
" Tau aja kalau kita pacaran." jelas Tama dan membuat Lusi kaget, dan langsung mencubit lengan Tama.
Tama merasakan sakit dari cubitan itu. Namun, ia tidak bersuara dan malah mengelus rambut Lusi.
" Semuanya, mending kita pergi aja yok." ajak Bayu, kemudian ia menaiki motornya.
Mendengar perkataan Bayu, Naura dan Tania tidak bergerak mengikuti mereka. Mereka justru pergi menuju gerbang untuk menunggu jemputan mereka.
Kedua pemuda itu sempat heran. Namun, mereka tidak berkata apa-apa. Setelah mengambil motor, mereka langsung pergi menuju ke gerbang.
Mereka menghampiri Naura dan juga Tania, mereka hendak mengajukan Naura dan Tania pergi. Namun, tiba-tiba saja mobil jemputan Tania datang.
Tania langsung menuju mobil jemputannya. Dari pintu mobil, Tania mengajak Naura untuk pulang bersama. Karena memikirkan sedang ada kedua kakak tingkat yang baru di kenalnya, dan sepertinya ingin mengajak pergi dengan motor. Naura langsung menyetujui ajakan Tania.
Tiba-tiba saja, saat Naura ingin masuk ke dalam mobil Tania. Terdengar suaranya telakson mobil yang sangat kuat, dan mobil itu langsung parkir di belakang mobil Tania.
Pemilik mobil pun keluar dari mobilnya, ia langsung berjalan mendekati Naura. Tania langsung memberikan kode kepada supirnya, agar segera melakukan mobilnya.
" Dah Nau." ucapnya
" Dah." balas Naura yang masih kebingungan.
Naura pun akhirnya tersadar saat Leo menepuk pundaknya. kedua pemuda yang tadinya berniat untuk mengantar Naura, mereka tercengang ketika melihat wajah Leo.
Mereka tiba-tiba saja hanyut dalam lamunan, dan mereka teringat masa-masa saat Leo masih menjadi senior mereka di sekolah itu. Wajah mereka berdua berubah pusat.
" Eh ada kakak." ucap Naura ketika baru sadar dari lamunannya.
Mereka berdua yang mendengar itu, menjadi sangat bertanya-tanya. Sebenarnya siapa Kak Naura, dan kenapa Leo sampai hadir di sekolah ini kembali demi dirinya.
" Adek lagi mikirin apa?" tangan Leo yang penasaran.
" Adek." ucap kedua pemuda itu sambil menatap satu sama lain, mereka kaget dan ingin memastikan apakah yang mereka dengar adalah benar.
" Nggak apa-apa kak, tadi Tania baru aja pergi. Padahal Adik sama Tania mau pergi tadi." jelas Naura dengan memanyunkan bibirnya.
Mereka berdua yang melihat interaksi Naura, mereka merasa Naura sangat imut. Namun, tiba-tiba saja perkataan dari Leo memanggil Naura " Adek" teringat di dalam pikiran mereka.
" Oh itu yang tadi mobilnya Tania, teman pertama adik di sekolah kan." ucapnya sambil menatap ke arah mobil yang sudah menghilang entah ke mana.
Naura tidak menjawab, Ia hanya mengangguk pertanda setuju. Saat ini kedua pemuda yang tadi masih dalam pikirannya masing-masing, akhirnya mereka memberanikan diri untuk bertanya kepada Leo siapakah sebenarnya Naura.
" Ma-maaf kak, sebenarnya hubungan Kakak dan Naura apa ya?" tanyanya dengan terbata karena merasa takut.
" Sepertinya gue kenal sama lo." ucap Leo dengan berpikir dan mengingat kenangan masa lalunya di sekolah ini.
Setelah cukup lama Ia berpikir, akhirnya ia mengetahui siapa kedua pemuda yang saat ini berada di hadapannya.
" Kalian Bayu dan Yuda kan?" tanyanya yang teringat dengan dua nama itu.
" Tadi kalian nanya kan Naura siapa gue?" tanya Leo kembali untuk memperkuat pertanyaan dari kedua pemuda itu.
Mereka berdua tidak menjawab perkataan Leo, mereka hanya mengangguk pertanda kebenaran dari pertanyaan yang mereka tanyakan sebelumnya.
" Mau dijelasin simple atau ribet." tanya Leo dan membuat kedua pemuda itu bingung harus menjawab apa, pasalnya mereka sangat ingin mengetahui siapa Naura yang sebenarnya. Namun, jika untuk mengetahui selat belut itu semua. Pastinya mereka akan mendengarkan Leo berceramah sangat lama. Dan mereka tidak mau berhadapan lama-lama dengannya karena mereka masih merasa takut kepada Leo.
" Simple aja Kak." jawab mereka berdua serentak.
" Oke inti dari ceritanya, Naura ini adalah adik gue. Uda jadi cukup di sini, jadi nggak usah sok jadi buaya di hadapan adik gue ya." jelas Leo dan membuat kedua orang pemuda itu ketakutan.
" Kakak ngomongnya jangan gitu!" perintah Naura.
" iya-iya maaf adek." ucap Leo kembali dan membuat kedua pemuda yang menatapnya merasa terheran-heran.
Kedua pemuda itu masih dalam suasana kaget, dan kini tiba-tiba saja Tama dan juga Lusi muncul di hadapan mereka. Tama dan Lusi yang merasa kedua teman yang sedang melamun, Mereka pun menepuk pundak keduanya secara bersamaan.
Bayu dan juga Yuda kaget, mereka berdua menjadi marah kepada Lusi dan juga Tama. Leo yang melihat interaksi mereka menjadi ingin tertawa. Namun, ia harus menahannya.
Tama dan Lusi baru tersadar, ketika pandangan mereka bertatapan dengan Leo. Lusi yang melihat Leo ia langsung ketakutan, sedangkan Tama masih belum menyadarinya.
Tama menatap ke arah ketiga temannya itu, dan ia merasakan perubahan dari ketiga temannya. Namun, hingga kini ia masih belum menyadarinya. Leo akhirnya berbicara, dan hal itu membuat Tama kaget.
" Masih tidak berubah saja kau Tama." ucap Leo dan akhirnya Tama pun menoleh ke arahnya.
" Kak Leo." ucapnya kemudian berhambur memeluk Leo.
" Kak Leo, apa kabar?" tanyanya kembali, karena ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Leo setelah ia cukup lama mengikuti turnamen di luar kota.
" Gue baik, Lo gimana?" ucap Leo yang menanyakan keadaan Tama.
Mereka yang melihat interaksi Leo dan Tama menjadi sangat kaget, terutama Bayu, Yuda, dan juga Lusi yang selama ini berteman dengan Tama.
Selama ini mereka tidak mengetahui kalau tamat ternyata dekat dengan Leo. Yang dikenalnya di sekolah itu sebagai ketua OSIS yang sangat disiplin dan juga cerewet.
Leo sudah terbiasa dengan kata cerewet, sejak awal dia memasuki sekolah dan terpilih menjadi ketua OSIS. Sikapnya yang cerewet itu membuat semua guru suka kepadanya. Namun, tidak dengan beberapa siswa yang membenci sikap cerewetnya itu.
Bahkan wakil ketua, juga sangat capek mendengar cerewetannya. Ia bahkan sampai mengadu ke pembina. Namun, sayangnya aduhannya tidak digubris. Karena pembina selalu memihak kepada Leo, menurut pembina dan guru-guru di sekolah itu sikap Leo sudah sangat baik. Dan bahkan mereka meminta agar seluruh siswa di situ memiliki sikap seperti Leo.
Tama akhirnya melepas pelukannya dengan Leo, ia melihat ke sekeliling terutama kepada ketiga temannya itu. Tampak terlihat jelas wajah kaget ketiga temannya itu. Namun, bukannya hendak menjelaskan Leo hanya tersenyum kepada mereka.
" Kakak kenal dengan mereka semua?" tanya Naura yang masih bingung dengan situasi saat ini.
" Tentu, kakak kenal dengan mereka semua." jawabnya disertai dengan anggukan.
" Nagaimana Kakak bisa mengenal mereka?" tanya Naura yang jiwa penasarannya sudah meronta-ronta.