Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 120



" Yang begitu, tapi aku takut dengan boneka Barbie. Jadi aku jarang main dengan teman-teman ku." jawabnya.


" Gimana kalau kita main lagi boneka Barbie, siapa tau bisa menghilangkan ketakutanmu tentang boneka tersebut." usul Zia.


" Nggak deh, aku takut. Lagian kita juga uda dewasa, jadi sudah nggak pantas bermain boneka Barbie lagi." jelas Naura yang memang ketakutan.


" Yang kau katakan memang benar, yauda deh kita nggak usa main lagi. Tapi gimana kalau kita main makeup aja, kan kalau itu boleh." ucapnya.


" Yauda boleh, tapi jangan sekarang ya. Kan besok kita baru pulang ke Indonesia." ucapnya yang memang sudah capek.


" Yauda gpp, lagian aku juga belum packing. Nggak sempat juga waktunya." ucapnya.


" Yauda kalau begitu sekarang kita packing." ucap Naura dan mereka pun segera mempacking semua barang milik Zia.


Keduanya sangat sibuk, sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau pak Jarot sedang memperhatikan kedekatan keduanya.


" Alhamdulillah, kini mereka berdua menjadi sangat dekat." batinnya dengan tersenyum.


" Ayah kenapa tersenyum?" tanya Reza yang baru saja muncul dan mengagetkannya.


" Kamu ini ya Reza, buat kaget ayah saja." ucapnya dengan nafas terengah-engah.


" Maafkan aku Ayah, aku hanya penasaran saja." ucapnya yang memang sangat penasaran.


" Ayah sedang memperhatikan mereka, ayah tidak menyangka mereka akan menjadi sedekat itu. Padahal sebelumnya Zia sangat tidak suka pada Naura, tapi coba kau lihat saat ini. Mereka tampak sangat dekat, andai saja dulu ayah bisa bersama dengan bundanya Naura. Pastinya hidup kita akan bahagia, dan bundanya Naura tidak akan pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya." ucap Jarot yang tanpa sadar meneteskan air mata.


" Yang berlalu biarlah berlalu, saat ini lebih baik kita pikirkan masa yang akan datang. Aku sangat bahagia keduanya menjadi dekat, dan aku harap tidak ada lagi perselisihan karena seorang laki-laki di antara mereka." jelas Reza dengan menatap keduanya.


" Ayah pun juga berharap seperti itu." ucapnya dengan tersenyum.


" Tapi tunggu, mengapa mereka tampak seperti mempacking?" tanya Reza yang baru menyadarinya.


" Itu semua karena mereka berdua akan pulang esok hari." jawab Jarot dan membuat Reza tersentak, dan keduanya yang mendengar teriakan Reza langsung menuju ke depan pintu.


" Kakak sama ayah ngapain di sini?" tanya keduanya serentak.


" Kalian jawab kakak dulu, apa benar besok kalian akan pulang?" ucap Reza yang justru memberi pertanyaan.


Zia tampak menunduk, iya tidak tahu harus berbicara apa kepada kakaknya itu. Apalagi kini kakaknya berbicara dengan nada yang cukup tinggi, dan pastinya ia yakin kakaknya akan sangat marah besar. Apalagi mereka berdua mengambil keputusan untuk pulang tanpa memberitahu ia terlebih dahulu, dan hal itu pasti akan dibawa untuk menjadi bahan ceramahan.


" Iya kak, kami akan pulang besok." ucap Naura dan membuat Zia kaget.


" Naura berani sekali menjawab pertanyaan kak Reza." batin Zia yang ketakutan.


" Mengapa kalian pulang dengan sangat cepat?" tanya Reza dengan mata yang melotot.


" Kami itu nggak bisa lama-lama di sini kak, sebentar lagi kami juga akan menghadapi ujian semester." jelas Naura dan Reza pun mengganggu.


" Oh jadi karena itu alasannya, kalau kamu sih kakak percaya pulang karena itu. Tapi kakak nggak percaya sih Zia mau pulang juga, padahal dia kan paling senang kalau tidak masuk sekolah." ucap Reza dengan menatap kedua adiknya itu.


" Zia kan mau berubah kak, Zia nggak mau menyia-nyiakan waktu lagi. Zia juga ingin masuk ke Universitas impian Zia, dengan nilai yang cukup baik Kalau perlu melebihi rata-rata." ucapnya dengan tersenyum dan sontak saja Reza kaget mendengar hal itu.


" Ini beneran adikku Zia?" tanyanya yang masih tidak percaya dengan menepuk pipinya.


" Alhamdulillah kalau begitu, kakak sangat senang dek." ucapnya dengan tersenyum.


" Yang di sayang cuma Zia aja ni, kalau gitu Ara balik kamar dulu deh." ucapnya dan Jarot pun langsung menarik Naura masuk ke dalam pelukannya.


" Sekarang uda kan?" ucap Jarot.


" Hahaha." ketiganya pun tertawa, dan Jarot merasa heran.


" Kalian kenapa tertawa?" tanyanya yang merasa heran.


" Aku cuma bercanda aja ayah, aku itu memang sengaja menggoda kak Reza. Eh ayah justru langsung memeluk ku." ucapnya dengan tersenyum.


" Eh rupanya begitu, ayah kira kamu marah." jelasnya.


" Ara kalau marah nggak pernah kayak gitu, ayah kayak baru kenal aja sama Ara." ucap Reza dengan menggelengkan kepalanya.


" Eh iya nya, maaf ayah lupa." ucap Jarot dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Gpp ayah, lagian pastinya banyak yang ayah pikirkan. Jadi Ara biasa aja, setidaknya ayah masih peduli dengan Ara." jelas Naura dan Jarot pun tersenyum.


" Terimakasih ayah." jawabnya dengan tersenyum.


" Iya sayang, besok perlu ayah temani pulang nggak?" tanya Jarot.


" Nggak usa ayah, lagian kak Rangga jauh membutuhkan ayah di sini." jelas Naura dan Jarot pun tersenyum.


" Ya sudah kalau begitu, nanti setibanya di Indonesia langsung hubungi ayah ya." ucapnya dengan mengelus kepala Naura.


" Kalau soal itu, ayah tenang aja ya. kami berdua pasti akan mengabari ayah." jawabnya dengan tersenyum.


" Yang dikatakan oleh Naura benar ayah, kami juga tidak ingin ayah cemas. Jadi ayah tenang aja ya, nanti kami akan mengabari ayah jika sudah sampai Indonesia." ucap Zia.


" Iya ayah, Ara balik ke kamar dulu ya. Ara capek, mau bobo." ucapnya yang memang kelelahan.


" Apa nggak lebih baik kamu pindah ke kamarku aja Ra, biar besok pagi kita gampang perginya." ucap Zia memberi usul.


" Aku sih inginnya begitu, tapi aku bingung bagaimana berbicara dengan Maura." ucapnya yang tidak enak pada Maura.


" Gpp kok uti, kalau memang uti mau tinggal satu kamar sama tante Zia. Maura tahu kok, pastinya akan capek kalau harus ujung ke ujung." ucap Maura.


" Eh rupanya ada Maura, maafin uti ya." ucapnya yang tidak enak pada Maura.


" Gpp uti, lagian uti kan memang masih sekolah. Jadi uti nggak bisa lama-lama di sini, uti pasti takut dimarahin sama gurunya uti kan." ucap Maura dengan membayangkan wajah kemarahan seorang guru.


" Iya, uti takut dimarahin sama guru uti. Dan bisa-bisa uti nggak naik kelas, kan nanti pengen secepatnya pindah ke dekat sini." ucap Maura dan Naura semakin tersenyum lebar.


" Uti mau pindah ke dekat sini?" tanya Maura.


" Uti dengar dengar di dekat sini ada universitas yang bagus, dan jurusan yang utu inginkan juga terkenal sangat bagus di sana. Rencananya sih selesai SMA uti mau nyambung ke sekolah itu, dan uti akan sempatkan waktu untuk saring bertemu dengan Maura." jelasnya dan kini Maura langsung memeluknya.