Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 82



Setelah Ayah dan Bunda keluar dari ruangan kerja Tirta, Tirta pun segera masuk ke ruangan kerjanya. Dan ia pun menangis sejadi-jadinya, dan memikirkan apa yang dikatakan Bundanya tadi. Iya tidak menyangka, kalau orang yang saat ini paling dia benci. Ternyata Ia adalah orang yang sangat ia rindukan, tantenya yang paling ia sayangi.


" Mengapa semuanya harus seperti ini." teriaknya di dalam ruangan kerjanya.


Ia pun akhirnya pergi ke sudut ruangan, ia mengambil sarung tinjunya untuk melakukan olahraga boxing. Ia terus saja berolahraga untuk meluapkan emosinya, tempat pukul 12.00 malam akhirnya ia pun kelelahan. Dan akhirnya ia pun tertidur masih dengan menggunakan pakaian boxing nya.


...----------------...


Tepat pukul 06.00 pagi, Naura pun terbangun dengan wajah yang sangat gembira. Ia merasakan sangat bahagia, karena Bunda dari Tania sangat menyayanginya. Dan hal itu membuatnya teringat pada bundanya, yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


" Tak kusangka Bunda sangat baik, dengan kehadiran Bunda, aku jadi teringat dengan bundaku." ucapnya dengan tersenyum.


Setelah puas merenungi kejadian kemarin, akhirnya Naura pun memutuskan untuk melakukan rutinitas paginya. Kemudian Ia pun segera turun ke bawah untuk sarapan, dan alangkah bahagianya ia ketika melihat ayah dan bunda dari Tania sudah duduk di meja makan.


" Selamat pagi Ayah, Bunda." sapanya dengan tersenyum.


" Selamat pagi Ara." jawab keduanya.


Tidak lama setelah itu Tania pun juga turun, dan dengan senyuman yang lebar Ia pun menyapa kedua orang tuanya. Tetapi berbeda dengan arah yang hanya dengan sapaan suara, Tania langsung mencium pipi kedua orang.


Naura termenung melihat Tania, ia juga sangat merindukan pelukan dari bundanya. Bunda yang menyadari kalau Naura sedang melamun, akhirnya Bunda pun datang menghampirinya. Lalu Bunda pun menarik Naura untuk duduk di meja makan, tanpa sadar Naura pun mengikuti arahan dari bunda dan langsung duduk di meja makan.


Bunda pun mengambilkan makanan untuk Naura dan juga Tania, Naura terus menatap Bunda yang perhatian kepadanya. Tania sangat gembira melihat sikap Naura, Naura yang selalu saja termenung. Hari ini senyumannya tak pernah sirna, dan membuat ia sangat bahagia.


Keduanya pun melahap makanan yang ada di piring mereka masing-masing dengan sangat lahap, tidak lama setelah itu terdengar bunyi suara bel. Pembantu rumah yang mendengar suara itu langsung membukakannya, dan kini sudah ada Leo di depan pintu.


" Eh ada den Leo, silakan masuk den." ucap pembantu itu mempersilahkan.


" Iya bik." ucapnya dengan mengikuti pembantu itu masuk ke dalam.


Leo pun duduk di sofa ruang utama, dan kini pembantu itu memanggilkan Tania. Alangkah kagetnya Tania ketika pembantu itu mengatakan kalau Leo ada di ruang utama, ia tidak menyangka kalau Leo akan hadir hari ini. Karena hari ini ada kedua orang tuanya, dan Leo sudah tahu hal itu.


" Non Tata, ada den Leo di ruang utama." ucapan bantu itu.


" Apa, dia datang." ucap Tania yang kaget.


" Ya udah sana jumpain." ucap Ayah mempersilahkan putrinya.


" Ayah nggak marah?" tanya Tania.


" Tirta udah cerita semuanya, dan Ayah mengerti hal itu. Udah sana jumpain, nanti dia nunggu lama." ucap sang Ayah dan Tania pun tersenyum.


" Makasih ayah." ucapnya, kemudian langsung pergi menemui Leo.


" Hai beb. " ucapnya ketika sampai di ruang utama.


" Hai juga beb, yuk berangkat." ucapnya dengan tersenyum.


Keduanya pun mulai melangkah kakinya, tetapi tiba-tiba saja Leo teringat dengan Naura.


" Oh dia lagi sama ayah dan bunda, kita duluan aja." jawabnya, dan Leo pun mengangguki apa yang dikatakan oleh Tania. Keduanya pun melanjutkan perjalanan, dan mereka langsung pergi menuju ke sekolah.


" Ara nggak punya pacar?" tanya ayah dan membuat Naura kaget.


" Ayah, kalau nanya itu jangan pas lagi makan. Ara kan jadi keselek." ucap bunda.


" Sekarang Ara minum dulu ya." ucap bunda dengan menyodorkan gelas yang berisi jus jambu kesukaan Naura.


Naura pun langsung meminum jus tersebut, dan menenangkan diri. Kemudian ia pun langsung ingin menjawab pertanyaan itu, tetapi tiba-tiba ada suara datang dan menjawab pertanyaan itu.


" Ara nggak punya pacar, nggak mungkin." kecap Desi yang baru saja turun.


" Kalau gitu bolehlah dikenalin ke sini." ucap Ayah dengan memberi kode.


" Kemarin malam juga baru datang ayah." ucap Desi dan Naura rasanya ingin menutup wajahnya karena malu.


" Kak Desi ini, main bongkar-bongkar aja." ucapnya yang kesal kemudian ingin pergi, tetapi tiba-tiba saja bibi pembantu datang.


" Eh non Ara, ada den Arga di depan." ucapan bantu itu dan membuat Naura kaget.


" Baru aja diomongin, udah muncul aja dia." ucap Desi dengan menarik Bunda menuju ke tempat Arga, Naura pun langsung mengikuti keduanya.


Ayah yang penasaran pun mengikuti mereka, karena ia juga ingin melihat wajah dari Arga. Yang dikabarkan merupakan pacar dari Naura, dan ia ingin menghajarnya bila ia menyakiti Naura. Karena mulai gini Naura telah dianggap menjadi putrinya, dan Naura akan menjadi tanggung jawabnya.


Arga sontak saja kaget, karena melihat kedua orang tua dari Tania. Ia hanya diam membisu dan tersenyum seperti patung, tidak bisa berkata apapun. Desi langsung saja maju paling depan, dan memperkenalkan Arga kepada kedua orang tua Tania.


" Ayah, Bunda ini Arga." ucap Desi memperkenalkan.


" Oh jadi seperti ini tampang pacar Ara." ucap Ayah sambil menatap tajam ke arah Arga, Arga pun sempat merinding ketika melihat tatapan sang ayah.


" Wah kau ganteng juga, ternyata Ara nggak salah pilih." ucap Bunda dengan memuji kemudian menyandingkan Ara di samping Arga.


" Halo om, tante." ucap Arga menyapa kedua orang tua Tania.


" Wah nggak cuma ganteng tapi juga sopan, keduanya memang pasangan yang serasi." ucap Bunda dan Desi pun merasa bingung harus menjawab apa.


" Dari tampang sih boleh serasi, tapi kalau nggak bertanggung jawab bagus ditinggalin aja." ucap Ayah dengan nada tinggi.


" Ayah ini, nggak boleh gitu Ayah. Udah yuk kita pergi aja, ini tuh urusan anak muda." ucap Bunda dengan membawa Ayah pergi dari ruangan itu.


Desi yang mendengar perkataan Ibu mertuanya itu, ia pun juga mengikuti kedua mertuanya pergi. Tetapi pandangannya masih tertuju ke arah Ara dan juga Arga.


" Udah sana berangkat, nanti kesiangan." ucap Desi dengan sedikit berteriak karena posisinya sudah agak menjauh.


Naura pun langsung menepuk pundak Arga, untuk menyadarkan Arga. Dan mengingatkan kalau jam sudah mulai menunjukkan siang, dan kemungkinan besar sebentar lagi gerbang akan ditutup.


" Ayo kita berangkat!" ajak Naura dengan menggandeng tangan Arga menuju keluar.