
" Ni coba." ucapnya dengan menyerahkan baju yang telah ia pilihkan.
" Kau yakin aku pantas memakai pakaian seperti ini?" tanya Naura dengan mencoba mencocokan dengan dirinya.
" Yakin, kau pasti sangat cantik. Uda sana cepat, nanti keburu Arga datang." ucapnya dengan mendorong Naura ke dalam kamar mandi.
Naura pun segera mengganti pakaiannya, ia malu-malu keluar dari kamar mandi. Karena ia merasa kurang cocok dengan pakaian yang diberikan oleh Tania, tetapi ia berusaha bertanya lagi pada Tania. Agar dirinya yakin, kalau pakaian itu memang cocok untuknya.
" Tata, bagaimana?" tanyanya yang baru saja keluar.
" Wau cantik banget." jawabnya dengan berjalan menghampiri Naura.
" Yang bener, aku kurang PD soalnya?" tanyanya kembali untuk memastikan.
" Uda PD aja, lagian kau cantik kok." ucapnya dengan tersenyum.
" Yauda deh aku percaya, tapi kalau kak Desi marah. Kau bantuin aku ya, karena ini kan pakaianmu." ucapnya yang merasa takut.
" Iya tenang aja, aku tau kok maksud mu Ra." ucapnya dengan tersenyum.
Mereka berdua pun segera pergi ke bawah, Desi yang melihat penampilan Naura. ia pun merasa heran, karena tidak ingin menebak-nebak. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menghampiri sang adik, dan bertanya langsung.
" Ara, mau kemana dek?" tanyanya yang sudah sangat penasaran.
" Yang intinya mau jalan-jalan kak." ucapnya dengan datar
" Sepertinya ini anak masih marah." batin Desi.
" Jujur, adek lagi marah sama kakak ya?" tanya Desi.
" Tuh tahu pakai nanya lagi." ucapnya dengan ketus.
Desi pun langsung memeluk Naura, karena ia mengetahui kelemahan Naura. Naura sangat lemah ketika ia di peluk, Itu semua terjadi karena perpisahan kedua orang tuanya dan mengakibatkan ia kekurangan kasih sayang.
" Kalau sekarang masih marah nggak?" tanya Desi dengan tersenyum.
" Nggak dong, mana mungkin arah bisa marah-marah lama sama kakak." ucapnya dengan tersenyum dan menggenggam tangan Desi.
" Dasar kau ini, jadi mau pergi ke mana?" tanyanya yang penasaran.
" Ara mau pergi sama kak Arga." ucapnya.
" Memang mau jalan kemana?" tanya Desi.
" Nggak tau kak, Ara si berharapnya nggak pergi. Jadi duduk-duduk aja di taman belakang." ucapnya.
" Ye dasar, nggak asik la. Masa pacaran di awasi, ya kan Tata." ucapnya dengan memberi kode pada Tania.
" Iya, nggak enak." jawabnya yang mengerti kode dari Desi.
" Tapi kalau disini aja kan seru juga kak, jadi kak Arga bisa di tatap sama kak Tirta. Coba kakak bayangin." ucap Naura, kemudian mereka tertawa bersama.
" Sumpah Ara, gue jadi penasaran sama ekspresinya kak Arga." ucap Tania jujur.
" Iya juga ya, tapi sayangnya yang kau inginkan nggak akan terjadi." ucap Desi dengan menggelengkan kepalanya.
" Kenapa nggak bisa terjadi kak?" tanya Naura yang penasaran.
" Ya karena…kakak kalian nggak pulang." ucapnya dengan lemas.
" Pantas kakak merengut, ternyata kurang asupan." ucap Tania kemudian langsung pergi meninggalkan Ara dan juga Desi.
" Uda kak, jangan marah-marah ingin sama dedek. Nanti si dedek jadi stres kalau kakak stres." ucap Naura dengan menunjuk perut Desi yang sedang hamil.
" Ya mau gimana lagi, itu tuh selalu aja buat emosi naik." ucapnya.
" Udalah kak, si Tata memang sengaja itu buat kakak marah. Jadi kakak jangan terpancing ya." ucapnya dengan memeluk Desi.
Tiba-tiba saja terdengar suara bel, Naura pun segera membuka pintu. Dan benar saja sesuai dengan tebakan Naura, yang datang adalah Arga. Ia pun langsung mempersiapkan Arga untuk masuk, kemudian mempersilahkan ia duduk. Dan Desi yang penasaran dengan wajah Arga, ia pun segera menemui Arga dan Naura.
Naura awalnya merasa risi, tetapi mau tidak mau ia harus memperkenalkan Arga pada Desi. Dan berusaha bersikap baik pagi bumil (ibu hamil) itu, karena bila si bumil bertingkah. Maka hubungannya dengan Arga akan di tentang. Dan bisa-bisa ia juga akan di kirim ke Milan, untuk tinggal bersama dengan sang paman.
" Kak Desi, ngapain di situ." ucapnya.
" Kak Desi, itu kan nama kakaknya Naura." batin Arga.
" Kenapa bisa ketahuan si." batin Desi.
" Hehehe, nggak apa-apa. Lanjut aja, kakak balik ke kamar dulu." ucapnya yang ingin pergi.
" Uda sini kak, nggak usa bohong. Kakak pasti penasaran dengan kak Arga kak?" tanya Naura, dan tanpa sadar Desi pun mengangguk.
" Eh nggak." ucapnya yang baru tersadar.
" Kalau itu pun juga gpp kak, sini aku kenalin." ucapnya dengan menghampiri Desi dan kemudian membawanya ke hadapan Arga.
" Malam kak." ucap Arga dengan sopan yang mengalami Desi.
" Hadu aku deg-deggan." batin Arga.
" Ternyata anak ini baik juga." batin Desi.
" Malam juga, siapa nama mu?" tanyanya pura-pura tidak tau.
" Bukannya kakak ini sudah tau ya, karena tadi si Naura kan cerita kalau si Tania keceplosan." batinnya.
" Nama saya Arga kak." ucapnya dengan tersenyum.
" Oh Arga ya, nama ya indah. Jadi mau kemana ni?" tanya Desi yang langsung ke inti.
" Eh, kakak ngasih izin buat keluar?" tanya Arga untuk memastikan.
" Iya." jawabnya, dan membuat Arga tersenyum.
" Tapi ingat, pulangnya jangan terlalu malam." tambah Desi.
" Baik kak, saya janji akan pulangkan Naura terlalu malam. Karena besok kami juga masih harus sekolah kak." ucapnya dengan senyuman yang tidak pernah luntur sejak tadi.
Mereka pun segera pergi meninggalkan Desi, Desi terus menatap kepergian kedua. Ia tidak menyangka adik kecil kesayangannya kini sudah dewasa, dan sudah memiliki pacar. Dan tampaknya pacarnya juga adalah orang yang bisa di percaya, dan hal itu membuat Desi menjadi tenang membiarkan Naura pergi dengan Arga.
" Masa-masa pacaran memang indah, jadi teringat masa lalu." ucapnya kemudian pergi menuju ke kamarnya.
Tiba-tiba saja terdengar suara bel, Desi pun dengan cepat membukanya. Ia awalnya mengira kalau Naura mungkin ketinggalan sesuai, dan alangkah senangnya ia ketika melihat sosok tersebut. Ya bener, itu adalah Tirta suami Desi yang katanya tidak akan pulang. Karena ada banyak pekerjaan di kantor, dan mengakibatkan ia harus lembur bersama dengan para stafnya.
" Ah mas uda pulang." ucapnya dengan langsung melompat ke arah suaminya.
Tirta untungnya tidak marah, ia justru sangat senang. Karena semenjak istrinya hamil, istrinya semangkin bermanja-manjaan dengannya. Dan itu yang membuat Tirta menjadi takut, kalau tiba-tiba istrinya sedih karena ia tidak berada di sampingnya.
...----------------...
Arga dan Naura sedang berada di kendaraan, mereka melalui lalu lintas yang cukup padat. Mereka berdua sangat bahagia, karena bisa menghabiskan momen bersama. Dan bayang-bayang tentang Desi yang menyeramkan, kini sudah menghilang dari pikiran Arga. Kini ia menjadi penasaran dengan sosok Tirta, suami dari Desi yang di kenal dengan sikap tegasnya.