Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 64



'' Benar kan yang gue bilang, tapi gue boleh nggak bawa Naura ke rumah gue.'' ucapnya meminta persetujuan dari Tirta.


'' Boleh aja sih tapi....'' ucapnya yang tiba-tiba saya terhenti karena mengingat adik kandung dari Rangga.


'' Lo tenang aja Tirta, gue udah nggak satu rumah kok sama adik gue sih Zia. Jujur aja sih Gue nggak suka sama nyokap jadi gue, sejak itu gue memutuskan untuk beli rumah sendiri. Ya paling kalau kangen sama bokap, gue baru datang ke rumah itu.'' jelasnya dan mendapat anggukan dari Tirta dan juga Desi.


'' Kalau begitu aman, tergantung nauranya aja.'' ucapnya dengan tersenyum.


'' Thank you brother, lo memang sohib gue.'' ucapnya dengan memeluk Tirta.


'' Lagian keputusan ada di tangan Naura, gue nggak bisa ngarang dia. Asal dia bahagia, kami semua juga ikut bahagia.'' ucapnya dengan tersenyum dan menatap sang istri.


'' Kalian berdua memang pasangan yang sangat serasi, kalian berdua sama-sama berhati lembut dan juga penyayang. Dengan begini gue jadi tenang deh, adik kecil kesayangan gue tinggal sama kalian.'' ucapnya dengan tersenyum lebar.


Tiba-tiba saja telepon Rangga berbunyi, dan ternyata yang telepon adalah papinya. Dengan sigap yang langsung mengangkat telepon itu, karena ia tahu itu pasti adalah hal penting.


'' Bentar ya gue angkat telepon.'' ucapnya mau minta izin kepada kita dan juga Desi, kemudian ia segera pergi menjauh dan mengangkat teleponnya.


'' Halo Papi, Ada apa ya telepon Rangga?'' tanyanya yang langsung to the point.


'' Rangga papi baru dengar berita yang mengejutkan, apakah benar Naura keluar dari rumah ayahnya?'' ucapnya yang terburu-buru dari sambungan telepon.


'' Tapi tenang dulu ya, Rangga akan jelasin pelan-pelan sama papi.'' ucapnya untuk menenangkan sang Papi.


'' Gimana Papi mau tenang, keberadaan aura saja tapi tidak tahu.'' ucapnya masih dengan nada kepanikan.


'' Udalah pagi, tapi tenang aja ya. Naura itu tinggal sama kakak sepupunya, dan sekarang aku juga lagi ada di rumah Kakak sepupunya.'' jelasnya secara perlahan dan mulai meredakan kepanikan sang Papi.


'' Kalau gitu sekarang Sherlock, tapi juga ingin tahu seperti apa orang yang akan tinggal dengan Naura. Tapi nggak mau kalau kabar yang Papi dengar terulang kembali, dan itu akan sangat menyakiti Papi.'' ucapnya yang memang panik.


'' Papi tahu rumah Tirta sahabat aku kan?'' tanyanya dan membuat sang Papi terheran.


'' Oh rumah Tirta, papi tahu. Tapi apa hubungannya dengan Naura?'' tanyanya yang memang tidak tahu apa-apa.


'' Ya karena, sekarang Naura tinggal sama Tirta.'' ucapnya dan membuat sang tapi tersenyum lebah.


'' Wah kalau gitu Papi jadi tenang, Papi sudah kenal Tirta. Dan Papi yakin Tirta juga akan berbuat baik pada Naura, Tapi jujur Papi kangen sama naura.'' ucapnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


'' Gini aja Pi, hari ini Rangga akan bicara dengan Naura. Dan besok Rangga akan membawanya ke rumah, jadi papi bisa ketemu Naura di rumah Rangga. Itu sih kalau Papi mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa.'' ucapnya ya memang sebenarnya sudah tahu apa yang akan di jawab oleh papinya itu.


'' Ok papi mau.'' ucapnya sambil mematikan sambungan telepon.


Setelah berbicara dengan sang Papi, Rangga pun kembali menemui Tirta dan juga Desi. Ia pun meminta izin untuk membawa Naura ke rumahnya esok hari.


'' Tirta gue boleh nggak minta Naura main ke rumah aku.'' ucap Rangga.


'' Kalau itu sih, tergantung sama Naura. Tapi ke rumah lo....'' ucapnya yang tiba-tiba terhenti, karena mengingat tentang Zia.


'' Syukur deh kalau begitu, gue kan jadi tenang.'' ucap Desi.


'' Jadi kalau begitu aman kan, kalau gitu besok aku jemput Naura ya.'' ucapnya kemudian pergi meninggalkan ruangan itu dan langsung menuju parkiran.


Saat Rangga ingin menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja Naura muncul. Ia langsung memeluk Rangga.


'' Kakak mau pulang, kenapa nggak panggil Adek dulu?'' tanyanya dengan menangis.


'' Eh Adek kakak nggak boleh nangis, lagian besok kakak datang lagi kok. Dan kakak juga mau bawak Adek ke rumah kakak, sesuai dengan janji kakak.'' ucapnya.


Naura pun langsung menghapus ai matanya, dan ia pun tersenyum dengan lebar. Akhirnya yang di nantinya terkabul, ia bisa main ke rumah kakaknya itu dengan bebas.


'' Beneran kan kak, nanti kakak bohong lagi. Tapi soal Adek kakak gimana, siapa namanya Ara lupa.'' ucapnya.


'' Iya Ara sayang, kakak nggak bohong. Besok kakak akan jemput Ara.'' ucapnya dengan tersenyum.


'' Uda ya Ara, lagian besok kan di jemput lagi. Kak Rangga nya mau berangkat kerja dulu.'' ucap Desi, karena sebenarnya ia masih merasa takut, dan Ara hanya mengangguk saja.


Rangga pun segera masuk ke dalam mobilnya, kemudian mobilnya langsung pergi meninggalkan pekarangan rumah Tirta. Kini semuanya pun masuk ke dalam, dan Naura langsung menuju ke kamarnya. Ia segera menyiapkan pakaian yang akan ia pakai esok hari. Tiba-tiba saja Naura mendengar suara ketukan di pintu, dan ternyata itu adalah Tania.


'' Masuk aja, ada apa ya Tata?'' tanya Naura.


'' Begini Ra, Lo yakin mau main ke rumah kak Rangga, Lo tau nggak siapa adiknya Rangga?'' tanya Tania.


Naura tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian tiba-tiba saja pintu di ketuk, Tania yang ingin menjelaskan jadi menghentikannya. Ternyata yang mengetuk adalah Hany, Tania langsung mempersilahkan Hany untuk masuk.


'' Masuklah Hany!'' serunya, dan Hany pun langsung masuk.


Setelah Hany masuk Tania pun ingin melanjutkan pembahasan yang sempat terhenti, mereka semua duduk di atas tempat tidur Hany.


'' Nah sekarang gue ulangi, Lo tau nggak siapa Adek kak Rangga?'' tanyanya lagi.


'' Kan uda ku bilang tadi, aku nggak tau.'' ucapnya.


'' Adik kak Rangga itu adalah...'' ucapnya yang tiba-tiba di potong oleh Hany.


'' Kak Zia.'' ucap Hany dan membuat Naura kaget.


'' Kau bercanda kan?'' tanyanya yang penasaran.


'' Nggak kak, aku nggak bercanda. Adik dari pak Rangga itu memang kak Zia, kalau kakak tidak percaya, kakak bisa lihat di internet.'' jelasnya dan langsung menyerahkan handphonenya yang telah berhasil menunjukkan pencarian atas nama Zia, dan benar saja di situ juga di terangkan kalau Zia adalah adik dari Rangga.


Alangkah kaget dan tidak percayanya Ara, anak perempuan yang pernah menentang hubungan sang bunda dengan ayah dari Rangga. Ternyata adalah Zia, orang yang beberapa hari Lalu sempat berbuat tidak baik padanya hanya karena seorang cowok.