
Desi pun akhirnya mengajak Rangga dan semuanya untuk makan bersama, Rangga terharu saat mencicipi rasa masakan dari Desi. Ia tiba-tiba teringat dengan masakan dari Tiara, bunda dari Naura yang telah meninggal.
'' Lo kenapa Ga?'' tanya Tirta.
'' Gue tiba-tiba teringat sama masakan bunda Tiara.'' ucap Rangga.
'' Ya ampun gitu aja lah cengeng, memang masakan bunda Tiara itu mirip ya sama masakan istri gue.'' ucapan Tirta yang merasa penasaran.
'' Ya mirip lah mas, karena dulu itu tante Tiara sering ajari Gue dan Ara masak. bahkan sebenarnya yang lebih mirip sama masakan Tante Tiara itu, adalah masakannya Ara.'' jelas Desi.
'' Kalau itu nggak usah diraguin, kalau gue kangen sama masakan bunda Tiara. Gue selalu minta Ara buat masakin gue, jadi masakan Ara memang persis banget sama masakan bunda Tiara.'' jelas Rangga.
'' Wah gue jadi penasaran nih sama masakannya Ara, Ara bisa nggak masakin kakak!'' ucap Tirta dengan ekspresi memohon.
'' Boleh aja Kak, aman itu. Kakak mau makan apa biar Ara buatin.'' ucapnya dengan penuh semangat.
'' Gue tuh pengen rendang, tapi kalau bisa bumbunya jangan sama persis kayak masakan istri Gue. Gimana, bisa nggak?'' ucap Tirta memberikan tangan kepada Naura.
Naura hanya tersenyum, Tirta masih belum tau siapa Naura. Seorang koki yang pernah menjuarai kompetisi, dan bahkan tingkat dunia. Naura langsung menuju ke dapur untuk membuat pesanan dari Tirta. Tanpa pikir panjang ia langsung mengotak-atik isi dapur, ia mulai mencari bahan yang bisa digunakan untuk membuat rendang.
Selain itu ia juga mencari beberapa tempat untuk memodifikasi rasa masakannya, Naura seorang koki yang sangat menyukai eksperimen ini. Ia selalu suka dengan tantangan, dan baginya yang diberikan Tirta adalah sebuah tantangan yang cukup bagus.
Tidak membutuhkan waktu lama, masakan Naura pun akhirnya selesai. Ia pun segera menghidangkannya di meja makan, dan segera meminta Tirta untuk mencicipi masakannya itu. alangkah kagetnya Tirta, Ia tidak menyangka kalau masakan Naura bisa sebab itu. Dan ia menjadi merasa bersalah, karena sempat meremehkan adik iparnya itu.
'' Wau ini enak banget, rasa yang unik dan seperti belum pernah ada.'' ucapnya memuji.
'' Ya iyalah belum pernah ada, kan ini eksperimen pertama menggunakan bumbu ini.'' ucap Ara dan membuat Tirta tersedak, Ia tidak menyangka kalau masakan yang ia makan adalah hasil eksperimen. Yang artinya adalah baru pertama kali dibuat, dan belum pernah ada yang memakai rasa itu sendiri.
Tetapi rasa itu kini telah menyatu dengan lidahnya, dan ia menjadi tidak bisa berhenti makan. Kini ia menjadi mencintai masakan Naura, dan ia semakin ingin tahu siapa jatidiri Naura.
'' Ara Sebenarnya kamu siapa dek, rasa masakanmu sangat memukau. Dan bahkan ini adalah eksperimen pertama, sulit bagi orang biasa untuk melakukannya.'' tanya Tirta yang penasaran.
Rangga tertawa mendengar pertanyaan dari Tirta, padahal dulu ia sudah menceritakan siapa sebenarnya Naura. Tetapi kini Tirta malah menanyakan hal itu kembali, dan jujur saja ia menjadi kesal dengan Tirta.
'' Tirta, Lo pasti lupa ya?'' tanya Rangga.
'' Lupa apa?'' tanyanya.
'' Coba Lo ingat-ingat, apa yang pernah gue bilang dulu!'' perintah Rangga.
Tirta pun berusaha berpikir dengan keras, hingga akhirnya ia mengingat sesuatu. Dan ia pun mengutarakan maksudnya, walaupun ia masih belum yakin dengan apa yang akan ia jawab. Tetapi ia tetap bersua, agar Rangga tidak memandangnya dengan tatapan aneh.
'' gue ingat dulu Lo bilang punya Adik yang pernah ikut kompetisi memasak, apa jangan-jangan adik Lo Naura ya.'' ucap Tirta.
'' Yap bener banget, inilah koki kita Ara.'' ucap Rangga memuji Ara.
Ara tersenyum dengan lebar, semua yang tidak mengetahuinya merasa heran dan penasaran. Mereka menjadi ingin tau, sebenarnya siapa Naura. Naura selalu tempat misterius, dan itu yang menjadi penyebab utama orang penasaran dengannya.
'' Ara, sebenarnya ada berapa banyak lagi kejutan tentang mu?'' tanya Tania yang sudah bingung.
'' Ikuti saja alurnya, nanti kau juga akan tau kisahnya.'' ucap Naura.
'' Ya aku memang nggak enak, kan aku nggak bisa dimakan.'' ucap Naura.
'' Ara, sekarang uda bisa buat orang emosi ya dek.'' ucap Rangga.
'' Bukan gitu kak, cuma kalau identitas aku terbongkar semua kan jadi nggak seru.'' ucapnya dengan ekspresi manja.
'' Masuk akal juga, lagian keputusan ada di tangan Adek. kakak cuma bertugas mengingatkan aja, setelahnya adalah urusan Adek.'' ucap Rangga dengan lembut, dan Hany merinding melihat sikap Rangga yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah terlihat seperti saat ini.
'' Kalau begitu, kalian tunggu aja ya. Hehehe.'' ucap Naura kemudian pergi.
'' Ara.'' panggil Tania, kemudian mengejar Naura.
Hany yang kini tinggal sendiri, ia pun juga ikut mengejar Naura. Karena ia tidak mau di beri pertanyaan yang macam-macam oleh Rangga, tetapi dia kalah cepat. Rangga sudah memangilnya, dan mau tidak mau ia harus menghadap ke Rangga.
'' Hany kesini!'' perintah Rangga, dan Hany langsung menghadap ke Rangga.
'' Saya boleh tanya?'' ucapnya kembali.
'' Iya pak, silakan mau tanya apa?'' ucapnya dengan rasa takut.
'' Kamu bagaimana bisa kenal dengan Ara dan juga Tata?'' tanyanya.
'' Kebetulan saya satu sekolah dengan kak Naura, dan kak Tania pak.'' ucapnya.
'' Oh jadi begitu, kalau begitu saya boleh minta satu hal.'' ucap Rangga.
'' Boleh pak, tapi apa itu ya pak?'' tanyanya yang penasaran.
'' Tolong kamu rahasiakan tentang status Ara yang merupakan adik saya, kamu tau la dunia bisnis.'' ucapnya.
'' Iya pak saya tau, dan saya janji akan menjaga status kak Naura.'' ucapnya.
Naura dan Tania yang dari tadi melihat dari tangga, akhirnya mereka memutuskan untuk turun dan menemui Hany. Kemudian langsung mengajak Hany menuju kamar Tania.
'' Hany, Lo kemana si. Kami nungguin Lo dari tadi.'' ucap Tania.
'' Alhamdulillah, kak Naura dan kak Tania datang. Kalau nggak bisa di tanya yang macam-macam aku.'' batin Hany.
'' Kalian ini, lagian disini kan banyak orang. Kalau dia ngobrol sama kami kan nggak masalah sih.'' ucap Desi, untuk mengalihkan pembicaraan.
''Ya memang nggak apa-apa, paling dia di sidang sama kakak.'' ucap Tania, kemudian membawa Naura dan Hany pergi menuju kamarnya.
'' Dasar itu anak, uda besar pun masih kayak anak kecil.'' keluh Tirta.
'' Tapi kalau nggak ada mereka, rumah pasti sepi kan?'' ucapnya Rangga dan mendapatkan anggukan dari pasangan suami-isteri itu.
'' Bener banget yang Lo bilang Ga, tanpa ada mereka rumah ini seperti tanpa kehidupan. Seperti yang Lo tau, gue cuma tinggal berdua dengan istri gue. Jadi dengan keberadaan mereka, kami menjadi sangat bahagia.'' ucap Tirta menatap kepergian Naura dan Tania.