merasa takut. Dan ia pun nggan untuk pergi ke rumah sang kakak, tiba-tiba saja Desi yang sempat mendengar pembicaraan mereka. Ia pun menyambung dan menjelaskan kalau Rangga sudah tidak tinggal bersama dengan orang tuanya.
Naura yang mendengar itu pun, kini ia tersenyum kembali. Rasa takut yang sempat melanda hatinya kini telah menghilang, dan ia bertambah tidak sabar untuk mengunjungi rumah sang kakak.
'' Senang banget ya, kakak uda lama nggak lihat kau tersenyum seceria ini.'' ucap Desi.
'' Tentu dong kak, karena aku sangat bahagia. Hal yang ku nanti-nanti akhirnya tiba juga.'' ucapnya dengan tersenyum.
'' Iyalah tuh, yang bentar lagi main sama kakak kesayangannya. Terus kakaknya yang ini dilupain.'' ucapnya dengan melipat tangan dan juga memanyunkan bibir.
'' Apaan sih Kak Desi ini, Ara nggak akan pernah lupain kakak. Karena bagi Ara, Kakak adalah kakak yang paling baik.'' ucapnya untuk menghibur Desi dan memeluknya.
'' Aduh kayaknya ada yang lagi bahagia nih, tapi saking bahagianya satu ketinggalan nih di sini.'' ucapkannya yang kesal.
Akhirnya Desi pun menarik Tania ke dalam pelukan, kemudian Tania juga membawa Hany. Kini keempat wanita itu sedang berpelukan, dan Tirta yang tiba-tiba saja datang. Ia pun merasa iri dan ingin gabung, tetapi Desi dan Tania melarangnya.
'' Enak ya yang lagi pelukan, gabung dong.'' ucap Tirta.
Tidak ada dari mereka yang menjawab, tetapi Desi dan Tania menatap ke arah Tirta dengan sangat menyeramkan. Karena merasa takut dengan istri dan adiknya, Tirta akhirnya memutuskan untuk pergi. Dan tidak akan mengganggu kebahagiaan adik dan juga istrinya itu, akhirnya ia berada di ruang kerjanya dan menelepon sahabatnya Rangga.
'' Halo Ta ada apa nelpon?'' tanya Rangga dari seberang telepon.
'' Pakai nanya lagi, gara-gara lo gue nggak dipeluk.'' ucapnya dengan nada mewek.
'' Hah kok bisa?'' tanya Rangga kembali yang penasaran.
'' Ya bisalah, orang mereka semua pelukan. akunya dilupakan, dan ketika mau gabung malah dapat plototan.'' ucapnya yang masih kesal.
Rangga yang mendengar ucapan Tirta, Ia pun tertawa dengan sangat kuat. Ia merasa mendapat hiburan, tetapi ia juga kasihan dengan sahabatnya itu. Akhirnya ia pun bertanya, Apa yang menyebabkan ia tidak mendapat pelukan.
'' Gue mau tanya sama lo, kenapa lo nggak dapat pelukan. Kalau misalnya yang pelukan mereka aja, kayaknya nggak papa deh lo gabung. Karena menurut gue ya, Naura kayaknya udah terima lu deh sebagai kakaknya.'' ucapnya sambil berpikir.
'' Kalau tadi cuma ada Naura aja nggak apa-apa, tapi di dalam pelukan mereka juga ada Hany. Model di perusahaan lo itu, yang tadi lu lihat ada di rumah gue.'' ucapnya dengan nada kesal.
Rangga tertawa dengan semakin kuat, ia sungguh merasa kasihan dengan temannya. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ternyata di dalam pelukan itu ada model agency nya. Sebenarnya tidak masalah, tetapi istrinya pasti akan cemburu. Karena itu ia memilih cara aman, yaitu tidak bersuara dan meminta temannya untuk sabar.
'' Udalah sabar aja, sekarang gue tanya. Lo milih di peluk sekarang dan kemudian dimusuhi sama istri Lo, atau diam sekarang dan pelukannya nanti.'' ucap Rangga.
'' Eh tunggu, maksudnya gimana?'' tanya Tirta yang merasa bingung.
'' Kau ini ya Tirta, kan tadi di dalam pelukan mereka itu ada model agency gue. Kalau tadi nggak ada gpp, dan kalau Lo tanpa sengaja meluk Naura atau Tania itu nggak akan bahaya. Tapi kan ada model itu, kalau misal Lo meluk si model gimana. Coba Lo bayangin.'' ucap Rangga.
Tiba-tiba saja Tirta terbayang dengan wajah Desi yang sedang marah, ia pun merasa takut. Saat ini otak Tirta sudah kembali berpikir sempurna, dan ia tidak mau mengusik istrinya. Atau dialah yang akan mendapatkan masalah, Yang bisa di bilang tidak ada habisnya.
'' Dasar Lo ya Tir, nggak berubah Lo. Dari dulu Lola mulu.'' ucap Rangga dari sebrang telepon.
'' Udalah, sekarang gue uda ngerti. Dan jangan dibahas masa lalu, gue paling malas. Dan uda ya, by.'' ucapnya kemudian mematikan sambungan telepon.
'' Untung aja uda gue matikan, kalau nggak bisa panjang ceritanya.'' ucap Tirta.
Ia pun keluar dari ruangannya, ia langsung bertemu dengan sang istri dan adik-adiknya. Mereka ingin mengantar Hany untuk pulang.
'' Mau kemana?'' tanya Tirta.
'' Mau kedepan, si Hany mau pulang soalnya kak.'' ucap Tania.
'' Oh yauda, perlu di antar nggak. Biar kakak bilang sama supir.'' ucapnya lembut.
'' Nggak usa kak, karena aku bawak mobil kak.'' ucap Hany.
'' Oh yauda, kalau gitu hati-hati ya.'' ucapnya kemudian pergi menuju ke arah kamarnya.
Hany yang merasa heran dengan sikap Tirta, ia pun memutuskan untuk bertanya kepada Tania selaku adik dari Tirta. Walaupun awalnya ia nggan, tetapi karena rasa penasaran yang sudah mendaging. Ia pun tidak bisa menahannya lagi.
'' Kak Tania, kak Tirta memang gitu ya?'' tanyanya dan membuat semuanya penasaran.
'' Gimana maksudnya?'' tanya Tania balik.
'' Ya cuek-cuek gimana gitu, tapi jujur nyeremin.'' ucapnya dengan menahan rasa takut.
Ketiganya tertawa mendengar ucapan Hany, mereka tidak menyangka ternyata Hany memandang Tirta seperti itu. Padahal sifat asli Tirta sangat bertolak belakang dengan yang dikatakan oleh Hany, tapi apa mau dikata itu semua adalah penilaian dari Hany. Dan mereka tidak bisa ikut campur dalam penilaian pribadi.
'' Kenapa kakak semua tertawa, memang ada yang salah dengan yang ku ucapkan ya?'' tanyanya yang memang tidak tau apa-apa.
'' Nggak kok, cuma sebenarnya apa yang Lo bilang itu nggak sesuai. Yang sebenarnya adalah kebalikan dari apa yang Lo bilang Hany.'' ucap Tania dan membuat Hany.
'' Hahaha, kakak bercanda ya kan?'' tanyanya lagi dengan tertawa.
'' Nggak Hany, tapi memang nggak semudah itu untuk dekat dengan kak Tirta. Mungkin dengan berjalannya waktu, kalau nggak mana mungkin kak Desi bisa nyantol. hehehe.'' ucapnya disertai tawa.
Naura yang mendengar ucapan dari Tania, ia pun ikut tertawa. Desi pun langsung menjewer telinga kedua sahabat itu, karena telah menceritakan hal tidak baik tentang suaminya. Dan hal itu membuat ia menjadi kesal, walaupun keduanya adalah adiknya. Tetapi ia tetap saja tidak bisa melihat ada orang yang menertawakan ia dan suaminya.
'' Adu kak sakit.'' ucap Naura dan Tania secara bersamaan.
'' Sakit kan, makannya jangan ngeledek kakak kalian. Masih mending kakak yang dengar, kalau sampai kakak kalian itu yang dengar. Bisa di usir dari rumah kalian.'' ucap Desi, dan membuat Naura dan Tania membayangkan jika mereka sampai di usir oleh sang kakak.