
Kini mereka sudah sampai di rumah keluarga Karin, mereka disambut hangat oleh kedua orang tua Karin. Danang dan Awan tampak tidak memperdulikan Rangga, tetapi keduanya langsung memeluk Naura. Dan hal itu membuat Rangga sangat kesal, tetapi ia tidak bisa berkata apa-apa di depan keluarga calon mertuanya tersebut.
" Sudahlah jangan marah, kakakku memang selalu penasaran dengan Naura. Jadi jangan pasang wajah cemberut, bisa-bisa rencana kita batal." ucap Karin dan Rangga pun segera mengubah ekspresinya.
" Jangan gitu dong beb, masa rencana kita harus batal karena hal ini." ucap Rangga dengan ekspresi sedih kemudian langsung menggenggam tangan Karin.
" Makanya jangan seperti itu, lagian Naura itu adikmu. Masa kau iri pada adikmu sendiri, nggak boleh seperti itu ya." ucap Karin dengan mengacak-acak rambut Rangga.
" Maaf deh, nggak akan lagi seperti itu." jawabnya dengan tersenyum.
" Kenapa aku merasa jadi obat nyamuk ya." ucap Naura dan membuat keduanya pun langsung menatap ke arah Karin dan juga Rangga.
" Kau tenang saja Naura, kali ini bukan hanya kau yang merasa menjadi obat nyamuk. Tetapi kami juga merasa menjadi obat nyamuk, ayo kita pergi." ajak Danang, dan ketiganya pun segera pergi dari tempat tersebut.
" Danang dan Awan kalian mau ke mana?" tanya ayah Karin dengan sedikit berteriak.
" Mau ke taman belakang ayah, males jadi obat nyamuk." jawab Awan.
" Kalian lupa ya akan tanggung jawab kalian?" tanya sang ayah dan mereka pun akhirnya diam memaku.
" Udah deh kak, lebih baik kakak urusin acara kak Karin dan juga Kak Rangga. Untuk acara jalan-jalannya, nanti aja deh. Lagian Naura juga pengen melihat acara adat keluarga kakak, kak Karin selama ini sering cerita tentang ritual adat dan hal itu membuat aku sangat penasaran." jelas Naura dan keduanya pun mengangguk.
" Naura aja mengerti, masa kalian mau kabur." ucap ayah mereka.
Mereka pun segera pergi ke ruang utama, dan kini mereka sedang menunggu pak Djarot dan juga Zia. Tidak beberapa lama keduanya pun tiba, sontak saja Naura Dan Zia bertatapan. Mereka berdua saling kaget dan tidak percaya, awalnya mereka hanya saling menebak tetapi ternyata tebakan mereka sangatlah benar.
" Naura anak XI¹ kan?" tanya Zia.
" Iya aku Naura anak XI¹, dan kau Zia anak XI² kan?" tanya Naura.
" Nggak nyangka ya kita bisa ketemu di sini, atau jangan-jangan kau anaknya tante Tiara ya?" ucap Zia yang menebak.
" Iya aku memang anaknya Bunda Tiara, kalau begitu kau berarti anak kecil yang menolak hubungan Bunda dan juga papi Jarot ya." ucap Naura.
" Maafin aku ya, padahal dulu kita hampir saja menjadi keluarga. Tetapi karena aku rencana itu semua jadi batal, dan sekarang tapi aku udah nikah sama mami Putri." ucapnya dengan menggandeng mami tirinya tersebut, dan Putri menatap Naura dengan tatapan sini.
" Nggak apa-apa kok, lagian itu semua masa lalu. Oh iya, aku cuma mau bilang satu hal sama kamu. Kau tidak perlu takut kalau bundaku merebut papi Jarot dari mamimu, karena bundaku sudah tidak ada." jelasnya dan membuat Zia kaget.
" Kapan bundamu meninggal?" tanya dia yang penasaran.
" Belum lama, beberapa bulan yang lalu. Dan itu juga alasan kenapa aku pindah ke ibukota, dan akhirnya bisa sekolah di sekolah aku sekarang." jelas Naura dan Zia pun mengangguk.
" Oh jadi Itu alasanmu pindah ke ibukota, oh iya ngomong-ngomong kok sekarang tinggal di mana?" tanya juga yang penasaran.
" Sebenarnya awalnya aku tinggal bersama ayah kandungku, tetapi tiba-tiba saja pamanku datang dan akhirnya aku tinggal bersama kakak sepupuku." jelasnya.
" Kebetulan kakak sepupuku itu adalah kakak ipar dari Tania." jelasnya dan Zia pun mengangguk.
" Kebetulan yang sangat tidak direncanakan, dan justru membuat kalian menjadi semakin dekat." ucap Zia dan mengagetkan semuanya.
" Ya begitulah, ternyata dunia ini sangatlah sempit." ucapnya dengan tersenyum.
" Kalian berdua kenapa ngobrol, udah duduk manis. Biar kita jalankan acaranya." ucap awan yang tiba-tiba saja menarik tangan Naura.
" Sebegitu dekatkah ia dengan keluarga ini." batin Zia.
" Baik karena semua sudah berkumpul, acara akan segera kita mulai." ucap Danang kakak tertua dari Karin yang memulai acara.
Acara adat itu pun dimulai, Naura sangat terpukau dengan acara tersebut. Ia tidak menyangka, Kalau acara adat yang ia lihat ini sangat memukau. Ia yang tidak pernah melihat ritual adat, suku Sunda itu merasa heran.
Satu demi satu ritual telah berlangsung, dan kini waktu sudah menunjukkan sore hari. Mereka pun menutup acara adat tersebut, kemudian mengantar para tamu ke kamar tamu yang sudah disediakan. Walaupun Naura dan Zia sama-sama adik dari Rangga, tetapi mereka tidak dijadikan satu kamar.
Rangga, Reza, Zia dan juga kedua orang tuanya. mereka semua menempati kamar tamu, tetapi tidak dengan Naura. Naura kini tidur di kamar Maura, dan ia pun sempat berbincang dengan Karin sebelum akhirnya terlelap. Karin yang melihat Naura terlelap, ia pun segera menyelimuti Naura kemudian kembali ke dalam kamarnya.
" Maura dan juga Naura, kalian adalah sumber kebahagiaanku." ucapnya yang kini masih berada di depan pintu kamar keduanya dan kemudian ia pun segera kembali ke kamarnya.
" Kenapa sih aku nggak satu kamar sama Naura, padahal kita kan sama-sama adiknya kak Rangga." ucapnya yang sedang kesal di dalam kamarnya.
...----------------...
Matahari bersinar dengan terik, kini semuanya sudah bangun. Dan mereka pun segera pergi menuju meja makan, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Karin dan juga Naura sedang sibuk memasak.
" kalian bangun pagi-pagi untuk masak?" tanya pak Jarot dengan melihat keduanya, keduanya tidak menjawab apapun mereka hanya menganggap saja.
" Memang calon mantu idaman, papi cobain ya." ucapnya kembali dengan menyiapkan nasi dalam mulutnya.
" Bagaimana rasanya Pi, enakan masakan aku dan kak Karin?" tanyanya dengan tersenyum.
" Tentu sangat enak dong, kalau perlu papi habisin semuanya." ucap pak Jarot dengan tersenyum.
" Ternyata anda adalah orang yang penyayang." ucapkan.
" Saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar, dan menurut saya masakan mereka memang sangat enak." jelas pak Jarot dengan tersenyum.
" Ternyata yang anda katakan memang benar lak Jarot, masakan keduanya memang sangat enak. Terima kasih Naura, kau telah mengajari putri kecil saya untuk memasak." ucapnya dan membuat mereka semua terkejut, tetapi tidak dengan Rangga yang tampak biasa saja.
" Paman terlalu memuji saya." ucap Naura dengan tersenyum.
" Siapa yang sedang kau panggil?" tanya ayah Karin dengan telinga kanan dan kiri, dan membuat Naura ikut bingung.