
" Dek, kakak mau tanya. Status hubungan adek dan Arga saat ini apa?" tanyanya.
Naura tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Rangga pun mulai curiga dengan status hubungan sang adik, dan juga Arga. Dan akhirnya ia melanjutkan pertanyaannya, dan tiba-tiba ia teringat dengan perkataan Tirta. Waktu itu Tirta pernah bilang, kalau Naura sudah punya pacar.
" Dek, jawab kakak jujur. Apa adek dan Arga pacaran?" tanya Rangga, dan Naura langsung mengangguk. Sontak saja keduanya menjadi kaget.
" Sejak kapan?" tanya Rangga kembali.
" Belum lama si kak, baru beberapa hari yang lalu." ucapnya.
" Ara bisa ceritakan, gimana bisa Ara jadian sama Arga?" tanya pak Jarot.
" Adek juga nggak tau, harus cerita dari mana. Tapi yang intinya kak Arga. Dia itu nembak adek, waktu paman Sandy datang. Tepatnya waktu itu aku lagi di taman kak, dan paman bilang mau bawak aku ke Milan. Eh tiba-tiba aja dia muncul, dan langsung nyatain perasaannya di depan Paman." jelasnya dan membuat keduanya tambah kaget.
" Jadi si Arga nyatai perasaan di depan Sandy?" tanya Pak Jarot untuk meyakinkan kembali apa yang didengarnya.
" Iya pi, kalau kata Paman sih. Kak Arga punya keberanian, itu karena aku mau dibawa ke Milan. Jadi dia takut kehilangan aku." jelas Naura dan mendapat anggukan dari keduanya.
" Apa yang dikatakan sama pamanmu itu, ada benarnya. Dia ada keberanian, karena takut kehilangan." Ucap pak Jarot dan mendapat anggukan dari keduanya.
" Terus dapat restu nggak dek?" tanya Rangga yang penasaran.
" Ya dapat lah Kak, kalau nggak dapat. Pastinya adek udah dibawa ke Milan sama paman." jelasnya dan mendapat angkutan.
" Kalau gitu, kakak harus bilang terima kasih sama Arga. Kalau bukan karena dia, kakak harus ke Milan untuk ketemu kamu. Dan pastinya akan sulit, karena kakak juga harus ada yang diurus. Nggak cuma harus mengurus diri sendiri aja, tetapi juga semua pegawai kakak." jelasnya sambil berpikir.
" Dan juga papi nggak bisa ketemu kamu, ini aja sebenarnya papi sembunyi-sembunyi. Karena Ara udah ketemu sama Zia, jadi Ara tahu la gimana Zia." ucap Pak Jarot.
" Yang kakak bilang bener sih, adek juga akan kesusahan. Karena kan adek udah nyaman, dari dulu adek selalu cerita sama kakak. Kalau misalnya adik pergi, adek nggak tahu deh bakal cerita sama siapa." jelasnya yang mengingat dan juga membayangkan semisal ia pergi ke Milan.
" Dan kalau urusan Zia, jujur sih ade masih nggak nyaman sama dia. Sebenarnya dia cantik dan pintar, tapi karena dia sering cari masalah. Jadi banyak yang malas berteman dengannya, karena takut terbawa dengan kasus yang ia buat." ucap Naura dengan mengingat tingkat Zia.
" Maafin papi ya, papi nggak bisa ajarin dia. sejak kepergian ibunya, semua menjadi memanjakannya. Dan saat ini, istri papi atau ibu tiri dari mereka. Ia adalah orang kesayangan Zia, tapi entah kenapa, kedua kakak kamu ini nggak suka padanya." ucap pak Jarot sambil menunjuk Rangga.
" Ya memang kami nggak suka sama dia, papi aja yang terlalu sayang dengan Zia. Makannya nikah sama Tante itu." jawab Rangga.
" Ya maaf nak, kamu kan tau. Zia uda kehilangan mami kalian sejak kecil, jadi papi cuma nggak mau dia sedih." ucap papi dengan menatap sedu pada sang putra.
" Udalah kak, papi ngelakuin itu pasti demi kebaikan." Naura membela pak Jarot.
" Makasih Ara." papi langsung memeluk Naura.
Rangga yang merasa cemburu, ia pun langsung menarik tangan Naura. Dalam sekejap, naura langsung masuk ke dalam pelukan Rangga. Naura merasa kesal karena kepalanya kejedot dengan siku Rangga, dan mengakibatkan memar di kenalnya.
" Kak Rangga, sakit tau." ucapnya dengan nada kesal.
" Maaf ya Ara, kakak nggak sengaja." jawabnya.
" Ya kakak cemburu la, masa adek lebih sayang sama papi." keluh Rangga.
Naura langsung tertawa dengan keras, karena ia merasa tingkah kakaknya sangat lucu. Tetapi ia tidak menjawab apa penyebab dari tawanya, dan langsung pergi meninggalkan Rangga dan papinya karena kedatangan Reza.
" Kak Reza." ucapnya dengan berlari.
" Sayangnya kakak kangen ya sama kakak?" tanyanya untuk memastikan. Naura tidak menjawab, ia hanya mengangguk saja.
" Sama, kakak juga kangen. Oh iya kebetulan kakak bawak makanan kesukaan adek ni." ucapnya dengan menunjukkan tentengan yang ada di tangannya.
Naura pun langsung mengikuti Reza menuju meja makan, karena ia sudah sangat lapar. Apalagi dari awal ia sampai di rumah Rangga, ia belum di kasih makan apapun sama Rangga. Jadi, karena ia sangat lapar.
Rangga pun langsung memanggil pembantu di rumah itu, dan kemudian meminta itu meletakkannya di piring. Setelah di hidangkan, Naura langsung menyantap makanan itu dengan sangat lahap. Dan sontak saja, semuanya tertawa melihat itu.
Naura tampak tidak peduli dengan tawa yang terdengar, ia terus menyantap dengan lahap. Dan akhirnya Rangga pun tersadar, kalau ia belum memberikan makanan pada Naura. Dan ia juga ingat, kalau Naura baru saja pulang dari olimpiade. Dan pastinya, ia sangat lapar setelah berpikir keras.
" Astaga, kakak lupa. Kakak belum ada kasih adek makan." ucapnya dengan tersenyum.
" Ih baru nyadar, padahal adek uda kelaparan." ucapnya dengan merengut.
Semua yang melihat tingkah Naura, mereka pun tertawa. Bahkan pelayan rumah tersebut juga merasa kalau nona mudanya itu sangat imut. Namun, karena ia merasa nggan. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke dapur, dengan senyum yang masih terukir di wajahnya. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh pelayan yang lain.
" Woy." ucap seseorang yang mengagetin Ita.
" Ya ampun Mina, ngagetin aja kau." ucapnya setelah menenangkan dirinya setelah kaget.
" Ya maaf, habisnya aku takut kau kesambet." ucapnya dengan jujur.
* kesambet \= kesurupan/kerasukan.
" Ya nggak mungkin la, kalau kau baru mungkin. Kan kau sering melamun." jawab Ita dengan raut kesal.
" Ye dasar, tapi aku penasaran. Kau kenapa senyum-senyum?" tanyanya.
" Oh itu, tadi aku baru ketemu sama nona mudah. Dan asal kau tau ya, nona mudah itu imut banget." jawabnya dengan tersenyum dan membayangkan wajah Naura.
" Oh ya, jadi penasaran aku sama wajah nona mudah. Apakah benar, dia secantik itu." ucapnya dengan berpikir sangat keras dan mencoba membayangkan nona mudanya.
" Kebetulan nona mudah masih ada tuh di depan, kalau memang penasaran. Ayo ikut aku, kita mengintip aja tapi ya. Nanti kalau ketahuan, bisa habis kita sama tuan." jelasnya.
" Iya, kalau sampai tuab marah. Bisa-bisa kita dipecat pula." ucapnya dengan membayangkan kemarahan tuannya itu.
Mereka berdua pun segera pergi ke ruang makan, karena mereka ingin melihat wajah Naura. Niat awalnya mereka hanya mengintip, tetapi ternyata mereka ketahuan oleh nona mudanya. Dan Naura langsung memanggil keduanya.