
Mereka semua tampak sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk pacar Zia, mereka kini juga sudah sangat penasaran dengan pacar dari Zia.
Tanpa mereka sadari, kini waktu sudah petang. Dan tiba-tiba terdengar suara bel, Zia pun segera membukakan pintu untuk pacarnya.
" Halo sayang." ucap Riko yang baru saja sampai.
" Halo juga sayang." jawab Zia kemudian mereka pun berpelukan.
Kini Naura pun turun, ia hendak pergi menuju rumah Tirta. Saat ini ia sudah kangen dengan kakak dan pamannya yang datang dari Milan.
" Kau mau kemana Ra?" tanya Zia yang melihat Naura berdandan rapi.
" Aku mau ke rumah kakak sepupuku." jawabnya dengan tersenyum.
" Oh, yauda hati-hati la. Oh iya, kenalin ini pacar aku." ucap Zia memperkenalkan.
" Hai aku Riko." ucapnya dengan mengulurkan tangannya.
" Hai Riko, aku Naura." jawabnya dengan tersenyum.
" Oh jadi ini pacarnya Arga sahabatku." ucapnya.
" Beb kau mengenal Arga?" tanya Zia yang kaget.
" Tentu, aku dan Arga sahabat masa kecil." jelasnya.
" Pantas saja kalau begitu." ucap Zia mengangguk.
" Oke kai sahabatnya, tapi aku ingin meralat perkataan mu. Aku bukanlah pancaran Arga, tetapi aku mantannya." ucap Naura dan Riko pun tersentak.
" Apa-apaan ini, kenapa bisa begini?" tanyanya yang kaget.
" Kau kan sahabatnya, lebih baik kau tanya saja langsung kepadanya." ucap Naura kemudian langsung pergi meninggalkan tempat itu.
" Beb maaf kan Naura ya, dia masih sangat sensitif. Beberapa hari lalu Arga baru saja memutuskannya, dan dia sangat tidak suka ada yang membicarakan tentang Arga di hadapannya." jelas Zia.
" Tidak masalah beb, lagian aku juga harus segera mencari informasi kepada Arga. Sungguh sangat kasihan dia." jelasnya dengan menatap ke arah kepergian Naura.
...----------------...
Kini Naura sudah tiba di depan rumah Tirta, ia pun langsung masuk saja. Sang penjaga hanya tersenyum melihat nona kesayangan nyonya nya itu.
" Selamat malam pak." ucap Naura dengan tersenyum.
" Selamat malam juga nona." jawab penjaga itu kemudian langsung memperhatikan Naura untuk masuk ke dalam.
" Pamannnnn…" ucap Naura dengan berteriak ketika sampai di dalam.
" Ya ampun keponakan kesayangan paman, ngapain teriak-teriak." ucap Sandy kemudian langsung memeluk Naura.
" Ya maaf, namanya aku kangen…hehehe" ucapnya dengan tertawa.
" Halo adik kesayangan kakak." ucap Desi yang baru saja tiba.
" Halo kakak cantik, bagaimana keadaan kakak?" tanya Naura dengan mengelus perut buncit sang kakak.
" Kakak baik-baik saja kok dek." jawabnya.
" Kalau keadaan adek bagaimana, kakak dengan adek baru sampai siang tadi ya. Ada apa nggak capek, bukannya istirahat ini malah langsung ke sini." ucap Desi dengan menggelengkan kepalanya.
" Adek uda istirahat tadi kak, dan sekarang adek mau ketemu sama paman dan kakak." ucap Naura.
" Yauda, kalau begitu adek nginep ya." ucap Desi.
" Kayaknya nggak bisa deh kak, soalnya kak Rangga melarang aku pergi dari rumah tanpa seizinnya. Untuk kesini aja tadi aku sudah merayu cukup keras." jelas Naura.
" Yauda kalau begitu, lagian memang sedang berbahaya saat ini. Dan di sana jauh lebih aman untuk mu, karena Rangga selalu memperhatikan mu." jelas Desi dan Naura sempat bingung, tetapi ia tidak berani bertanya.
" Araaa…" panggil Tania
" Hai Tata." ucapnya dengan berpelukan.
" Kenapa sepertinya melihat Teletubbies ya." ucap Sandy dan keduanya hanya tertawa saja.
" Paman ini bisa aja." jawab Tania dengan tersenyum.
" Kalian berdua kalau bersama kan memang seperti Teletubbies, tidak pernah bisa dipisahkan." jawab Sandy dengan menggelengkan kepalanya.
" Yang paman katakan emang benar sih, karena itu aku sangat bersedih ketika Naura harus pindah ke rumah pak Rangga. Padahal kan aku tidak bisa hidup tanpa suara keributan dia, walaupun suaranya itu adalah suara emas yang sangat jarang terdengar." jelasnya dan mereka semua pun mengangguk.
" Apaan sih kamu Tata, nggak sampai dikatakan suara mas juga kali. Kayak aku jarang aja biar bicara, kau kan tahu aku paling malas untuk berbicara hal yang tidak penting." jelas Naura.
" Bertengkar nya nanti aja ya, sekarang Ara ikut sama paman." ucap Sandy dengan menggenggam tangan Naura.
" Oke paman." jawabnya kemudian mereka segera langsung pergi menuju kamar Sandy.
Kini mereka hanya berdua saja, sandi terus menatap ke arah Naura. Tanpa terasa kini Naura berderai air mata, Sandy sempat terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. Kini ia pun mencoba menenangkan keponakannya tersebut, ia sungguh tidak sanggup melihat keponakannya itu menangis.
" Sudahlah sayang, jangan menangis lagi. Sekarang ceritakan kepada paman, apa yang membuatmu sedih?" tanyanya dengan menghapus air mata Naura.
" Sebenarnya saat ini aku sedang malas membahas tentang dia paman, tetapi kini aku harus membahas tentangnya. Karena aku tidak ingin paman menyinggung namanya di kemudian hari." jawabnya dan kini Sandy pun tampak kebingungan.
" Apa yang sedang ingin kau bicarakan?" tanya Sandy yang penasaran.
" Hubunganku dengan Arga sudah usai paman." jelasnya dan membuat Sandy terkejut.
" Bagaimana bisa, bukankah ia tampak sangat mencintaimu?" tanyanya yang penasaran.
" Aku ku juga tidak tahu apa penyebabnya paman, tiba-tiba saja Ia memutuskan hubungan dengan diriku. Dan yang paling menyakitkannya, kini aku sudah mendengar kedekatannya dengan seorang wanita." jelasnya dengan berdarah air mata.
" Dia sudah sangat keterlaluan, paman akan memberi pelajaran kepada dia." ucap Sandy yang kini emosi.
" Sudahlah paman, aku sudah tidak ingin terlibat lagi dengan dirinya. Mungkin ini sudah jalannya, dan aku memang tidak cocok dengan dirinya." jelasnya dengan senang mungkin.
" Ini bukanlah hal yang sepele, ia meminta izin kepada paman ketika ingin menjalin hubungan dengan mu tetapi kini tiba-tiba saja ia memutuskan hubungan dengan dirimu, tanpa pemberitahuan kepada paman dulu. Mungkin kau menganggap ini adalah hal yang biasa, tetapi tidak seperti itu menurut paman. Karena ia sudah melanggar kepercayaan paman kepadanya, dan itu sangat membuat paman kecewa." jelasnya.
" Aku mengetahui hal itu paman, tetapi aku sudah tidak ingin berurusan dengannya lagi. Kini aku ingin menjalani hidupku tanpa ada dirinya, aku hanya ingin hidup tenang saja." jelasnya dengan tersenyum.
" Kalau memang itu keinginanmu, paman tidak bisa berkata apa-apa. Paman hanya menginginkan satu hal, karena kini kau sudah tidak menjalin hubungan dengan dirinya lagi. Maka paman akan segera membawamu kembali ke rumah paman, bagaimana menurutmu?" kayaknya untuk meminta pendapat dari Naura karena Naura lah yang akan menjalaninya.
" Maafkan Ara paman, untuk saat ini aku masih ingin tinggal di Indonesia. Tetapi ketika lulus nanti, aku akan memikirkan untuk menyambung pendidikanku di sana." jelasnya dengan tersenyum lebar.
# Selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.